Archive for August, 2008


Kudatuli, muda, Internet, dan Massa Actie…

Syukur Alhamdullilah kalau saat ini saya masih bisa menyaksikan matahari terbit dengan sehat…aku takjub dengan Internet yang menjadi keajaiban dunia paling revolusioner. Ternyata jejak rekamku ketika masih muda, dimana habis melalap Dibawah Bendera Revolusi Ir. Soekarno, masih bisa terlacak…dan saat ini menjadi memori manis-ku dan meyakinkanku bahwa semangat Bolshewik telah meracuniku sejak kuliah jauh sebelum puteriku yang sangat kusayangi harus separo  berdarah dari bangsa master bolshewik…

Aku mengusulkan revolusi karena aku memang lagi banyak baca politik, DBR, dan jelas melihat kesewenang-wenangan di dalam masyarakat Indonesia saat itu…

Saat itu dengan semangat mudaku tentu jauh dari rasa takut…dan dari lingkungan gerakan underground politik aku berproses…untuk membela ketidak adilan.

Saat itu radikalisme-ku tentu karena ikut dalam organisasi bawah tanah PIJAR, dimana aku mengelola websitenya, teman karibku adalah Christian Evert, dan pernah pula ketemu dengan aktivis PIJAR yang menggunakan nama samaran Bram Manuputty di Yogyakarta. Suatu ketika aku pernah baca kompas foto Christian Evert mendarat di jakarta sambil dielukan karena telah dilepaskan dari penjara oleh rezim Burma. Evert sangat pro Aung San Sukyi, aktivis perempuan yang ditahan rumah oleh rezim Burma bertahun-tahun.

http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1996/07/28/0091.html

Issues: Law & Liberty (r)

From: apakabar@clark.net
Date: Sun Jul 28 1996 - 07:13:00 EDT


From: John MacDougall <apakabar@clark.net>

Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id KAA27055 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sun, 28 Jul 1996 10:09:32 -0400 (EDT)

Forwarded message:

From owner-indonesia-l@igc.org Sun Jul 28 04:24 EDT 1996

Date: Sun, 28 Jul 1996 16:22:24 +1000 (EST)

From: apakabar@clark.net

Message-Id: <Pine.HPP.3.91.960728162053.22691H@cheops.anu.edu.au>

Mime-Version: 1.0

Subject: IN: Usulan revolusi lagi

To: apakabar@clark.net

X-Sender: vklinken@cheops.anu.edu.au

Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org

Precedence: bulk

Content-Type: TEXT/PLAIN; charset=US-ASCII

Content-Length: 4034

INDONESIA-L

From: AWB SETIAWAN <tedchok@yogya.wasantara.net.id>

To: “‘apakabar@clark.net‘” <apakabar@clark.net>

Subject: Usulan revolusi lagi

Date: Sun, 28 Jul 1996 01:01:21 +-700

KAGET

Jam 19.00 saat berita nasional menyiarkan penyerbuan kantor DPP PDI, =

saya berada di Solo, dirumah teman saya. Saya benar-benar kaget melihat =

apa yg saya lihat di televisi. Batu-batu beterbangan, bus yg terbakar, =

bank yg dilempari batu sehingga kaca-kacanya pecah, dan kerusuhan =

lainnya. Selanjutnya penyiar berita mengatakan aksi perusakan itu =

dilakukan oleh massa pro Megawati. Singkatnya apa yg saya lihat di =

televisi adalah versi PEMERINTAH.=20

Beberapa saat kemudian telepon rumah teman saya berdering beberapa =

kali. Pada intinya, warga PDI solo malam itu juga bersiap-siap untuk ke =

Jakarta dalam rangka memperkuat barisan pro Megawati atau “menyemarakkan =

aksi”.=20

Sampai  disini, saya memutuskan untuk segera pulang ke Yogya untuk =

mencari informasi yg lebih  balance di Internet. Sampai di Yogya, =

saudara saya yg menunggu rumah mengatakan bahwa ada beberapa telepon =

dari teman saya. Beberapa saat telepon berdering lagi, dan pada intinya =

teman yg ada di Yogya, mengajak untuk segera berangkat ke Jakarta, =

sedangkan teman yg ada di Jember, meminta informasi lewat internet, =

berita ataupun kabar yg berbeda versi dng pemerintah.

