Archive for October, 2008


Vladimir Ilyich Lenin: Sosialisme dan Agama

Sosialisme dan Agama

V.I. Lenin (1905)


Sumber: V. I. Lenin, Collected Works, Edisi Bahasa Inggris yang ke-4, Progress Publishers, Moscow, 1972, Cetakan ke-3, halaman 83-87

Penerjemah: Anonim (1997). Diedit oleh Anonim (Desember 1998)


Masyarakat yang ada saat ini sepenuhnya didasarkan atas eksploitasi yang dilakukan oleh sebuah minoritas kecil penduduk, yaitu kelas tuan tanah dan kaum kapitalis, terhadap masyarakat luas yang terdiri atas kelas pekerja. Ini adalah sebuah masyarakat perbudakan, karena para pekerja yang “bebas”, yang sepanjang hidupnya bekerja untuk kaum kapitalis, hanya “diberi hak” sebatas sarana subsistensinya. Hal ini dilakukan kaum kapitalis guna keamanan dan keberlangsungan perbudakan kapitalis.

Tanpa dapat dielakkan, penindasan ekonomi terhadap para pekerja membangkitkan dan mendorong setiap bentuk penindasan politik dan penistaan terhadap masyarakat, menggelapkan dan mempersuram kehidupan spiritual dan moral massa. Para pekerja bisa mengamankan lebih banyak atau lebih sedikit kemerdekaan politik untuk memperjuangkan emansipasi ekonomi mereka, namun tak secuil pun kemerdekaan yang akan bisa membebaskan mereka dari kemiskinan, pengangguran, dan penindasan sampai kekuasaan dari kapital ditumbangkan. Agama merupakan salah satu bentuk penindasan spiritual yang dimanapun ia berada, teramat membebani masyarakat, teramat membebani dengan kebiasaan mengabdi kepada orang lain, dengan keinginan dan isolasi. Impotensi kelas tertindas melawan eksploitatornya membangkitkan keyakinan kepada Tuhan, jin-jin, keajaiban serta jang sedjenisnya, sebagaimana ia dengan tak dapat disangkal membangkitkan kepercayaan atas adanya kehidupan yang lebih baik setelah kematian. Mereka yang hidup dan bekerja keras dalam keinginan, seluruh hidup mereka diajari oleh agama untuk menjadi patuh dan sopan ketika di sini di atas bumi dan menikmati harapan akan ganjaran-ganjaran surgawi. Tapi bagi mereka yang mengabdikan dirinya pada orang lain diajarkan oleh agama untuk mempraktekkan karitas selama ada di dunia, sehingga menawarkan jalan yang mudah bagi mereka untuk membenarkan seluruh keberadaannya sebagai penghisap dan menjual diri mereka sendiri dengaan tiket murah untuk menuju surga. Agama merupakan candu bagi masyarakat. Agama merupakan suatu minuman keras spiritual, di mana budak-budak kapital menenggelamkan bayangan manusianya dan tuntutan mereka untuk hidup yang sedikit banyak berguna untuk manusia.

Tetapi seorang budak yang menjadi sadar akan perbudakannya dan bangkit untuk memperjuangkan emansipasinya ternyata sudah setengah berhenti sebagai budak. Para buruh modern yang berkesadaran-kelas, digunakan oleh industri pabrik skala besar dan diperjelas oleh kehidupan perkotaan yang merendahkan kedudukan di samping prasangka-prasangka religius, meninggalkan surga kepada parra pastur dan borjuis fanatik, dan mencoba meraih kehidupan yang lebih baik untuk dirinya sendiri di atas bumi ini. Proletariat sekarang ini berpihak pada sosialisme, yang mencatat pengetahuan dalam perang melawan kabut agama, dan membebaskan para pekerja dari keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati dengan mempersatukan mereka bersama guna memperjuangkan masa sekarang untuk kehidupan yang lebih baik di atas bumi ini.

Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Dalam kata-kata inilah kaum sosialis biasa menyatakan sikapnya terhadap agama. Tetapi makna dari kata-kata ini harus dijelaskan secara akurat untuk mencegah adanya kesalahpahaman apapun. Kita minta agar agama dipahami sebagai sebuah persoalan pribadi, sepanjang seperti yang diperhatikan oleh negara. Namun sama sekali bukan berarti kita bisa memikirkan agama sepanjang seperti yang diperhatikan oleh Partai. Sudah seharusnya agama tidak menjadi perhatian negara, dan masyarakat religius seharusnya tidak berhubungan dengan otoritas pemerintahan. Setiap orang sudah seharusnya bebas mutlak menentukan agama apa yang dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun, yaitu, menjadi seorang atheis, dimana bagi kaum sosialis, sebagai sebuah aturan. Diskriminasi diantara para warga sehubungan dengan keyakinan agamanya sama sekali tidak dapat ditolerir. Bahkan untuk sekedar penyebutan agama seseorang di dalam dokumen resmi tanpa ragu lagi mesti dibatasi. Tak ada subsidi yang harus diberikan untuk memapankan gereja, negara juga tidak diperbolehkan didirikan untuk masyarakat religius dan gerejawi. Hal-hal ini harus secara absolut menjadi perkumpulan bebas orang-orang yang berpikiran begitu, asosiasi yang independen dari negara. Hanya pemenuhan seutuhnya dari tuntutan ini yang dapat mengakhiri masa lalu yang memalukan dan keparat, saat gereja hidup dalam ketergantungan feodal pada negara, dan rakyat Rusia hidup dalam ketergantungan feodal pada gereja yang mapan, ketika di jaman pertengahan, hkum-hukum inquisisi (yang hingga hari ini masih mendekam dalam hukum-hukum pidana dan pada kitab undang-undang kita) ada dan diterapkan, menyiksa banyak orang untuk keyakinan maupun ketidakyakinannya, memperkosa hati nurani orang-orang, dan menggabungkan pemerintah yang enak dan pendapatan dari pemerintah, dengan dispensasi ini dan itu yang membiuskan, oleh lembaga gereja. Pemisahan yang tegas antara lembaga Negara dan Gereja adalah apa yang dituntut proletariat sosialis mengenai negara modern dan gereja modern.

Revolusi Rusia harus memberlakukan tuntutan ini sebagai sebuah komponen yang diperlukann untuk kemerdekaan politik. Dalam hal ini, revolusi Rusia berada dalam sebuah posisi yang menyenangkan, karena ofisialisme yang menjijikkan dari otokrasi feodal polisi berkuda telah menimbulkan ketidakpuasan, keresahan, dan kemarahann bahkan di antara para pendeta. Serendah-rendahnya dan sedungu-dungunya pendeta Orthodoks Rusia, mereka pun sekarang telah dibangunkan oleh guntur keruntuhan tatanan abad pertengahan yang kuno di Rusia. Bahkan mereka yang bergabung dalam tuntutan untuk kebebasan, memprotes praktek-praktek birokratik dan ofisialisme, hal memata-matai polisiyang sudah ditetapkan sebagai “pelayan Tuhan”. Kita kaum sosialis harus memberikan dukungan kita pada gerakan ini, mendukung tuntutan para pendeta yang jujur dan tulus hati menuju ke tujuan mereka, membuat mereka meyakini kata-kata mereka tentang kebebasan, menuntut bahwa mereka harus memutuskan semua hubungan antara lembaga keagamaan dan kepolisian. Seperti juga bagi Anda yang tulus hati, di tiap kasus Anda harus mempertahankan pemisahan antara Gereja dengan Negara dan sekolah dengan Agama, sepanjang agama sudah dinyatakan secara tuntas dan menyeluruh sebagai urusan pribadi. Atau Anda tidak menerima tuntutan-tuntutan konsisten tentang kebebasan ini, dalam kasus dimana Anda tetap terpikat dengan tradisi inkuisisi, dalam kasus dimana Anda tetap berpegang teguh dengan kerja pemerintahan yang enak dan pendapatan dari pemerintah, dalam kasus dimana Anda tidak percaya terhadap kekuatan spiritual dari senjatamu dan melanjutkan untuk mengambil suap dari negara. Dan dalam kasus itulah para pekerja berkesadaran-kelas di seluruh Rusia menyatakan perang tanpa ampun terhadap Anda.

