Kudatuli, muda, Internet, dan Massa Actie…
Syukur Alhamdullilah kalau saat ini saya masih bisa menyaksikan matahari terbit dengan sehat…aku takjub dengan Internet yang menjadi keajaiban dunia paling revolusioner. Ternyata jejak rekamku ketika masih muda, dimana habis melalap Dibawah Bendera Revolusi Ir. Soekarno, masih bisa terlacak…dan saat ini menjadi memori manis-ku dan meyakinkanku bahwa semangat Bolshewik telah meracuniku sejak kuliah jauh sebelum puteriku yang sangat kusayangi harus separo berdarah dari bangsa master bolshewik…
Aku mengusulkan revolusi karena aku memang lagi banyak baca politik, DBR, dan jelas melihat kesewenang-wenangan di dalam masyarakat Indonesia saat itu…
Saat itu dengan semangat mudaku tentu jauh dari rasa takut…dan dari lingkungan gerakan underground politik aku berproses…untuk membela ketidak adilan.
Saat itu radikalisme-ku tentu karena ikut dalam organisasi bawah tanah PIJAR, dimana aku mengelola websitenya, teman karibku adalah Christian Evert, dan pernah pula ketemu dengan aktivis PIJAR yang menggunakan nama samaran Bram Manuputty di Yogyakarta. Suatu ketika aku pernah baca kompas foto Christian Evert mendarat di jakarta sambil dielukan karena telah dilepaskan dari penjara oleh rezim Burma. Evert sangat pro Aung San Sukyi, aktivis perempuan yang ditahan rumah oleh rezim Burma bertahun-tahun.
http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1996/07/28/0091.html
Issues: Law & Liberty (r)
From: apakabar@clark.net
Date: Sun Jul 28 1996 - 07:13:00 EDT
From: John MacDougall <apakabar@clark.net>
Received: (from apakabar@localhost) by explorer2.clark.net (8.7.1/8.7.1) id KAA27055 for reg.indonesia@conf.igc.apc.org; Sun, 28 Jul 1996 10:09:32 -0400 (EDT)
Forwarded message:
From owner-indonesia-l@igc.org Sun Jul 28 04:24 EDT 1996
Date: Sun, 28 Jul 1996 16:22:24 +1000 (EST)
From: apakabar@clark.net
Message-Id: <Pine.HPP.3.91.960728162053.22691H@cheops.anu.edu.au>
Mime-Version: 1.0
Subject: IN: Usulan revolusi lagi
X-Sender: vklinken@cheops.anu.edu.au
Sender: owner-indonesia-l@igc.apc.org
Precedence: bulk
Content-Type: TEXT/PLAIN; charset=US-ASCII
Content-Length: 4034
INDONESIA-L
From: AWB SETIAWAN <tedchok@yogya.wasantara.net.id>
To: “‘apakabar@clark.net‘” <apakabar@clark.net>
Subject: Usulan revolusi lagi
Date: Sun, 28 Jul 1996 01:01:21 +-700
KAGET
Jam 19.00 saat berita nasional menyiarkan penyerbuan kantor DPP PDI, =
saya berada di Solo, dirumah teman saya. Saya benar-benar kaget melihat =
apa yg saya lihat di televisi. Batu-batu beterbangan, bus yg terbakar, =
bank yg dilempari batu sehingga kaca-kacanya pecah, dan kerusuhan =
lainnya. Selanjutnya penyiar berita mengatakan aksi perusakan itu =
dilakukan oleh massa pro Megawati. Singkatnya apa yg saya lihat di =
televisi adalah versi PEMERINTAH.=20
Beberapa saat kemudian telepon rumah teman saya berdering beberapa =
kali. Pada intinya, warga PDI solo malam itu juga bersiap-siap untuk ke =
Jakarta dalam rangka memperkuat barisan pro Megawati atau “menyemarakkan =
aksi”.=20
Sampai disini, saya memutuskan untuk segera pulang ke Yogya untuk =
mencari informasi yg lebih balance di Internet. Sampai di Yogya, =
saudara saya yg menunggu rumah mengatakan bahwa ada beberapa telepon =
dari teman saya. Beberapa saat telepon berdering lagi, dan pada intinya =
teman yg ada di Yogya, mengajak untuk segera berangkat ke Jakarta, =
sedangkan teman yg ada di Jember, meminta informasi lewat internet, =
berita ataupun kabar yg berbeda versi dng pemerintah.
