Archive for November, 2008


Leon Trotsky: ABC of Materialistist Dialectics

Leon Trotsky (1939)


Diterjemahkan dan diedit oleh Anonim (Desember 1998) dari Leon Trotsky, The ABC of Materialist Dialectics diterjemahkan sesuai teks dalam website In Defence of Marxism. Diedit oleh Ted Sprague (April 2007)


Dialektika bukanlah fiksi dan bukan pula mistisisme, melainkan sebuah pengetahuan mengenai bentuk pemikiran kita sejauh ia tidak dibatasi ke dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari, tetapi berusaha mencapai sebuah pengertian yang lebih rumit dan proses-proses yang mendesak untuk diperbincangkan. Logika dialektika dan logika formal memikul sebuah hubungan yang serupa dengan hubungan antara matematika tingkat tinggi dengan matematika yang lebih rendah.

Di sini saya akan mencoba untuk membuat sketsa substansi masalah dalam sebuah format yang sangat ringkas. Silogisme sederhana logika Aristotelian bermula dari preposisi bahwa “A” sama dengan “A”. Postulat ini diterima sebagai sebuah aksioma bagi banyak sekali tindakan praktis manusia dan generalisasi-generalisasi elementer. Tetapi pada kenyataannya “A” tidak sama dengan “A”. Hal ini mudah untuk dibuktikan jika kita mengamati dua huruf ini di bawah sebuah lensa –satu sama lain sama sekali berbeda. Namun, orang dapat saja berkeberatan, karena mereka semata simbol bagi kuantitas-kuantitas sederajat, contohnya satu pon gula, masalahnya bukan ukuran atau bentuk dari huruf-huruf itu. Keberatan itu tidak penting; pada kenyataannya satu pon gula tidak pernah sama persis dengan satu pon gula –sebuah pengukuran yang lebih teliti selalu menyingkapkan adanya perbedaan. Lagi-lagi orang dapat berkeberatatan: tapi satu pon gula adalah sama dengan dirinya sendiri. Ini juga tidak benar –semua bentukan tanpa bisa diinterupsi berubah dalam ukuran, berat, warna, dan lain sebagainya. Mereka itu tidak pernah sama dengan dirinya sendiri. Seorang sophis akan menanggapi bahwa satu pon gula adalah sama dengan dirinya “pada saat yang tertentu”.

Terlepas dari nilai praktis yang sangat ekstrim meragukan dari “aksioma” ini, ia tidak bertahan juga terhadap kritisisme teoritis. Bagaimana kita harusnya benar-benar memahami kata “saat”? Jika ia adalah sebuah interval waktu yang sangat kecil, maka satu pon gula ditundukkan menjadi sasaran selama berlangsungnya “saat” tersebut pada perubahan-perubahan yang tak dapat dielakkan, atau apakah “saat” adalah sebuah abstraksi yang murni matematis, yaitu, sebuah kekosongan dari waktu? Tapi semua hal eksis dalam waktu; dan eksistensi sendiri adalah sebuah proses yang tidak berhenti dari transformasi; waktu secara konsekuen adalah sebuah elemen fundamental bagi eksistensi. Jadi aksioma “A” adalah sama dengan “A” menandakan bahwa suatu hal adalah sama dengan dirinya sendiri jika ia tidak berubah, yaitu jika ia tidak eksis.

Secara sepintas kelihatannya “kepelikan-kepelikan” ini tiada berguna. Dalam realita, hal-hal itu amat menentukan arti. Di satu sisi aksioma “A” adalah sama dengan “A” muncul sebagai titik keberangkatan bagi semua pengetahuan kita, di sisi lain sebagai titik keberangkatan segala kekeliruan dan kesalahan dalam pengetahuan kita. Untuk membuat penggunaan yang bebas resiko dari aksioma “A” adalah sama dengan “A” adalah hanya mungkin di dalam batasan-batasan pasti. Ketika perubahan-perubahan kuantitatif dalam “A” adalah tidak berarti bagi tugas-tugas yang ada, maka kemudian kita dapat memperkirakan bahwa “A” adalah sama dengan “A”. Contohnya ini adalah cara di mana seorang pembeli dan seorang penjual mengingat satu pon gula, demikian pula kita mempertimbangkan suhu matahari. Sampai waktu sekarang ini kita mempertimbangkan kekuatan mata uang dollar dengan cara yang sama. Tetapi perubahan-perubahan kuantitatif, yang melebihi batasan-batasan pasti, terkonversi menjadi kualitatif. Satu pon gula tunduk kepada tindakan air atau bensin, berhenti menjadi satu pon gula. Satu dollar dalam pelukan seorang presiden berhenti sebagai satu dollar. Untuk menentukan titik kritis pada saat yang tepat di mana kuantitas berubah menjadi kualitas adalah satu dari tugas-tugas yang paling penting serta paling susah di dalam semua bidang pengetahuan, termasuk sosiologi.