Sepanjang yang diperhatikan kaum sosialis proletariat, agama bukanlah sebuah persoalan pribadi. Partai kita adalah sebuah asosiasi dari para pejuang maju yang berkesadaran kelas, yang bertujuan untuk emansipasi kelas pekerja. Sebuah asosiasi seperti itu tidak dapat dan tidak seharusnya mengabaikan adanya kekurangan kesadaran- kelas, ketidaktahuan atau obscurantisme (isme kekaburan, ketidakjelasan) dalam bentuk keyakinan-keyakinan agama. Kita menuntut pembinasaan sepenuhnya terhadap Gereja dan dengannya mampu menerangi kabut religius yang begitu ideologis dan dengan sendirinya senjata ideologis, dengan sarana pers kita dan melalui kata dari mulut. Namun kita mendirikan asosiasi kita, Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia, tepatnya untuk sebuah perjuangan melawan setiap agama yang menina bobokan para pekerja. Dan bagi kita perjuangan ideologi bukan sebuah urusan pribadi, namun persoalan seluruh Partai, seluruh proletariat.

Jika memang demikian, mengapa kita tidak menyatakan dalam Program kita bahwa kita adalah atheis? Mengapa kita tidak melarang orang-orang Kristen dan para penganut agama Tuhan lainnya untuk bergabung dalam partai kita?

Jawaban terhadap pertanyaan ini akan memberikan penjelasan tentang perbedaan yang cukup penting dalah hal persoalan agama yang ditampilkan oleh para demokrat borjuis dan kaum Sosial-Demokrat.

Program kita keseluruhannya berdasar pada cara pandang yang ilmiah, dan lebih jauh materialistik. Oleh karenanya, sebuah penjelasan mengenai program kita secara amat perlu haruslah memasukkan sebuah penjelasan tentang akar-akar historis dan ekonomis yang sesungguhnya dari kabut agama. Propaganda kita perlu memasukkan propaganda tentang atheisme; publikasi literatur ilmiah yang sesuai – dimana pemerintah feodal otokratis hingga saat ini telah melarang dan menyiksa – yang pada saat ini harus membentuk satu bidang dari kerja partai kita. Kita sekarang mungkin harus mengikuti nasehat yang diberikan Engels kepada kaum Sosialis Jerman: menterjemahkan dan menyebarkan literatur intelektual Pencerahan Perancis abad ke-18 dan kaum atheis. [36]

Namun bagaimanapun juga kita tidak boleh dan tidak patut untuk jatuh dalam kesalahan menempatkan persoalan agama ke dalam sebuah abstrak, kebiasaan jang idealistik, sebagai sebuah masalah “intelektual” yang tak berhubungan dengan perjuangan kelas, seperti yang tidak jarang dilakukan oleh kaum demokrat-radikal yang ada di antara kaum borjuis. Tentulah bodoh untuk berpikir bahwa, dalam sebuah masyarakat yang berdasar pada penindasan tanpa akhir dan merendahkan massa pekerja, prasangka-prasangka agama bisa disingkirkan hanya melalui metode propaganda melulu. Inilah kesempitan cara berpikir borjuis yang lupa bahwa beban agama yanng memberati kehidupann manusia sebenarnya tak lebih adalah sebuah produk dan refleksi beban ekonomi yang ada di dalam masyarakat. Tak satupun dari famplet khotbah, berabapun jumlahnya, dapat memberi pencerahan pada kaum proletariat, jika ia tidak dicerahkan dengan perjuangannya sendiri melawan kekuatan gelap dari kapitalisme. Persatuan dalam perjuangan revolusioner yang sesungguhnya dari kelas kaum tertindas untuk menciptakan sebuah sorgaloka di bumi, lebih penting bagi kita ketimbang kesatuan opini proletariat di taman firdaus surga.

Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kita tidak dan tidak akan menyatakan atheisme dalam program kita, itulah mengapa kita tidak akan dan tidak akan melarang kaum proletariat yang tetap memelihara sisa-sisa prasangka lama untuk menggabungkan diri mereka dengan Partai kita. Kita akan selalu mengkhotbahkan cara pandang ilmiah, dan hal itu essensial bagi kita untuk memerangi ketidakkonsistenan dari berbagai aliran “Nasrani”. Namun bukan berarti bahwa pada akhirnya persoalan agama akan dikembangkan menjadi persoalan utama, sementara hal itu sudah tidak dipersoalkan lagi, atau bukan pula berarti bahwa kita akan membiarkan semua kekuatan dari perjuangan ekonomi dan politik revolusioner yang sesungguhnya untuk dipilah-pilah mengikuti opini tingkat ketiga ataupun ide-ide yang tidak masuk akal. Karena hal ini akan segera kehilangan semua arti penting politisnya, segera akan disapubersih sebagai sampah oleh perkembangan ekonomi.

Dimanapun kaum borjuis reaksioner hanya memperhatikan dirinya sendiri, dan sekarang sudah mulai memperhatikan dirinya di Rusia, dengan menggerakkan perselisihan agama – karenanya dalam rangka membelokkan perhatian massa dari problem-problem ekonomi dan politik yang demikian penting dan fundamental, pada saat ini diselesaikan dalam praktek oleh semua proletariat Rusia yang bersatu dalam perjuangan revolusioner. Kebijaksanaan revolusioner yang memecahbelahkan kekuatan kaum proletariat, dimana pada saat ini manifestasinya muncul dalam program Black-Hundred, mungkin besok akan menyusun bentuk-bentuk yang lebih subtil. Kita, pada setiap tingkat, akan melawannya dengan tenang, secara konsisten dan sabar berkhotbah tentang solidaritas proletarian dan cara pandang ilmiah – seorang pengkhotbah yang asing pada apapun hasutan-hasutan perbedaan sekunder.

Kaum proletariat reevolusioner akan berhasil dalam membentuk agama menjadi benar-benar urusan pribadi, sejauh yang diperhatikan oleh negara. Dan dalam sistem politik ini, bersih dari lumut-lumut abad pertengahan, kaum proletariat akan keluar dan membuka pertarungan untuk mengeliminasi perbudakan ekonomi, sumber yang murni dari segala omong kosong relijius manusia.

Novaya Zhizn, No. 28.
3 Desember, 1905
Tertanda: N. Lenin

Diterbitkan sesuai dengan teks yang dalam Novaya Zhizn

Trilogy Russia-Mind-Agama: Revolusi cara berpikir - Solusi keluar dari krisis

Trilogy: Russia, Mindset Marxism, dan Agama.
From Russia with Love: Revolusi cara berpikir - Solusi keluar dari krisis
*Untuk lebih memahami dari ide saya, maka perlu membaca artikel blog saya lainnya terutama tentang Russia

- Bagaimana Revolusi Bolshevik sukses mendirikan negara USSR dan membangun masyarakat marxis USSR.

- Stalin dari seorang pelajar seminari setelah membaca The Origin of Species kemudian membunuh para penyebar agama, memusnahkan simbol-simbol agama dan sangat membenci agama, Stalin menjadi diktaktor terbesar yang pernah ada,mengalahkan Adolf Hitler Nazi Jerman.Era Stalin yang lama dan kejam membuat rakyat USSR cukup menderita dalam tekanan hebat, namun fase ini membuat mereka sangat besar, berwibawa, dan sangat patriotik. Perlu dicatat bahwa kekejaman PKI terbawa oleh pemimpin komunis international Joseph Stalin. Hanya Tan Malaka yang beraliran Trotsky sehingga dicap sebagai pengkhianat komunisme, akhirnya Trotsky dibunuh oleh Stalin di pengasingannya. Sebenarnya Trotsky-lah yang berhak meneruskan pimpinan puncak USSR setelah kematian Lenin.