Sejak itu dipikiran saya timbul berbagai pertanyaan dan pikiran. Namun =

yg jelas saya dapat menarik kesimpulan bahwa TINDAKAN MILITER TERNYATA =

MALAH MENGUNDANG MASSA PDI DAN YG PRO DEMOKRASI YG BERASAL DARI DAERAH =

UNTUK IKUT BERJUANG DNG KAWANNYA YG ADA DI JAKARTA.

Apakah ini salah satu kesalahan penanganan berikutnya yg dilakukan oleh =

pemerintah thd PDI ?

Yang jelas, perkembangan dari kasus ini sangat menarik dan akan =

membuktikan pertanyaan saya. Yang lebih menarik adalah sedikit dialog saya

dng beberapa massa PDI yg = ada di Solo. Mereka sudah bertekad bulat

berangkat ke Jakarta, bahkan resiko cedera = sudah tak dihiraukan lagi.

“Ayo mas, pokoknya kita harus ke Jakarta malam ini, nanti kalau cedera =

kita akan dijenguk mbak Mega, jangan takut” kata seorang warga PDI solo.

Saya sempat bikin humor dng pertanyaan saya “Nanti kalau yg menjenguk =

Pak Soerjadi ?” “Biarpun luka akan saya bantai orang itu” seru yg lain

disusul sumpah = serapah bahwa apabila Soerjadi ke Solo akan dikejar

sampai dapat.

Setelah beberapa kali merenung ttg keberanian dan kebulatan tekad serta =

emosi yg tinggi hingga cenderung destruktif warga PDI dan gerakan =

pro-demokrasi baik yg ada di daerah dan Jakarta, sempat terlintas dalam =

pikiran saya ttg munculnya revolusi. Sebelumnya saya sendiri tidak =

setuju akan halnya revolusi, namun saya sempat mendengar selentingan =

dari orang tua yg berharap munculnya revolusi. Saya pikir orang jauh =

lebih tua saja berani thd munculnya revolusi, maka saya yg masih muda yg =

sebenarnya bisa berperan thd revolusi kenapa ragu-ragu. Dasar pemikiran =

saya lainnya adalah perusakan-perusakan yg terjadi di Jakarta. =

Seandainya saja perusakan itu berkembang luas dng didukung massa di =

daerah, kenapa tidak dilanjutkan saja dng adanya suatu revolusi, toh =

tanpa adanya revolusipun kerusakan akan berkembang luas dan keadaan =

tetap seperti semula, penuh ketidakadilan. Meskipun revolusi tidak =

menjamin perbaikan ataupun keadilan, namun apa salahnya kita “berjudi”" =

daripada keadaan tetap penuh dng ketidakadilan. Yang jelas tanpa adanya =

revolusi kita hanya satu keadaan, yaitu TERTINDAS, sedangkan dng =

munculnya revolusi muncul dua pilihan, TETAP TERTINDAS ataupun MERDEKA.=20

Yang jelas, kita tetap harus mengikuti dan menunggu perkembangan kasus =

PDI selanjutnya, namun bila benar-benar massa PDI ataupun gerakan =

pro-demokrasi di daerah, maksud saya didaerah lain di Indonesia sampai =

diluar Jawa yg ternyata memadati JAKARTA, dan terjadi kerusakan yg =

meluas entah dilakukan oleh pihak mana, maka saya mengusulkan adanya =

REVOLUSI.

