Alexa…
hari ini 23 may 2007, aku bangun siang karena kemaren memberimu beberapa jejak tulis ttg drama kehidupan dan business elite pemerintahan Russia. Saat ini kamu adalah warga negara Russia karena kamu dilahirkan disana. Aku langsung menyantap berita, tapi kubaca dulu ttg preview final Liga Champions antara Ac Milan dan Liverpool jam 1.30 dini hari nanti. Aku memilih dan bertaruh untuk milan karena impresive dengan seorang Kaka, dalam sejarahnya, klub sepakbola bisa mencapai puncak cukup hanya membutuhkan seorang maestro dan seniman bola seperti Maradona di Napoli atau Kaka di Ac Milan. Banyak maestro atau matahari malah mengakibatkan disharmoni…terjadi pada Real Madrid sejak 2002, mengumpulkan para bintang (Los Galacticos) tapi malah prestasi memudar. Para bintang cenderung egois dan selalu ingin menjadi magnet perhatian. Hal yg sama terjadi juga di Barcelona setelah memenangi Champion 2006, kebanyakan maestro malah menurunkan prestasinya, juga Chelsea, klub milik Mr. Roman. Sumber segala masalah tersebut adalah disharmoni atau banyaknya tarikan magnet yg berbeda beda. Cukup 1 maestro (magnet), cukup 1 conductur, dan mainkan iramanya.
Kembali ke cerita bobok, hari ini kamu bobok agak awal, dan sedikit menangis…kamu bobok setelah makan….
Berikut berita mengejutkanku:
Rabu, 23 Mei 2007,
Rusia Tolak Serahkan Terdakwa ke Inggris
MOSKOW
- Inggris kemarin resmi mengajukan dakwaan pembunuhan mantan agen badan
intelijen Rusia (dulu KGB, kini bernama FSS) Alexander Litvinenko
kepada pengusaha asal Rusia Andrei Lugovoi. Rusia juga diminta segera
mengekstradisi Lugovoi ke Inggris. Tapi, permintaan itu dengan tegas
ditolak Rusia.
Jubir Kejaksaan Agung Rusia Marina Gridneva
menegaskan tidak akan menyerahkan Lugovoi ke Inggris. “Sesuai pasal 61
konstitusi Rusia, warga negara Federasi Rusia tidak bisa diekstradisi
ke negara lain,” kata Gridneva. “Namun, berdasar konvensi kerja sama
kasus kriminal Eropa serta hukum kriminal Rusia, warga negara yang
melakukan aksi kriminal di negara lain bisa dimintai
pertanggungjawaban, tapi hanya di wilayah Rusia.”
Lugovoi
sendiri mengaku tidak bersalah. Dia menuding dakwaan Inggris yang
ditujukan kepadanya mengandung muatan politis. “Saya tidak membunuh
Litvinenko. Saya tidak memiliki kaitan dengan kematiannya. Saya juga
tidak percaya atas bukti yang diajukan pejabat hukum Inggris,” katanya
seperti yang dikutip RIA-Novosti. “Terlebih lagi, tidak ada motif
subjektif maupun objektif bagi saya untuk melakukan seperti yang
dituduhkan Inggris.”
Bahkan, pria yang terakhir bertemu
Litvinenko sebelum sakit itu balik mengancam. Lugovoi mengaku tahu
rahasia yang tersimpan di balik kematian Litvinenko. “Rahasia itu bakal
menjadi sensasi bagi publik Inggris. Rahasia itu juga akan mengubah
persepsi mengenai peristiwa yang menyangkut beberapa warga asal Rusia
di Inggris selama beberapa tahun terakhir,” katanya tanpa bersedia
menjelaskan detail rahasia tersebut. Dia menunggu saat yang tepat untuk
mengungkapkan semuanya.
Litvinenko dinyatakan meninggal pada
23 November tahun lalu di Inggris akibat keracunan polonium-210.
Menjelang ajal, pria 43 tahun itu mengatakan Presiden Vladimir Putin
berada di balik kematiannya. Namun, tuduhan itu dibantah pemerintah
Rusia. Kepolisian Inggris yang menyelidiki kasus tersebut menemukan
jejak yang mengarah pada diri Lugovoi. Pasalnya, dia berada di hotel
yang sama dengan Litvinenko sebelum keracunan polonium-210.
Pemerintah
Inggris sendiri ngotot agar Rusia bekerja sama dalam kasus yang mereka
anggap sangat serius itu. “Ini aksi kriminal yang sangat serius. Kami
harap Rusia mau bekerja sama membawa pelaku kejahatan itu ke depan
hukum Inggris,” kata Menlu Inggris Margaret Beckett. Mengenai penolakan
Rusia mengekstradisi Lugovoi, Inggris masih belum memutuskan tindakan
mereka selanjutnya.