Setiap pekerja mengetahui bahwa mustahil membuat dua benda yang sepenuhnya sama. Dalam perluasan bearing-brass menjadi cone bearings diperkenankan adanya sebuah deviasi atas yang disebut terakhir, yang, bagaimanapun, tidak boleh melampaui batasan-batasan pasti (hal ini disebut toleransi). Dengan mengamati norma-norma toleransi, intinya dipertimbangkan menjadi setara. (”A” adalah sama dengan “A”). Saat toleransi menjadi berlebih, kuantitas berlanjut menjadi kualitas; dengan kata lain, cone bearings tadi menjadi inferior atau sepenuhnya tak berharga.

Pemikiran ilmiah kita hanyalah satu bagian dari keseluruhan tindak praktek kita, termasuk teknik-teknik. Bagi konsep-kopsep, eksistensi “toleransi” juga ada. Toleransi ini ditegakkan bukan dengan logika formal yang berasal dari aksioma “A” adalah sama dengan “A”, tetapi dengan logika dialektis yang berasal dari aksioma bahwa semua hal selalu berubah. “Akal sehat” dikarakterisasi oleh kenyataan bahwa ia secara sistematis melampaui “toleransi” dialektis.

Pemikiran vulgar beroperasi dengan konsep-konsep macam kapitalisme, moral, kebebasan, negara pekerja, dll. sebagai abstraksi-abstraksi pasti, mengira bahwa kapitalisme adalah sama dengan kapitalisme, moral adalah sama dengan moral, dan seterusnya. Pikiran dialektis menganalisa semua hal dan fenomena dalam perubahannya yang terus berlangsung, sambil menetapkan dalam kondisi-kondisi material dari perubahan-perubahan tersebut yang batas kritis di luar hal yang “A” barhenti menjadi “A”, sebuah negara pekerja berhenti menjadi negara pekerja.

Kekurangan fundamental dari pemikiran vulgar terletak dalam kenyataan bahwa ia berharap untuk mengisi dirinya sendiri dengan cetakan statis dari sebuah realitas yang mengandung gerakan abadi. Dengan cara memperketat perkiraan-perkiraan, koreksi-koreksi, kongkritisasi; pemikiran dialektis memberikan sebuah kekayaan mengenai isi dan fleksibilitas kepada konsep-konsep; bahkan saya katakan bahwa ini adalah sebuah kelembapan yang bagi sebuah bidang tertentu membawanya lebih dekat pada fenomena yang nyata hidup. Bukan kapitalisme secara keseluruhan, melainkan sebuah kapitalisme tertentu pada sebuah tahap perkembangan tertentu. Bukan sebuah negara pekerja secara keseluruhan, tetapi sebuah negara pekerja tertentu dalam sebuah negara terbelakang dalam sebuah pengepungan kaum imperialis, dan lain-lain.

Pemikiran dialektis berhubungan dengan pemikiran vulgar dengan cara yang sama seperti sebuah gambar bergerak (motion picture) berhubungan dengan sebuah foto yang statis. Gambar bergerak tidak berada di luar hukum foto statis tetapi mengkombinasikan sebuah urutan dari foto-foto tersebut sesuai dengan hukum-hukum gerak. Dialektika tidak mengingkari silogisme, tetapi mengajari kita untuk menggabungkan silogisme dalam cara yang sedemikian rupa untuk membawa pengertian kita menjadi lebih dekat pada realitas yang berubah secara abadi. Dalam bukunya, Logika, Hegel mendirikan satu rangkaian ketentuan-ketentuan: perubahan kuantitas menjadi kualitas, perkembangan melalui kontradiksi, konflik mengenai isi dan bentuk, interupsi dari kontinuitas, perubahan posibilitas menjadi hal yang tak dapat dihindarkan adanya, dll., yang sama pentingnya bagi pemikiran teoritis sepenting dalam silogisme sederhana bagi tugas-tugas yang lebih elementer.

Hegel menulis sebelum Darwin dan sebelum Marx. Berterima kasih kepada impuls kuat yang diberikan Revolusi Perancis kepada pemikiran, Hegel mengantisipasi gerakan ilmu pengetahuan secara menyeluruh. Tetapi karena itu semata sebuah antisipasi, meskipun dilakukan oleh seorang jennius, hal itu menerima sebuah karakter idealistik dari Hegel. Hegel mengoperasikan bayangan-bayangan ideologis sebagai realitas terakhir. Marx mendemonstrasikan bahwa gerakan dari bayangan-bayangan idiologis ini tidak merefleksikan apa-apa kecuali gerakan dari tubuh-tubuh materi.