SALAM dari YOGYA

WAWAN

Yogya, Minggu-28 Juli, 00:30 malam.

Djakarta, dua puluh agustus dua ribu delapan: Happy Birthday Papa dan “Soto Pak Sadi” Bianca Solaiman…

“Happy Birthday papa”
kalimat dengan suara anak kecil di telephone  bernomor  +74212514091
ya …belum pernah ada kebahagiaan selain Alexa mengucapkan “happy birthday papa” dengan suara berteriak melengking…khas alexa yang over energy selalu berteriak teriak dan berlari lari sehingga menyusahkan neneknya Yastrebova Maria dan ibunya Kuznetsova Diana…
Mom, sepasibo telah membesarkan Alexa dan telah mengajarkan Alexa bahasa Russia yang sangat fasih…
Sesungguhnya Alexa belum bisa bahasa Inggris, maklum umurnya masih 2 taon, namun di tanggal keramat 20 agustus 2008 dia tiba2 bisa berbahasa Inggris at least “happy birthday papa” tak lain karena ibunya mengajarkan terlebih dahulu

Saat itu aku duduk di monas sambil menunggu Pak Sunu, seorang kawan dari Solo yang sangat saya hormati, karena karakternya yang andhap asor, membeli tiket kereta Argo wilis Jakarta - Solo, dimana dari jam 4 sore sampai jam 6 petang beliau antri dan membelikan tiket untuk saya. Ya saat itu memang kereta penuh, bahkan tiket ludes dan kita membeli tiket dari gerbong extended 8, karena 1 september 2008 akan memasuki bulan ramadhan dan kebiasaan “nyadran” di jawa masih kental sehingga tiba2 saja umat islam jawa harus pulang untuk nyekar leluhurnya

Masalah nyekar dan leluhur, rabu tanggal 13 agustus 2008 aku flight dari solo ke jakarta by Garuda yg muahalnya udah minta ampun…ke jakarta…dan 15 Agustus aku ke bandung ke pemakaman Pasteur Bandung untuk menghadiri pemakaman dari bapak Dharma Solaiman, ayahanda bapak Nicolaas Solaiman. Jam 9 pagi aku sudah sampai Panduk bersama Dhavan keponakanku yang lagi suka pacaran. Pertama hal yang mengejutkanku adalah aku menemukan makam Belanda yang sangat tertata rapi dan Indah disitu yang disertai bendera Belanda masih berkibar didalamnya. Hal ini tentu sangat menarik perhatianku karena 3 hari sebelumnya aku habis melalap novell Remy Silado berjudul Parijs van Java, yang bercerita diselingi dengan fakta sejarah tentang Belanda di Bandung 1920-1930. Ceritanya indah tentang keimanan dan keteguhan hati Gestruida Van Vein…dan satu catatan kecilku bahwa Belanda mempermainkan  takhyul untuk melemahkan inlander. Hal ini satu tujuan dengan Ibrahim datuk Tan Malaka di Madilog-nya yang ingin mengenyahkan takhyul  yang menjangkiti rakyat Indonesia…tidak heran karena sang  datuk  belajar di Belanda dan keliling dunia bahkan  ikut menghadiri komintern di Moscow yang langsung dipimpin  sang maestro  bolshewik Vladimir Ilyich Lenin…

Kembali ke pemakaman (makam adalah untuk menghormati leluhur dan mengingat kebaikan, so kelak aku ingin dimakamkan di atau dimakamku tertulis http://www.friendster.com/wawanalexa)…dengan khidmat aku mengikutinya ….Opa Dharma Solaiman, 2002 aku menghadiri ulang taonnya di jakarta di rumah makan manado…sebenarnya Opa akan berulang taon ke 95 namun sudah keburu menghadap Tuhan Allah.

