Archive for September, 2008


Mendadak Atheis…thanks God…

Dengan tulisan ini, saya ingin berbagi rasa dan pengalaman, serta pengetahuan yang saya dapat sampai detik ini. Pengalaman unik yang saya rasakan tentunya sangat mempengaruhi mindset saya disamping buku2 yang saya baca dari marx, tan malaka, sigmund freud, charles darwin, filsafat agama, History of God, dlsb.

Saat ini saya berdiskusi tentang atheis dan theis dalam suatu blog, untuk itu saya akan mencoba memaparkannya menurut pandangan subyektive saya.

Memilih menjadi atheis dan theis tentunya bebas, namun akan lebih bijaksana kalau disadari resiko2 dari pilihan2 tsb. Menjadi Atheis di Indonesia rasanya tidak akan bisa sepenuhnya, mengingat budaya Indonesia sangat dipengaruhi budaya para dewa, takhyul, dan bermacam2 aliran dan agama yang mengalir.

Tentunya hal ini akan berbeda kalau PKI sukses dalam pemberontakan ala bolshewiknya, yang saya maksud adalah pemberontakan PKI melawan Belanda.

Mari berimajinasi kalau saja pemberontakan itu berhasil. Tokoh2 PKI sebenarnya orang2 Indonesia yang sangat mengagumi pemikiran Marxisme dan gerakan perjuangan Bolshewik Russia. Tan Malaka dalam karyanya berjudul “Madilog” bisa menggambarkan bahwa dia sungguh mempunyai pemikiran rational yang sangat maju, mengajak berkontruksi pikiran yang rational dan menjauhkan takhyul. Agama dalam hal ini merupakan bagiannya, betapa tidak agama penuh diceritakan peristiwa2 mistis yang tidak bisa dibuktikan secara science/ilmu bukti. So jika PKI sukses merebut kemerdekaan absolut dari belanda maka PKI akan menguasai Indonesia, sehingga budaya takhyul akan dilenyapkan. Namun kekerasan yang dibawanya juga musti dikendurkan dan bahkan harus dihilangkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa tokoh2 kiri Indonesia adalah tokoh2 kemerdekaan yg cerdas, dari Tan, Syahrir, bahkan Ir. Soekarno sendiri mengklaim dirinya marxist (dibawah bendera revolusi)

Saya memeluk agama Islam, dan dibesarkan di jawa tengah, dekat dengan wilayah Syech Siti Jenar, sehingga tidak mengherankan kalau membaca serat Gatholoco menjadi sangat menarik dan lebih mudah memahaminya. Namun setelah mencoba merekontruksi kembali arti Islam, saya sepakat bahwa Islam adalah Al Quran dan Hadist serta tata cara yang Muhammad ajarkan, sehingga saya sendiri akhirnya boleh dikatakan tereliminasi dari term Islam. Sebelumnya saya lebih tertarik kepada hakekat, dan menjalani tarekat namun sangat malas ber-syariat, dalam mempelajari Al-Quran dan memahaminya pun ada istilah Eksoteris (tekstual) dan esoteris (tarekat, hakekat, marifat) saya selalu menafsirkannya secara esoteris dengan beribu makna, namun saya yakin yang dimaksud Al Quran itu tidaklah esoteris, karena tidak mungkin seorang messenger/pembawa pesan membawakan pesan yang rumit untuk dipahami, sehingga esoteris menurut saya hanyalah alasan berlindung dengan nama Islam. Dalam berbagai sumber, tokoh idola saya, Al Hallaj, Abdul Kadir Jaelani, Rumi, yang bertasawuf-pun dianggap mencampurkan berbagai aliran diluar Islam, so sebenarnya saya setuju saja kalau Ahmadiyah tidak sesuai Al-Quran, hadist Nabi, dan tata cara Muhammad, maka lebih baik tidak menyebut namanya sebagai Islam. Memang kenapa kalau harus tereliminasi dari Islam? Takut kehilangan pemeluknya ?