Kita menamakan dialektika kita, materialis, sebab ia tidak berakar baik di surga maupun di kedalaman dari “kehendak bebas” kita, melainkan di dalam realitas objektif, di alam. Kesadaran timbul dari bawah sadar, psikologi dari fisiologi, dunia organik dari dunia inorganik, galaksi dari nebula. Di atas tiap undakan tangga perkembangan ini, perubahan-perubahan kuantitatif ditransformasikan menjadi kualitatif. Pikiran kita, terrmasuk pikiran dialektis, hanyalah satu dari bentuk-bentuk ekspresi zat yang berubah. Di dalam sistem ini tidak tersedia tempat bagi Tuhan, Syetan, jiwa kekal, tidak juga norma-norma abadi dari hukum dan moral. Dialektika pemikiran, timbul dari dialektika alam, secara konsekuen memiliki sebuah karakter yang seluruhnya materialis. Darwinisme, yang menjelaskan evolusi spesies melalui transformasi kuantitatif berlanjut pada kualitatif, adalah kemenangan tertinggi dari dialektika dalam seluruh lapangan perkara organik. Kemenangan besar besar lainnya adalah penemuan tabel berat atom dari unsur kimia dan transformasi lebih lanjut dari satu elemen menjadi satu elemen lain.

Secara erat, transformasi-transformasi ini (spesies, elemen, dll.) berkaitan dengan masalah klasifikasi, sama pentingnya dalam ilmu alam sebagaimana dalam ilmu sosial. Sistem Linneaus (abad ke-18) mempergunakan immutabilitas spesies sebagai titik awalnya, terbatas pada deskripsi dan klasifikasi mengenai pertanian sesuai karakteristik-karakteristik abadinya. Periode infantil dari botani adalah analogis dengan periode infantil logika, karena bentuk-bentuk pikiran kita berkembang seperti semua hal yang hidup. Hanya penyangkalan yang tak dapat disanggah mengenai ide tentang spesies jadi, hanya studi mengenai sejarah evolusi tentang pertanian dan anatominya, menyiapkan basis bagi sebuah klasifikasi yang benar-benar ilmiah.

Marx, yang dalam perbedaan dari Darwin adalah seorang dialektikus yang sadar, menemukan sebuah basis bagi klasifikasi ilmiah mengenai masyarakat-masyarakat manusia dalam perkembangan kekuatan-kekuatan produktifnya dan struktur kepemilikan yang membentuk anatomi masyarakat. Marxisme memberikan substitusi berupa sebuah klasifikasi dialektik materialistis kepada klasifikasi vulgar mengenai masyarakat dan negara, yang bahkan hingga sekarang masih tumbuh dengan subur dalam berbagai universitas. Hanya dengan menggunakan metode Marx dimungkinkan secara benar menentukan konsep mengenai sebuah negara pekerja dan momen keruntuhannya.

Kita lihat, semua ini sama sekali tidak mengandung hal “metafisik” atau “scholastis” sebagai ungkapan ketidaktahuan yang congkak. Logika dialektis mengungkapkan hukum gerak dalam pemikiran ilmiah kontemporer. Perjuangan melawan dialektika materialis sebaliknya mengungkapkan sebuah masa lalu, konservatisme dari borjuasi kecil, keangkuhan diri para pengusung rutinitas universitas, dan … sekilat harapan bagi sebuah after-life.

15 Desember 1939.

Mencari Peran Tuhan dalam Kehidupan Kita bersama Vincent Liong (Tuhannya Dialektika Materialistis)

Mencari Peran Tuhan dalam Kehidupan Kita bersama Vincent Liong

Saya adalah seorang yang buas ganas, hal itu ditandai dari takdir saya
yang berzodiak Leo, bershio Macan dan Elemen Api.
Karakter saya keras karena waktu SMA dan besar di jalanan dan keliling
klub2 di jakarta kota. Saya Alhamdullilah cukup mengetahui ilmu
hipnosis yang pertama kali saya dapatkan di pertemuan rutin MLM
Network 21 ketika berumur 22-an tahun. Disini kita disihir untuk
menuliskan banyak keinginan, dirasakan lalu dimasukan ke alam bawah
sadar. Bawah sadar konon mempunyai kekuatan 88% pengendalian diri.
Kalo menurut pemahaman saya, bawah sadar (yang berisi belief system)
adalah sistem mekanistik manusia, dari cara bangun, berkegiatan,
berkomunikasi, dan lain sebagainya. Penanaman logic alam bawah sadar
konon menurut buku2 barat adalah menurunkan gelombang otak ke alfa dan
theta lalu dengan afirmasi/pengucapan berulang2 atau membentuk
kebiasaan atau sistem logic/belief system baru.