- Era Gorbachov meruntuhkan USSR, rakyat USSR mengalami extreme kiri menuju extreme kanan Liberalisme IMF yang dibawa Boris Yeltsin. Penderitaan mereka sangat berat, mulai dari nol lagi.

- Era Vladimir Putin yang mencoba mengembalikan kejayaan USSR setelah morat marit dibawah Boris Yeltsin yang korup bersama oligarkinya.

- Blog http://alexarussia.blog.friendster.com ditulis bertujuan memberikan kompas hidup bagi Alexa.

- Seorang pengemis atau golongan tidak mampu, diberi uang berapapun tidak akan pernah menjadi solusi, selama pola pikirnya tidak dirubah.

- Jargon-jargon agama misal percaya takdir,hantu, atau mitos percaya ramalan ghaib merupakan pola pikir yang tidak disadari membuat keterbatasan dari kemampuan maksimal warga negara. Kelemahan ini digunakan Belanda untuk melanggengkan penjajahan di Indonesia

Reasoning Artikel ini

- Pengalaman saya beranak istri warga negara Russia rakyat biasa

- Saat ini saya di bandung, sore hari 24 oktober 2008 kakak saya yang menjadi ketua RT bercerita banyak warganya menangis karena himpitan ekonomi.

Dunia mengalami krisis, Indonesia terjerembab krisis lagi setelah krisis tahun 1998. Bermacam-macam solusi ditawarkan. Namun saya mempunyai solusi ala Bolshevik Russia. Tentunya bukan Bolshevik mentah, namun jiwa dan semangat bolshevik yang diadaptasi. Jelas tidak mungkin membangun masyarakat komunis di Indonesia, komunisme telah ambruk, Russia sendiri sudah menganut politik demokratis ala Russia, (saya kira ini seperti demokrasi terpimpin ala Bung Karno) namun membangun masyarakat rasional sangat mungkin dilakukan di negara tercinta ini. USSR telah ambruk akhir tahun 1991, rakyatnya benar-benar sengsara. Boris Yeltsin juga percaya IMF, melakukan liberalisasi ekonomi. Rakyat Russia mengalami keterkejutan ekonomi amat parah, dari komunisme menjadi liberalisme, dari kutub utara ke kutub selatan. Ketika itu di televisi terlihat rakyat Russia mengantri beras. Namun semenjak Vladimir Putin berkuasa sekitar tahun 2000, dia mengubah haluan politik dan ekonomi Russia ke jalan tengah. IMF segera dilunasi, oligarki penguasaan ekonomi oleh Yeltsin dan kawan-kawan semacam Roman Abramovich, Khodorkovsky, segera diatasi. Beberapa perusahaan dinasionalisasi kembali. Lagu kebangsaan Russia diganti kembali ke lagu kebangsaan USSR. Singkatnya Putin mengembalikan kewibawaan Russia. Saat ini 2008, ekonomi Russia sudah sangat maju, jauh meninggalkan Indonesia. Russia start 0 (nol) dari 1992, Indonesia 1945. Russia diprediksi akan menjadi negara paling maju di eropa, gambarannya sudah terlihat, ketergantungan eropa terhadap Gazprom (perusahaan gas negara Russia) sangat tinggi. Bahkan Gazprom telah membuat jaringan pipa di trans-siberia untuk suply gas ke china dan asia pasifik.

Mengapa? Russia diberkati Tuhan???

Russia mempunyai sejarah panjang. Saya berusaha menganalisa dan mempelajarinya.

Dari periode Nicholas Tsar 2, Revolusi Bolshevik Vladimir Ilyich Lenin dan Leon Trotsky.
Kemudian perang Stalingrad yang dimenangkan Stalin atas Nazi jerman, dan saat ini era kewibawaan baru Russia yang dirancang oleh Putin.

