Archive for September, 2008


Russia Doctrine, visi Russia 2020 menjadi negara termaju.

Di bawah visi Putin, pada tahun 2020 Russia akan menjadi lima besar negara paling maju, sebanding dengan AS, Cina, India, dan Jepang. Singkatnya, Russia akan menjadi negara paling maju di Eropa, komentar televisi negera akhir-akhir ini.

http://rizkisaputro.wordpress.com/2008/01/29/russia-doctrine-dan-masa-depan-russia-pasca-putin/

http://www.politklass.ru/cgi-bin/forgot.pl?isid=336

http://www.lfpr.lt/uploads/File/2006-18/Potasenko.pdf

http://www.fas.org/nuke/guide/russia/doctrine/

Madilog of Tan Malaka and Me,Tanah Jawa adalah tanah tempat menemukan Tuhan

Syukur Alhamdullilah kalau Harry A Poeze menghadiahkan sejarah tokoh intelektual Indonesia, Tan Malaka dalam peringatan kemerdekaan Indonesia 2008, atau 63 tahun kemerdekaan Indonesia. Tan Malaka seperti menjadi idola intelektual baruku, karena aku baru saja mengalami benturan pemikiran yang sangat dahsyat. Tahun 2002 ketika aku mengalami musibah yang cukup berat dalam hidupku, aku menyalurkannya dengan mengikuti tarekat naqsyabandiah, dan tahun 2004 aku mulai bersinggungan dengan Diana Kuznetsova yang melahirkan putriku Alexandra Kuznetsova. Banyak hal aku bertentangan pikiran dengannya. Yang jelas aku mulai menjelaskan tentang eksistensi Tuhan kepadanya. Aku tidak tahu secara pasti, apakah istriku ini keturunan Yahudi, yang jelas di Russia, banyak sekali keturunan Yahudi, bahkan wilayah khusus Yahudi tidak jauh dari tempat tinggal Alexa sekarang. Bolshewik sendiri digerakkan oleh orang2 Yahudi, Marx jelas merupakan orang Yahudi. Yahudi atau bukan, tidak menjadi masalah buatku, toh dia adalah ibu dari putriku. Saat itu setiap masalah aku selalu berperspektive berbeda dengan Diana. Tidak kusadari itu karena perbedaan budaya yang sangat tajam. Aku dibesarkan dalam lingkungan Jawa Islam, bahkan aku sangat menyukai mistisisme Islam, Diana jelas dibesarkan di lingkungan komunis yang mengagungkan akal daripada hati. Perbedaan ini membuatku sangat penasaran hingga kini, sampai aku mendapat pencerahan dari Sigmund Freud, membaca ulang marxisme (waktu kuliah aku sudah membacanya tapi belum memahaminya mungkin karena tidak terlibat langsung), bahkan akhirnya bertemu dengan Madilog-nya Datuk Tan Malaka. Aku bangga, artinya aku tidak perlu jauh menokohkan orang dari bangsa lain sebagai tokoh intelektual, Datuk Tan Malaka sudah membuka cakrawala berpikir luar biasa di tahun 1940-an, Tan Malaka sangat menentang budaya takhyul, persis seperti Diana yang selalu menanyakan keberadaan syaitan/diablo, iblis, bahkan Tuhan. Waktu itu memang terasa aneh bahwa orang yang mendampingiku hidup menanyakan eksistensi Tuhan, aneh karena aku menyukai mistisisme Islam, namun sekarang pelan2 akhirnya aku mulai memahami mindset rationalisme, tidak lain karena aku sangat penasaran akan jadi apa putriku nanti bila dibesarkan di Russia, maka aku mati-matian memahami mindset disana. Cara berpikir di Russia jelaslah Madilog (materialisme, dialektika, dan logika) karena Tan Malaka sendiri lagi asyik masyuk dalam euforia bolshewiknya Lenin dan Trotsky, seorang Yahudi Russia.

Entah ini takdir-ku, atau bagaimana, yang jelas hidupku selalu berada di dua titik extreme dan berkonflik antar dua arus besar yang berlawanan, dari mistisisme Islam Jawa, ke rationalisme Yahudi Russia, dari proletar gerakan kemiskinan, menjadi borjuis ala kawan2 memanggilku “emir kuwait”……

Namun kusyukuri saja, toh ini merupakan pengalamanku yang luar biasa yang orang lain belum tentu bisa merasakannya, yang jelas hanya membaca marxis, madilog akan berbeda ketika harus merasakan mempunyai seorang istri dan anak yang marxis, bahkan boleh dibilang Diana dan Alexa-lah yang menyeretku memahami marxisme secara lebih utuh, karena daya tarik mereka yang kuat-lah yang menyebabkan aku lebih serius mempelajarinya.

Tan Malaka adalah tokoh intelektual Indonesia, Bapak Republik Indonesia karena bukunya “naar de republiek indonesia” menginspirasi Ir. Soekarno, Hatta dkk untuk memerdekakan republik Indonesia. Tokoh ini lebih tepat untuk menjadi penelitian dan perhatianku, karena Tan sejak kecil juga didoktrin Islam yang kuat, yang akhirnya juga mempunyai mindset rationalisme yang tinggi, namun Tan tidak pernah kehilangan Tuhan. Tan tetap mempercayai Tuhan, karena di pertemuan komunis International di moscow, yang dihadiri para tokoh komunis dunia dan sang maestronya Lenin, dia berkata “Ketika aku mati maka aku akan menghadap Tuhan”

Pada awalnya, aku sempat ingin berontak terhadap takdir ini, pemberontakan ini berasal dari pikiran ala Amerika yang penuh optimisme “Aku bisa merubah” atau Obama “change, we can believe in”. Aku berontak ingin membawa Alexa ke Indonesia karena aku khawatir dengan mindset dialektika materialisme-nya. Namun kusadari bahwa itu hal yang sangat sulit, dan aku mulai memahami bahwa mindset ini merupakan modal yang sangat berharga untuk tinggal di dunia yg terikat hukum alam ini. Tidak ada salahnya kalau Alexa dididik dengan mindset dialektika materialisme, namun aku nanti ingin mendidiknya dengan memasukan budaya jawa, hindu, buddha, islam, dan kekristenan, toh Obama seorang tokoh Amerika yang tiba2 muncul dari situasi yang extreme karena kejatuhan ekonomi amerika, dibesarkan dalam lingkungan Ibunya yang Agnostik, namun mengajari nilai2 etik agama2 Islam, Buddha, Hindu, Kristen, dlsb.

Mengikuti takdir dan menikmatinya akan terasa indah, baik itu takdir baik maupun buruk,hidup ini memang indah kalau kita menyadarinya. Mungkin aku mengalami orgasme hidup karena berada di dua titik extreme yang berlawanan. Tiada guna aku melawan takdir, melawan arus jelaslah sangat berat. Kini harapanku hanyalah puteriku yang sangat kucintai ini terdidik dengan pemikiran maju ala barat, namun tidaklah meninggalkan budaya leluhurnya, baik leluhur dari ibunya yang komunis russia, entah kalau ternyata juga mengalir darah Yahudi, dan juga leluhur bapaknya yang besar, dan mengambil energi hidup dari tanah Jawa, Alexa, kamu adalah seorang gadis cilik dari tanah Jawa….Java….tanah ini tanah subur, tanah ini penuh energi, tanah ini penuh keramahan, tanah ini kaya hati, tanah ini kaya budaya, tanah ini kaya kelembutan, tanah ini Tanah Tuhan…banyak tempat menemukan Tuhan di tanah Jawa…