Kembali ke pandangan saya thd atheis ala Indonesia. Indonesia mempunyai budaya beragama yang bermacam-macam, saya menyebut tanah jawa adalah tanah tempat banyak menemukan Tuhan, karena demikianlah adanya di tanah jawa ini banyak sekali reminder kita thd Tuhan. Saya yakin orang Indonesia sejak kecil diajarkan tentang Tuhan, so kalau mendadak atheis, kemungkinan berasal dari rasa frustasinya ketika menjadi rational melihat nilai2 agama yg diajarkannya ternyata tidak sesuai dengan logika. Hal ini tentu berbeda jika anda lahir dan dibesarkan di Russia, sejak kecil mendengar kata Tuhan hampir tidak pernah dan sangat jarang reminder keTuhanan disana. Begitu sejak kecil mendengar kata Tuhan, Allah, Jesus, Mohammad, Siddharta, Buddha, Sang Hyang Widhi, maka apalagi kalau anda tinggal di Indonesia, alam bawah sadar anda digetarkan oleh lingkungan sekitar anda thd kata2 itu tadi, sehingga suatu saat ketika anda lemah maka anda bisa saja merindukan kata2 itu tadi…meski sebenarnya itu juga ilusi. Lalu bagaimana resiko menjadi atheis? Atheis tentunya rasional karena dari mindset rasional itulah atheis berasal. Lantaran tidak ada yang dipercayai maka akan mempercayai dirinya sendiri. Hal ini akan beresiko ketika dirinya tidak mampu mengukur sesuatu yg tidak pasti, sehingga menimbulkan stress, dan stress adalah energi negative yg menghancurkan tubuh material. Orang yang beragama cenderung menyerahkan sesuatu yg sudah terjadi, sedang, dan akan terjadi menjadi bagian takdir, sehingga Tuhanlah yg akan menjadi manager dari takdir tsb, dan setiap kesalahan akan menjadi bagian dari takdir Tuhan, dengan demikian secara psikologi perasaan yg tidak pernah bersalah akan membangkitkan energi positive dan perasaan salah akan membangkitkan energi negative.

Bagi saya tidaklah menjadi masalah dikatakan Islam, tidak Islam atau bahkan dianggap tidak beragama. Toh itu hanya label, yang boleh saya gunakan sesuai waktu dan kepentingan. Hakekat dari hidup adalah kebahagiaan. Label hanyalah kulit luar dari hati bahagia tsb. Bersedih pun tiada guna kalau anda memahami hakekat hidup. Mari berusaha menyikapi hidup secara cerdas berdasar hukum alam dan hakekatnya.

Hidup didunia ini tentunya terikat hukum alam, berat Anda di bumi mungkin 60 kg, lain halnya kalau anda di bulan maka berat anda akan menjadi 1/6 berat ketika di bumi. Itulah yang namanya hukum alam, untuk itu perhatikan hukum alam secara baik2 agar Anda bisa menyikapi hidup dengan tepat. Di bumi ini menurut charles darwin, mahluk hidup sudah kekurangan pangan, sehingga berebut untuk mendapat pangan. Manusia dalam berebut pangan untuk hidup dengan mahluk lainnya mengandalkan akal, apakah bisa tanpa akal manusia bisa hidup dengan harimau ? Pasti akan kalah dalam berebut pangan dan musnah. Namun dengan akal manusia bisa memusnahkan mahluk lain untuk berebut pangan, so poinnya jelas…akal digunakan untuk hidup di bumi. Menurut einstein bumi terikat dimensi tempat dan waktu, kecelakaan adalah sama angkanya dari dimensi tempat dan waktu. Setiap detik dimensi waktu berubah, so poin kedua adalah perubahan itu adalah sesuatu yg pasti tiap detik.

Menurut sigmund freud tokoh psikoanalisis, manusia dikendalikan oleh impuls2 di otaknya yang berubah2 tiap detik. Perubahan2 ini membawa energi,baik positive maupun negative.

So hukum alamnya manusia adalah, pemikirannya bisa berubah2 tiap detik, tergantung kondisi yg memicu dari luar, dan kondisi internal yang dipengaruhi oleh data2 yg disimpan dalam memory baik memory alam sadar dan bawah sadarnya. Energi negative hanyalah akan menghancurkan sistem tubuh kita, sehingga akan lebih baik kita dituntut untuk membangkitkan energi positive selalu. Inilah intinya. Cara untuk membangkitkannya bisa berubah2 sesuai keadaan luar dan dalam.

So bagi saya, menggunakan mindset yg tepat adalah seni membangkitkan energi positive. Di suatu saat saya bisa saja mempercayai Islam, karena saya membutuhkannya untuk membangkitkan energi positive, bisa saja saya memasang mindset kristen dalam pergaulan, karena mindsetnya saat ini diakui sebagai mindset terbaik dalam bergaul, karena mayoritas menggunakannya.