Berterima kasihlah rakyat Russia terhadap Karl Marx, Lenin dkk. Mereka membawa desain besar skenario kekuatan rakyat, Revolusi Bolshevik membuat cara berpikir mereka menjadi sangat rasional. Revolusi ini tidak hanya revolusi membangun masyarakat tanpa kelas. Namun revolusi ini juga menjadi revolusi budaya, politik, dan ekonomi. Dengan implementasi ide Karl Marx, Dialektika Materialisme, maka rakyat Russia menjadi sangat rasional. Sistem politik yang dibangun di Russia juga menjadikan rakyat Russia SANGAT PATRIOTIS. Tidak heran kalau perang Stalingrad yang memakan korban jiwa sangat besar bagi tentara merah Russia dimenangkan oleh RUSSIA dan hari kemenangan itu sampai sekarang dirayakan khusus dan menjadi hari libur. Rasional dan patriotisme tinggi itulah yang membuat Russia cepat bangkit, jauh menyalip negara-negara ketiga, dan mengancam negara maju.

Diana Kuznetsova dan Yastrebova Maria adalah istri dan mertua saya, dari rakyat biasa. Yastrebova Maria bekerja di perusahaan industry militer kapal milik pemerintah, gajinya tidak seberapa. Mereka mengenal Karl Marx sebagai nama jalan, mengenal Lenin hanya sebagai patung besar di setiap kota Russia. Namun cara berpikir mereka memang sangat Marxis dan Leninis. Jauh lebih smart dan rasional dibandingkan saya rakyat Indonesia yang tidak tergolong miskin. Mereka bukan orang yang mudah mengeluh, pekerja keras, mempunyai konsistensi tinggi, dan kemampuan pikir yang bagi saya diatas rata-rata. Mereka mampu memecahkan problem-problem kehidupan dengan rasional. Cara mereka mengatasi kesulitan pangan musim dingin yang ekstrim membuat saya berdecak kagum.

Ini budaya rasional, mereka tidak perlu membaca Das Kapital untuk menjadi pandai dan rasional. Standar pendidikan mereka begitu tinggi, dan dialektika materialisme sudah menjadi bagian dari cara berpikir mereka sejak kecil. Wawan Setiawan seorang aktivis dunia IT Indonesia,berusia 34 tahun harus mengakui bahwa Diana Kuznetsova istrinya 24 tahun mempunyai cara berpikir lebih maju darinya. Wawan Setiawan harus mati-matian menyelami lagi pemikiran Karl Marx, Lenin, Trotsky, Freud, Tan Malaka, dll memerlukan waktu lama dan usia diatas 34 tahun hanya untuk bisa mempunyai mindset yang sama dengan Diana Kuznetsova yang hanya mengenal Karl Marx, Lenin dan Trotsky sebagai nama jalan dan sejarah negara mereka. Tidak perlu membaca Das Kapital, Science of Logic, In defense of marxism, Does God Play Dice, phenomenology of the mind, dan buku-buku filsafat yang berat lainnya.
Bukankah buku hanya perlu dibaca oleh seorang revolusioner saja dan hanya perlu diimplementasikan saja?

Setiap warga negara mana saja sebenarnya hanya menginginkan hidup layak dan makmur, tidak perlu repot harus super pandai. Negara harus bisa mewujudkan keinginan warga negara dan melindungi warga negara. Russia adalah negara yang sangat melindungi rakyatnya, tidak heran patriotisme rakyatnya begitu tinggi. Russia memberikan warganya bekal paling berharga adalah CARA BERPIKIR RASIONAL. Dengan mindset ini maka kemajuan pesat mudah dicapai.

Penelitian telah membuktikan bahwa orang dari nol bisa menjadi kaya, orang kaya cepat miskin lagi, orang bisa gagal dan sukses adalah terletak di mindset atau cara berpikir. Penelitian juga membuktikan bahwa BELIEVE SYSTEM menjadi tembok besar penghalang untuk menjadi sukses. Tidak heran rakyat Russia cepat bangkit, rupanya mereka tidak terhalang TEMBOK PALING BESAR YAITU AGAMA.