Di pemakaman tidak bisa kupungkiri, saat ini entah darimana, aku mulai merasa bisa membaca pikiran orang, dan juga sering mendapat “sesuatu kesadaran” yang tiba2 muncul…saat itu aku tiba2 disadarkan bahwa pada taon 2002 aku telah tertipu oleh seorang wanita yang kukasihi yang pamit ke Jakarta akan merawat opa…tiba2 kesadaran itu muncul bahwa tidaklah mungkin dia ke jakarta hanya seolah-olah hanya akan merawat opa, namun pastilah ada tujuan lain…dan sepertinya betul…tapi sudah tidak berarti apa2 lagi bagiku…hanya semacam pembaruan kesadaran…tidaklah lebih…karena cintaku untuk manusia terfokus ke Alexa and family…

Di pemakaman yang tidak terlalu panas disertai iklim sejuk bandung…untuk pertama kalinya sejak 2002 aku melihat Pak Nicholaas Solaiman…yang lama meninggalkan tanah air dan tinggal di Frankfurt Jerman…bahkan sudah berwarga negara Jerman. Beliau tidak berubah…baik dari fisiknya dan kehangatan jiwanya…beliau menunjukkanku kesan egaliter, murah hati, dan multikultur. Beliau menikah dengan bu Margret yang aseli dan berwarga negara jerman. Beliau mempunyai seorang puteri cantik nan eksotis bernama Bianca Solaiman. Bianca aku terakhir kali melihatnya sebelum menulis ini (semoga kita bertemu lagi tapi kau belajar bahasa inggris yah) di Surabaya …waktu itu Pak Nico, Bu Margret dan Bianca datang dan menginap di Novotel Surabaya…aku ingat begitu lucunya Bianca mengucapkan “Soto Pak Sadi” lalu tertawa ketika makan di soto pak sadi Surabaya…

Tentang Bianca…aku googling dan menemukan fotonya hingga kupasang di koleksi foto album friendsterku…sungguh luar biasa…aku menemukannya di situs Eintracht Frankfurt….ooooo…dia pemain inti SSB wanita U16 Eintracht Frankfurt……ayo Bianca teruskan perjuangan menjadi pemain utama/senior Eintracht Frankfurt dan aku yakin Kamu BISA…Bianca juga menjadi wanita keturunan Indonesia pertama dan satu satunya yang ikut mengikuti pemain senior pada world cup 2006 di Jerman…

Aku menyukai sepak bola, saat ini idolaku  Ballack…tak  lain karena kemampuannya “merubah keadaan” atau “membalik tekanan”. Efek aura ballack luar biasa…energi-nya mampu membangkitkan permainan dan kawan sepermainannya seperti bastian schwansteneiger, podolski, klose meledak….. Ballack selalu meledak2 seperti bomb, mukanya masih meninggalkan kekuatan aria.

Kembali ke dua puluh agustus 2008, saat itu aku duduk di dekat monas sambil melihat monas, membuang kejenuhan antri tiket yang sesak…umurku sudah 34 tahun hari itu, begitu banyak kejadian senang dan sedih…apalagi apabila dibandingkan dengan perayaan ke 30 tahun ulang tahunku …tempatnya tidak jauh berbeda…sama2 di jakarta kota, namun saat itu pesta meriah, banyak para mitra bisnis, kenalan datang, dan juga tidak ketinggalan banyak sekali wanita2 cantik berada di VIP room yg kusewa, saat itu beberapa teman dekat menyebutku “emir kuwait” tidak heran jika banyak “mooi” mendatangi ruanganku. Seperti biasanya …aku tidak mau special bersama 1 orang “mooi”, aku lebih memilih berada di tengah2 mereka, memotong kue dan meniup lilin yang diberikan club terhebat saat itu yang berada di Jakarta Kota kepadaku. Selama hidupku ini menjadi pesta termewah dan termahal…termewah karena dirayakan di club terhebat di Jakarta, relasi datang dari berbagai mancanegara… termahal karena memang aku harus membayar minuman dan makanan yang dipesan yang akhirnya sangat mahal…puluhan juta…untuk ukuranku yang juga suka membaca gerakan “proletar”-nya Lenin tentu menjadi angka yg fantastis…