Oh ya, sigmund freud juga menjelaskan bahwa yang namanya wajar adalah tata cara yang digunakan oleh mayoritas orang, dan tata cara ini menurut hukum alam akan berubah ubah. Tidak wajar, tidak normal karena bukanlah tata cara yg digunakan oleh 90% atau lebih warga di dunia, so bagaimana menyikapi hidup menurut saya ???

Sederhana saja, hakekat hidup adalah mempertahankan diri. Untuk bisa mempertahankan diri tentunya ya ikut aliran mayoritas atau mainstream. Kalau anda menentangnya maka membutuhkan energi yg besar. Jesus atau dalam Islam disebut nabi Isa tentunya contoh yang melawan mainstream sehingga hidupnya-pun berakhir tragis, namun menjadi martir, demikian juga Muhammad, yang saya baca dari kisah2 dan hadist juga menderita dalam perjalanan hidupnya, bahkan menjelang ajal, Syech siti jenar juga tragis, demikian juga Al Hallaj karena menentang arus demi mempertahankan pendapatnya. Masalah Muhammad mungkin akan ada yg protes bagaimana dia menderita ? Saya jawab pasti, karena menjadi messenger apakah tugas yang ringan??? Tentunya berat menjawab permasalahan tiap warga yg datang kepadanya, harus berperang, dalam jamuan makan di peperangan khaibar pun harus terkena racun yg disajikan dari daging kambing, apakah itu bukankah suatu hidup yg sulit ???

Hidup menurut tata cara dan keyakinan yg berlaku tentunya sederhana dan membawa ke kebahagiaan, karena agama memang pada dasarnya mengajarkan untuk prihatin dan berekspektasi tidak jauh atau sederhana. Kalau anda memang tidak mau capek2 berpikir, so hidup dengan mengikuti tata cara/agama yg sudah ada bisa membawa kebahagiaan. Namun saya khawatir dengan globalisasi dan perubahan tentunya tata-cara dan ukuran kebahagiaan menjadi bergeser. Dengan mengikuti tata cara agama yg tidak mau adaptive perubahan maka beresiko musnah terkena persaingan. Lebih simplenya mungkin bagi umat Islam yang masih merindukan piagam madinah yah membangun kawasan khusus yg tidak boleh tercemar oleh informasi dari luar, atau menutup diri secara absolut seperti suku badui dalam, dan mengikutinya tanpa diusik pencemaran dari luar tentunya akan membawa kebahagiaan.

Namun jikalau harus berinteraksi dengan dunia luar maka akan konflik adanya. Yang menginginkan kehidupan piagam madinah tentunya tidak adaptive thd perubahan yg terjadi dng dunia global,bagaimana mungkin kehidupan 1400 tahun lampai akan digunakan di 1400 tahun sesudahnya ??? hal yang menurut saya utopia, tidak realistis, hanya menimbulkan konflik, hal ini yg menyebabkan seorang islam realistis Indonesia akan mulai mempertanyakan nilai2 keislaman.

Agama merupakan candu kata marx, agama sebenarnya juga merupakan sekat pembatas pikiran kita. Saya katakan sekat karena dia membatasi kebebasan berpikir dengan doktrinenya yg harus dipercayai dan tidak boleh dipikir. Saya jelas sudah tahu bagaimana Islam melawan kaum realistis ini, pasti senjatanya dalil naqli, atau dalam memahami Al Quran ada bagian2 yg tidak bisa dirasionalkan. Ini menurut saya perangkap mengerikan bagi pemikiran. Dalil naqli kebanyakan bercerita tentang ruh, so kalau mau mengikuti hukum ini maka akan lebih tepatnya ketika kita menjadi ruh saja, karena hidup jelas dunia materi, tangan, kaki, kepala anda adalah materi sehingga hukum2nya yang berlaku di dunia adalah dialektika materialisme. Memang menyikapi hidup secara cerdas adalah mengetahui dan mengikuti hukum2 yang berlaku dimana kita berada di dimensi ruang dan waktu. Menggunakan extacy di belanda tentunya juga akan berbeda hukum dengan menggunakannya di Indonesia.