Saya harus berterima kasih terhadap Vincent Liong pendiri Kompatiologi, Leonardus Rimba pendiri Spiritual-Indonesia, dan Adhie Purwono. Mereka memberi pencerahan terhadap saya dan juga buku-buku psikologi mindset/cara berpikir telah membuktikan bahwa ternyata believe system menjadi elemen penting penghalang sukses, dan dengan ko ntruksi believe system yang benar maka potensi sukses akan sangat besar. Pikiran kita hanya dipenuhi kepercayaan-kepercayaan yang tidak benar atau salah, namun hanya kepercayaan saja, sehinggi kunci menjadi sukses hanyalah merekontruksi mindset terhadap kepercayaan-kepercayaan yang menuju kesuksesan saja.

Kakak saya bercerita bahwa tetangganya menangis terhadap himpitan ekonomi. Guru les keponakan kecil saya juga menyatakan sama. Saya sebenarnya seorang yang hatinya mudah tergerak. Saya berikan buku Rekontruksi Mindset terhadap kakak saya, buku ini lebih sopan karena believe system-nya tidak sampai agama, saya tahu kalau sampai menyinggung agama maka buku ini saya kira sulit terbit dan orang yang menulis tidak akan laku dalam training rekontruksi mindset.

Kakak saya sudah mengerti dan bisa memberi nasihat kepada warga miskin sekitarnya bahwa cara pandang warga miskin perlu diubah. Menangis tidak ada gunanya namun tetap harus berusaha, di satu sisi kakak saya bertanya kepada saya bahwa kondisinya benar-benar tidak mungkin untuk berpikir.

Maka saya menjawab, negara juga punya peran penting terhadap warga miskinnya. Negara ini kurang mencerdaskan warga negaranya.

Apakah mungkin seorang miskin harus mengikuti training yang harganya lebih dari 1 juta untuk menjadi sukses???

Jawaban saya maka Indonesia harus melakukan revolusi cara berpikir. Revolusi hanya bisa dicanangkan oleh pemimpin negeri ini. Apakah bisa ? Jawab saya BISA, Susilo Bambang Yudhoyono sudah membuktikan bahwa if there is a will, there is a way, kalau beliau berniat maka apapun menjadi BISA. Terbukti beliau telah memerintahkan buy back saham BUMN yang sebelumnya justru mau dijuali ala liberalisme, hal ini seperti sopir mikrolet putar balik jalan.

Rakyat Russia tidak perlu membayar jutaan untuk berpola pikir rasional dan mendobrak believe system yang salah. Lenin dan Trotsky telah memberikan kado yang sangat berharga itu sejak 1917, dan di Indonesia, teknologi rekontruksi mindset baru marak belakangan dan harganya jutaan. Perlukah Bolshevik di Indonesia? Saya orang yang berkeyakinan PERLU,namun sekali lagi bukan Bolshevik 1917, cukup Bolshevik di tingkat mindset, REVOLUSI MINDSET.

Untuk itu saya selalu menulis tentang *Russia, Mindset, dan Agama, saya hanya berkeinginan melanjutkan perjuangan Ibrahim datuk Tan Malaka, yang ingin membawa Bolshevik ke Indonesia sejak 1926, dan belum berhasil. Negara ini maju, maka saya warga negara Indonesia juga akan maju dengan sendirinya. Mungkin anak cucu saya kelak yang akan menikmatinya.

*Russia sebagai contoh negara yang men-drive rakyatnya untuk ber-mindset sangat mendukung untuk bisa maju
Mindset adalah elemen penting yang menentukan ‘takdir’ kita.
Agama merupakan bagian believe system penghalang kemajuan yang berada di mindset kita

Cintaku kepada puteriku Alexandra Kuznetsova Setiawan yang membuatku memahami Mindset dan Rasionalisme. Kini saya justru bersyukur, kalau anakku menjadi atheis.

Diana Kuznetsova yang tidak mengenal freud namun sangat “freudian”
kalau saya berbicara panjang lebar, dia selalu singkat bertanya “What u want from me???”