Sejak itu dipikiran saya timbul berbagai pertanyaan dan pikiran. Namun =
yg jelas saya dapat menarik kesimpulan bahwa TINDAKAN MILITER TERNYATA =
MALAH MENGUNDANG MASSA PDI DAN YG PRO DEMOKRASI YG BERASAL DARI DAERAH =
UNTUK IKUT BERJUANG DNG KAWANNYA YG ADA DI JAKARTA.
Apakah ini salah satu kesalahan penanganan berikutnya yg dilakukan oleh =
pemerintah thd PDI ?
Yang jelas, perkembangan dari kasus ini sangat menarik dan akan =
membuktikan pertanyaan saya. Yang lebih menarik adalah sedikit dialog saya
dng beberapa massa PDI yg = ada di Solo. Mereka sudah bertekad bulat
berangkat ke Jakarta, bahkan resiko cedera = sudah tak dihiraukan lagi.
“Ayo mas, pokoknya kita harus ke Jakarta malam ini, nanti kalau cedera =
kita akan dijenguk mbak Mega, jangan takut” kata seorang warga PDI solo.
Saya sempat bikin humor dng pertanyaan saya “Nanti kalau yg menjenguk =
Pak Soerjadi ?” “Biarpun luka akan saya bantai orang itu” seru yg lain
disusul sumpah = serapah bahwa apabila Soerjadi ke Solo akan dikejar
sampai dapat.
Setelah beberapa kali merenung ttg keberanian dan kebulatan tekad serta =
emosi yg tinggi hingga cenderung destruktif warga PDI dan gerakan =
pro-demokrasi baik yg ada di daerah dan Jakarta, sempat terlintas dalam =
pikiran saya ttg munculnya revolusi. Sebelumnya saya sendiri tidak =
setuju akan halnya revolusi, namun saya sempat mendengar selentingan =
dari orang tua yg berharap munculnya revolusi. Saya pikir orang jauh =
lebih tua saja berani thd munculnya revolusi, maka saya yg masih muda yg =
sebenarnya bisa berperan thd revolusi kenapa ragu-ragu. Dasar pemikiran =
saya lainnya adalah perusakan-perusakan yg terjadi di Jakarta. =
Seandainya saja perusakan itu berkembang luas dng didukung massa di =
daerah, kenapa tidak dilanjutkan saja dng adanya suatu revolusi, toh =
tanpa adanya revolusipun kerusakan akan berkembang luas dan keadaan =
tetap seperti semula, penuh ketidakadilan. Meskipun revolusi tidak =
menjamin perbaikan ataupun keadilan, namun apa salahnya kita “berjudi”" =
daripada keadaan tetap penuh dng ketidakadilan. Yang jelas tanpa adanya =
revolusi kita hanya satu keadaan, yaitu TERTINDAS, sedangkan dng =
munculnya revolusi muncul dua pilihan, TETAP TERTINDAS ataupun MERDEKA.=20
Yang jelas, kita tetap harus mengikuti dan menunggu perkembangan kasus =
PDI selanjutnya, namun bila benar-benar massa PDI ataupun gerakan =
pro-demokrasi di daerah, maksud saya didaerah lain di Indonesia sampai =
diluar Jawa yg ternyata memadati JAKARTA, dan terjadi kerusakan yg =
meluas entah dilakukan oleh pihak mana, maka saya mengusulkan adanya =
REVOLUSI.
SALAM dari YOGYA
WAWAN
Yogya, Minggu-28 Juli, 00:30 malam.