Saya pernah penasaran, kenapa Indonesia secara ekonomi tertinggal dengan negara lainnya. Semula saya mengira letak geografis di timur yang menyebabkannya, namun fakta singapore dan jepang berada di timur telah mementahkan argumen saya. Lalu saya berasumsi Islam karena negara yang mayoritas Islam bisa maju karena kandungan minyaknya saja, hampir tidak ada negara mayoritas Islam maju secara industry dan pemikiran, namun Iran mementahkan argumen saya. Lalu saya membaca buku ttg belanda yang demikian lama menjajah indonesia, karena mereka mempelajari budaya indonesia yang penuh takhyul dan cerita2 yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Kelemahan ini dimanfaatkan betul oleh Belanda sehingga bisa menjajah Indonesia demikian lama. Saya mencari akar takhyul ini darimana, semula sekali lagi saya mengira budaya Islam, namun membaca biography the prophet Muhammad jelas tindakan2-nya rasional adanya, bahkan saya yakin muhammad adalah seorang Indigo genius di masanya (bagaimana tidak indigo kalau dia suka bertafakur di gua2 tentunya menurunkan frekuensi otak dan mendapat pemahaman2 yg luar biasa)

Akhirnya di acara-nya tv-one farhan, ada tamu wanita yang pernah menceritakan pengalaman uniknya di India, bahwa di India ada jalan tol yg ditengahnya ada makamnya tanpa dihilangkan. Saya menjadi terinpirasi bahwa budaya hindu merupakan akar takhyul di Indonesia, dan setelah membaca madilog, Tan Malaka-pun menganggap demikian, karena agama ini sangat tua sehingga sejarah ilmiahnya gelap gulita.

Artikel ini ditulis dalam bulan ramadhan di tahun 2008, saya tentunya berpuasa, namun sekali lagi saya menjalankannya bukan karena Tuhan, buat apa Tuhan membutuhkan puasa dari seorang manusia macam saya, lebih tepatnya karena saya mengalami kenyamanan dalam menjalankannya. Boleh saya uraikan bahwa karena tidak makan dan minum dan menguranginya menyebabkan lemas, tidak begitu berenergy, dan saya kira frekuensi otak saya menurun sehingga lebih tenang. Retreatnya kaum kristian, atau ibadatnya kaum buddha tentunya juga membawa ketenangan, bagaimana tidak tenang kalau tinggal di daerah yg sepi dan tidak memikirkan masalah duniawi. Rasional saja adanya. Saya pernah mengikuti tarekat, dan karena sehari2 hanya menghabiskan waktu untuk menyebut nama Tuhan dan sembahyang, tentunya jauh dari aktifitas yang membuat stress semisal memikirkan perkembangan bisnis.

Banyak sekali tata cara beragama yg secara rasional bisa menjelaskan ke arah hati kita yg tenang dan bahagia sesuai tujuan hidup kita, disamping kelemahannya yg menjadikannya kebenaran absolut membuat kita tidak bisa adaptive perkembangan.

Bagaimana kesimpulannya

- hidup di planet bumi mempunyai hukum alam yaitu berubah, dan terikat ruang dan waktu.

- esensi hidup adalah hidup itu sendiri, dan untuk bisa hidup lebih lama diperlukan energi positive, yang dibangkitkan dari rasa bahagia/senang

- untuk membangkitkan energi positive/bahagia kita memerlukan mindset yg bisa kita rubah2 sesuai tujuan yg kita harapkan.

- otak anda seperti halnya komputer yg belum ada operating systemnya, ketika anda menginstal Windows, maka logika2 windows tsb yg digunakan untuk menjalankan aplikasi2. Saya memilih menginstal beberapa operating system dan ketika mau menjalankan aplikasi maka saya akan menggunakan OS yang paling tepat.

- untuk tidak tersiksa maka ikutilah aturan/tata cara/hukum yang dianut kebanyakan orang, melawan hukum, atau menjadi orang yg tidak mainstream membutuhkan tenaga ekstra untuk bertahan hidup. Tata cara ini dalam dunia yg global akan berubah2 sehingga diperlukan kemampuan adaptive, yg bisa kita pikirkan dng akal kita, senjata manusia untuk bertahan hidup. Disinilah kelemahan sekat agama. Filosofinya memang filosofi bunglon, mempertahankan hidup dengan mengubah warna kulit sesuai habitat yang ditinggalinya.

- Supaya tidak terjadi kejahatan maka dibuatlah hukum (teknik menakuti), apabila melanggar hukum maka kita akan dihukum dan pastinya lebih menderita.

Jadi mau beragama, ber-atheis itu adalah alat/tool di label operating system/logika saja untuk mencapai tujuan dengan cepat/taktis dan selamat. Demikianlah saya adanya.