Diana Kuznetsova selalu memberi nasihat atas keluhan-keluhan saya dengan “It is just your perception”

====================================
Kunci Kesuksesan Russia
Kunci kesuksesan Russia analisa saya ada 2

1. Pemimpin yang sangat berwibawa, tegas, keras, dan pandai

2. Masyarakat Russia yang rasional dan dan sistem berpikir marxis, sehingga menciptakan rakyat yang berprestasi, mudah beradaptasi dan patriotisme tinggi.

1917 Lenin dan Trotsky sukses menganalisa ketetapan waktu Bolshevik. PKI Indonesia selalu gagal berontak. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan pemimpin dan pendiri USSR Vladimir Ilyich Lenin.

Komunisme dikaburkan oleh Stalin, sifat-sifat kejam Stalin menurun kepada PKI Indonesia. Saya belum menemukan seorang pejuang Indonesia beraliran Leninis dan Trotskies murni selain Tan Malaka.

Sejak revolusi Bolshevik, rakyat USSR sudah berpola pikir dialektika materialisme, kemudian sangat diperkuat di era Stalin. Stalin sangat membenci kaum beragama.

Tan Malaka sudah menyadari bahwa perjuangan kaum kiri Indonesia tidak bisa tanpa dilakukan bekerja sama dengan kelompok Islam, sehingga muncullah Serikat Islam merah.

Saya belum menemukan strategi yang tepat untuk membumikan pola pikir marxis ke budaya Indonesia selain menulis di Internet dan berkegiatan di suatu parpol, namun menurut saya Indonesia perlu revolusi berpikir dengan sistem berpikir marxism modern atau In defence of Marxism. Tidak perlu membawa brand atau kata Marxism,Trotkism, yang penting ruh dialektika dan logika materialisme ada di setiap otak warga negara Indonesia. Agama di Indonesia juga harus tetap ada, namun sebaiknya diberi anti-thesa marxism agar muncul sintesis (diharapkan sintesisnya adalah agama yang rasional atau mungkin sekuler). Sintesis ini harus bisa berakar sampai warga negara tingkat miskin. Sekali lagi saya menekankan perlunya SISTEM BERPIKIR yang RASIONAL, bukan masalah pembentukan negara tanpa kelas ataupun juga pemberangusan simbol agama.

Artikel saya berjudul Seorang bayi harus membayar ASI kepada Ibunya (tentang liberalisme) merupakan pemikiran saya bahwa sudah selayaknya pemimpin Indonesia berkewajiban menyelamatkan rakyatnya. Rakyat Indonesia belum mampu berdiri sendiri tanpa perlindungan pemerintah, jangan dibandingkan dengan warga negara eropa dan AS. Program pengentasan kemiskinan harus melalui perubahan budaya dan pola pikir, tidak bisa rakyat dibiarkan begitu saja untuk menghadapi perdagangan bebas dunia. Pemimpin harus menjadi pelindung bagi rakyatnya.

Saya memposisikan diri sebagai anti-thesis dari budaya mistis takhyul di Indonesia (termasuk agama), untuk mendorong sintesis. Semakin kuat dan banyak anti-thesis-nya maka budaya Indonesia akan tertarik ke titik yang lebih rasional.

Pendidikan anak lebih baik berdasar dialektika materialistis terlebih dahulu baru agama, karena dengan dasar dialektika materialistis sebagai sistem operasi dasar pola pikir yang digunakan oleh individu, maka mempelajari agama akan lebih menggunakan akal daripada sebagai believe system. Jika mempelajari agama kemudian dialektika materialism, kemungkinan kesuksesannya tidak begitu besar, karena sekat tembok pembatas ke arah rasionalisme begitu kuat. Tidak dipungkiri memang ada exception terhadap case ini.

Semoga musim panas 2009 saya bisa ke Russia. Puncak musim dingin desember dan januari suhu bisa mencapai -20 cukup untuk membuat saya mati beku.