“Yang penting proses hukum berjalan dulu.
Tapi, yang harus ditegaskan adalah tak seorang pun boleh meremehkan
keseriusan kami menjalankan kasus ini. Pembunuhan adalah pembunuhan.
Rusia memang penting bagi Inggris. Tapi, hukum internasional harus
dihargai. Kami akan memastikan hal itu berlangsung dalam kasus ini,”
ujar Jubir Kantor PM Inggris Tony Blair kemarin. (ap/afp/any)
===================================================
Entahlah, ini nasionalisme berlebihan, ataukah Nasionalisme ala Godfather Sisilia.
Yang jelas, siapapun yg membocorkan rahasia negara atau membelot jelas tidak terhormat, tapi menurutku tidak pantas mati, mungkin pertimbangan keamanan negara (intelijen) yg membuat kematian menjadi sangat urgent. Munir pembela Hak Asasi Manusia dari Indonesia juga mati diracun dalam penerbangan Garuda.
Perlindungan terhadap Lugovoi menggambarkan kuatnya Kremlin Connection, dimana mana di dunia ini telah terjadi patron2 seperti halnya patron Corleone di lingkup negara, Amerika Serikat pun tidak luput dari patron yahudinya. Hukum utama didalam patron seperti ini adalah kesetiaan, komitmen, loyalitas total. Presiden Putin dipilih oleh Yeltsin karena kelebihan ini, sehingga pantaslah jika dia menjadi sang Don Russia yang baru dan sudah menjadi kewajibannya melindungi anggotanya yang mengerjakan tugasnya dengan baik. Putin layak menjadi sang Don, karena dia sangat paham arti KEHORMATAN. Russia tidak pernah takut digertak oleh negara mana saja, AS memasang instalasi rudal di Eropa, Russia balik menggertak. Putin jugalah yang bisa membuat UU yg berlaku per april 2007 bahwa warga negara asing dibatasi /diperketat untuk bisa bekerja di Russia, sehingga menciptakan lapangan kerja bagi penduduk Russia. Itulah arti kehormatan negara, dimana di negaraku sudah hilang sejak 1968, sejak rezim Soekarno runtuh. Kehormatan apa namanya di negaraku kalau Presiden kedua Indonesia membungkuk menandatangani kesepakatan dengan IMF sedangkan Camdessus di belakang dengan sombong dan senyum kemenangan “sedakep” menyilangkan tangan. Apalagi saat ini, Presiden Indonesia masa ini adalah “good boy” dari Cow boy Bush.
Orang2 Sisilia mempunyai kehormatan “khusus”. Dongeng tentang Vito Corleone mengajarkan kehormatan seorang kepala keluarga. Kepala keluarga harus menjadi pelindung keluarga. Pengkhianatan keluarga bayarannya adalah mati.
Kembali cerita ttg Russia.
Inilah negara kuat otot dan jiwa tapi kalah oleh propaganda dari Amerika Serikat. Aku sempat membaca catatan pinggir dari Goenawan Mohammad di tempo, bahwa kala itu agen2 amerika mengirim informasi bahwa Russia sulit ditundukkan melalui senjata, dan sebenarnya tidak berniat untuk berperang, kuncinya hanya sabar saja sampai runtuh secara ideologi. Dan memang akhirnya hal itu terjadi, hal yang sangat menyedihkan ketika aku keliling negara CIS, di hotel2 kujumpai militer2 barat / NATO yg asyik menenggak bir. Negara CIS kaya minyak seperti Kazakhstan, tapi tidak punya uang untuk explorasi, akhirnya “dewa penolong” dari barat tersenyum menawarkan bantuan, meski di belakangnya terselip pistol cow boy.
Dulu waktu masih kuliah aku suka membaca di Bawah Bendera Revolusi-nya Soekarno yg mengilhami aku belajar lebih jauh tentang Leninisme. Aku sangat impresif dengan Lenin yang bisa menyatukan suatu negara dengan luas wilayah yang sangat besar. Ketahuilah kuberikan kamu nama “Alexa” karena aku impresive dengan Alexander the great yg mempunyai wilayah sampai Samarkand. Waktu itu aku lagi membaca ulang tentang Alexander, yang orang melayu bilang Iskandar, yg selalu ditemani nabi Khidir. Aku menonton film-nya ala sutradara barat.
Suatu hari kelak datanglah ke Moscow dan berdirilah didepan patung Lenin. Tataplah matanya sehingga kau mengerti bahwa kenapa orang itu bisa sampai ke tingkatan kehormatan yang paling tinggi.