Note:

- Tentunya saya belum ahli benar dalam menerapkan hal diatas karena saya masih belum bisa meninggalkan identitas saya, namun dari konsep diatas Radovan Karadjic yg didefinisikan penjahat perang dari serbia, yang banyak membunuh muslim bosnia, bisa mengganti identitas dirinya sepenuhnya/lebih banyak,
dari pemimpin serbia menjadi ahli pengobatan alternative, tidak pernah kontak keluarga dan benar2 menjalankan identitas barunya mendekati sempurna, dengan demikian dia yang mestinya dipenjarakan beberapa tahun lalu, baru tertangkap tahun ini/memperpanjang kepentingan. Karadjic bisa bermetamorfosis dari atheis menjadi theis

Ibrahim datuk Tan Malaka, tokoh Indonesia yg juga pahlawan Filipina, mempunyai 26 nama samaran dan bisa berbagai bahasa, pernah bergabung di Sarekat Islam, dan juga memimpin PKI, pernah tinggal di Indonesia, Belanda, Jerman, Moscow, China, Burma, Singapore, Malaysia, Filiphina, dlsb. Agen komunis International wilayah asia tenggara, namun juga sangat menguasai Islam.

Teknik2 yg saya uraikan banyak dipakai untuk kepentingan Intelligent.

Russia bangkit, Indonesia juga bisa

Saat ini banyak sekali tulisan, analisa, berita tentang kebangkitan Russia yang dapat diikuti baik via media Internet atau media cetak dan tv Indonesia. Russia mencengangkan dunia dengan kebangkitannya, dan kekayaan alamnya. Hal ini sebenarnya tidak mengherankan dan aneh jikalau mengikuti budaya dan perkembangan politiknya. Budaya merupakan faktor penguat bagi keberhasilan suatu kebangkitan, perubahan, atau revolusi.

Russia negara yang sangat luas, secara geografis berada membentang dari benua eropa sampai ujung asia, dan berada di ujung utara sehingga bersuhu dingin, bahkan sangat dingin. Kesulitan2 hidup adalah sahabat sejati warga Russia, sehingga tidak heran kalau wajah mereka jarang tersenyum. Kesulitan hidup ini pulalah yang membuat mereka cenderung kuat secara fisik, keras, dan mencari cara2 baru untuk mempertahankan hidup. Revolusi bolshewik adalah puncak dari perubahan Russia abad 20. Revolusi bolshewik adalah perubahan ekstrem yang disertai dengan kekerasan di bidang politik dan budaya, dan terutama mindset mereka yang ber-dialektika materialisme.

Russia mempunyai banyak suku bangsa, hingga kaum Yahudi juga banyak yang menetap di Russia. Kaum Yahudi mempunyai tradisi kebebasan berpikir, bahkan bertentangan dengan agama mainstream, dari Charles Darwin, Marx, Trotsky adalah keturunan Yahudi, tentunya bukan karena berdarah Yahudinya yang membuat mereka unggul, tapi tradisi kebebasan berpikir,dan melepaskan diri dari doktrinal yang membuat mereka unggul dalam kekuatan berpikir. Ini modal yang sangat berharga bagi perkembangan budaya Russia selanjutnya.

Setelah Lenin meninggal, kepemimpinan USSR digantikan oleh Joseph Stalin. Stalin adalah seorang diktaktor kejam terbesar abad 20, Stalin sangat pandai dalam berstrategi, hal ini terbukti dari kemenangan Russia melawan Nazi Jerman yang diawali perang di kota Stalingrad. Dengan pandainya Stalin yang memimpin Russia memancing tentara Nazi Jerman masuk jauh melintasi wilayah Russia yang luas, sehingga tentunya akan lebih sulit dalam hal distribusi. Akibatnya Russia dengan mudah memukul balik Nazi Jerman, bahkan banyak tank tank Nazi Jerman teronggok di jalanan karena kehabisan bahan bakar. Kemenangan ini dirayakan sebagai hari libur khusus di Russia.