Namun duapuluh agustus 2008 aku merayakannya dengan sangat sederhana, hanya memesan 2 teh hangat dan 2 jus bersama Pak Sunu seorang “senior” yang berilmu tinggi, aku mengirim sms ke Vincent Liong yang di acara Kick Andy Metro TV konon ditampilkan sebagai anak Indigo…tapi tidak dibalas…baru aku tahu besoknya …ternyata dia diare dan di Rumah Sakit, info ini kudapatkan dari “guru”-nya yang kita juluki sebagai nabi Anton. Nabi Anton adalah seorang yang kalem…motivator…dan tentu kalo sampe Vincent menyebutnya guru…tentu ilmunya juga tinggi.

Kontras antara duapuluh agustus 2004 dan 2008, tapi saya pastikan, saya berani bersumpah…kebahagiaan dua puluh agustus 2008 jauh lebih bermakna, lebih berarti daripada 2004. Kebahagiaan itu terutama terletak di suara kecil melengking berteriak “happy birthday papaaaaaaaaaaaaaaaa” Alexa mau belajar bahasa inggris untuk mengucapkan itu…..very very exciting….dan diskusi-ku dengan Pak Sunu membawa banyak inspirasi baru…

2004 alexa belum ada..belum juga dibikin…aku…papamu tidak lepas dari glamour…aku sendiri selalu tampil khas sederhana…hanya pesta yang kita adakan sungguh “borjuis” …level kecilnya Marcus von Anhalt …The prince of Germany…namun percayalah….papamu ditengah2 banyak wanita tidak pernah macam2…aku memang bukan penyuka gonta ganti wanita…

dua puluh agustus 2008 menatap monas juga mengingatkanku keluar dari tempat tinggal apartemen dekat monas pada pagi hari, banyak orang berolah raga di hari minggu…hidup yang bersahaja…

Begitu bahagianya aku di duapuluh agustus 2008, pagi hari menerima ucapan dari Bapakku HM Sardjono, dan Ibuku Hajjah Sumarsih…via telpon ke bandung, lalu dari Dhafan, Davin, Sofie keponakanku, dan juga Ruli Ch Basarah kakak iparku, dan Naning Istiningsih kakakku nomor 4, kakakku Lina tri Suhesti yang tinggal di Persada Kemala bekasi near from Jakarta…juga mencariku tapi tidak ketemu…karena aku keburu ke jakarta…sorry aku lupa telpon untuk berterima kasih karena hari itu aku cukup sibuk….meeting di chilies sarinah thamrin…lalu ke gambir…

Bahagiaku lebih lengkap mendengar Alexa yang ngomong nyerocos Russia tanpa henti di telepon khas dengan berteriak logat russia…bahwa dia sangat bahagia akan sekolah…dia sudah ingin sekolah…artinya … aku harus semakin berhemat untuk membayar sekolahnya …yang untuk ukuran disini sangat mahal…tapi majulah terus Alexa…aku akan melakukan kerja halal  apapun untuk pendidikanmu…sehingga suatu saat kamu bisa ke Leningrad/Petersbug atau datang ke Moscow untuk meninju patung Lenin…dan berkata “Oh Lenin…Bolshewik-mu saat itu memang menggemparkan dunia bahkan mengguncang Indonesia…Tan Malaka dan Ir Soekarno Presiden RI 1 sangat terinspirasi Bolshewikmu…tapi jutaan orang menderita karena Bolshewikmu juga, tanah air papaku hingga 2008 hanya merdeka di slogan…tapi sesungguhnya belum merdeka karena kemiskinan sangat merajalela, namun bukanlah Bolshewikmu yang menjadi jalan keluar kemiskinan Indonesia di tahun 2008″