Dibawah Gorbachev, USSR mencoba perestroika, namun akibatnya sungguh diluar dugaan, bahwa perestroika menghancurkan USSR. Harus diakui bahwa perestroika adalah revolusi ke titik extreme yang bertentangan dengan revolusi bolshewik. USSR bubar, kemudian Yeltsin Presiden Russia Federation pertama setelah bubarnya USSR menerapkan liberalisasi ekonomi. Russia disetir IMF, aset2 nasional mulai dikuasai oleh golongan kecil pengusaha atau oligarki semacam Roman Abramovich. Yeltsin, meski membawa angin demokrasi di Russia namun pada akhir hayatnya juga menyengsarakan rakyat Russia, karena liberalisasi ekonomi jelas membuat rakyat Russia sangat menderita, bahkan Yeltsin terlibat korupsi. Vladimir Putin, penerusnya adalah seorang yang berusaha mengembalikan kejayaan Russia, mengembalikan harga diri Russia. Putin mengkoreksi liberalisasi ekonomi, melepaskan diri dari IMF dan juga melepaskan diri penguasaan oligarki atas aset2 nasional. Meski dikritik bergaya diktaktor, namun tidak bisa disangkal bahwa dibawah Putin-lah ekonomi Russia jauh lebih membaik.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sebenarnya Indonesia pada masa perjuangan berkiblat ke Russia, revolusi bolshewik telah menggetarkan gerakan2 kemerdekaan bagi negara2 terjajah. Tan Malaka, Darsono, Alimin, Muso adalah orang2 agent komunis Russia. Euforia Bolshewik menyulutkan pemberontakan PKI terhadap Belanda, namun pemberontakan tsb gagal, artinya bolshewik Indonesia telah gagal. Kemerdekaan Indonesia-pun penuh dengan banyak negosiasi, dan merupakan hal yang dijanjikan oleh Jepang sebagai saudara tua, hal yang sangat ditentang oleh Tan Malaka bahwa kemerdekaan harus direbut dengan sepenuh hati tanpa syarat, kemerdekaan absolut, kemerdekaan yang tidak dikasih, kemerdekaan dengan perjuangan.

Presiden Soekarno mendeklarasikan diri sebagai seorang marxist, pada masa yang dia sebut revolusi belum berakhir, berusaha mengganyang imperialis / nekolim (khas gerakan bolshewik) dengan ganyang Malaysia, namun pada faktanya gerakan ini tidak didukung sepenuh hati oleh Angkatan Darat. Sangat kontras dengan kemenangan Stalin atas Nazi Jerman, sebuah peristiwa patriotik yang masih dikenang hingga kini.

1965 terjadi kecelakaan sejarah, peristiwa ini tidak jelas siapa dalangnya hingga saat ini, namun akibatnya jelas, kiblat ke Russia telah berakhir digantikan kiblat ke Amerika Serikat beserta liberalisasi ekonominya.

Perbedaan2 itulah yang menguatkan perbedaan2 hasil atas revolusi yang sama, Russia mempunyai budaya yang keras, sangat patriotik, kebebasan berpikir, dan sejarah yang luar biasa sehingga modal tersebut sangat berarti bagi kebangkitan mereka. Revolusi2 yg ekstrem juga membuat mereka lebih memahami perubahan. Bagi saya, perbedaan itu adalah masa lalu Indonesia, tapi jika faktor2 yang menentukan keberhasilan revolusi Russia bisa kita teladani, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi sekuat Russia, tokoh intelektual Indonesia,Tan Malaka sebenarnya sudah membawa cakrawala berpikir dan budaya bolshewik Russia thd gerakan2 kemerdekaan Indonesia, China, dan Filiphina. Tan Malaka juga telah berusaha membumikan teori2 bolshewik Russia, namun sayang tokoh ini harus berakhir tragis oleh bangsanya sendiri. Akhir kata yang jelas bisa saya dapatkan dari Russia saat ini barulah “From Russia with love”.

Note: Mertua saya Yastrebova Maria seorang rakyat biasa, menceritakan bahwa Stalin membuat rakyat Russia menangis, dan sangat menderita, dan Vladimir Putin memperbaiki ekonomi Russia yg kolaps setelah kepemimpinan Boris Yeltsin. Dalam suatu polling tokoh Russia yang paling dikagumi, Stalin mendapat tempat tertinggi, bisa jadi dignity Russia berada di puncaknya setelah kemenangan perang atas Nazi Jerman.

Indonesia juga butuh kemunculan orang sekaliber Putin, yang berani memenjarakan oligarki penguasaan minyak (Khodorovsky), dan perlahan-lahan menasionalisasi  perusahaan2 vital yang harus dikuasai oleh negara.

Semoga Tuhan mengkondisikannya…