Manusia pada dasarnya sangat tergantung pada lingkungannya,
semalas-malasnya kita, kalau berada di sistem yang teratur dan sistem
itu harus diikuti maka kita akan mengikuti sistem tersebut.
Serajin-rajinnya kita, kalau kita berada di surga maka kita akan
menjadi malas. Sistem mekanistik bawah sadar juga tergantung dari
lingkungan. Bagi saya Indonesia adalah surga sehingga membentuk sistem
bawah sadar bahwa kemudahan hidup sangat bisa dirasakan di Indonesia.
Saya harus mengubah sistem bawah sadar (belief system) ketika
mengunjungi Russia dimana hidup penuh dengan berkompetisi dan
persaingan sangat keras. Kerasnya kehidupan di Russia membentuk sistem
bawah sadar manusia-nya (ditambah oleh doktrin Lenin yang mampu
mengidentifikasi pola kehidupan yang tepat bagi rakyat USSR) harus
menggunakan akal untuk bisa bertahan hidup. Saya meyakini bahwa konsep
dialektika materialistis dan konsep masyarakat tanpa kelas bisa sangat
sukses di Bolshewik Russia karena terdukung oleh kondisi geografis
alam-nya yang sangat extreme dari bulan desember bisa mencapai -25
sampai musim panas bisa mencapai 25-30. Filsafat dialektika sudah
menegaskan bahwa semuanya terjadi tidak kebetulan, tapi terjadi karena
faktor2 molekular yang saling bergantungan dan saling mendukung. Tidak
heran juga kalau pemberontakan PKI selalu gagal, karena tokoh2nya
keblinger tidak memperhatikan faktor2 molekular yang saling
bergantungan (kondisi kemudahan/surga di Indonesia tidak cocok untuk
penerapan dialektika materialistis). Lenin dan Trotsky sukses
melakukan Bolshewik karena kemampuannya membaca faktor2 molekular dan
mampu menepatkannya dengan dimensi waktu. Mereka mampu membaca bahwa
di dunia ini sebenarnya terjadi konsentrasi-konsentrasi yang
meledak-ledak (sbg contoh dunia pernah mengalami bubble dotcom, bubble
komunis,bubble ekonomi liberal, bubble harga minyak dan bubble2
lainnya), dan Lenin and Trotsky mampu membaca kapan molekular
terkonsentrasi akan meledak. Itulah kesuksesan Bolshewik.

Pada waktu di network 21 saya di doktrin bahwa segala hal adalah
mungkin, dulu saya menganggap yg tidak mungkin adalah 2 hal, yaitu
memakan kepala sendiri dan menentang kehendak Tuhan. Namun saat ini
saya reduksi kembali menjadi 1 hal saja, yaitu yang tidak mungkin bagi
saya adalah memakan kepala sendiri saja. Karena doktrin itu maka
Alhamdullilah juga banyak hal yang telah bisa saya capai, hampir semua
keinginan dalam diri bisa saya capai. Kehidupan saya bergerak sangat
tajam dari extreme kiri ke extreme kanan, dari pernah tidak naik
kelas, sampai berprestasi puncak, dari proletar menggugat borjouis
malah menjadi borjuasi baru. Saat ini telah banyak sekali beredar
buku2 rahasia tentang cara kerja mind. Kalau mengetahui cara kerja
mind memang bisa menjadi ilmu dahsyat, semuanya bisa diperoleh
sehingga tergantung dari individu, bisa digunakan untuk jahat juga
bisa digunakan untuk baik.

Ilmu kedigdayaan bahwa apa yang kita/saya ingini rata2 bisa tercapai
bermula dari Descartes, cogito ergo sum aku berpikir maka aku ada,
lalu dialektika materialistis yang menyebutkan bahwa idea berada di
dalam memory otak untuk merefleksikan benda yang ada di luar yang
ditangkap mata. Dengan teori relativitas Einstein semuanya bisa
dibalik, mana yang lebih duluan, benda terlebih dahulu menjadi idea,
atau idea terlebih dahulu menjadi benda. Contoh konkritnya adalah saya
beridea merokok, lalu terjadilah saya beli rokok dan merokok (untung
bebeknya saya tidak bisa merokok). Keyakinan saya diperparah oleh
film The Secret Law of Attraction. Ini sebenarnya bukan teori
baru…rahasia ini sudahlah lama, dan kembali ke konsep dialektika yang
lebih konkret menjelaskan hubungan erat antara idea dan materialistis.

Film the secret telah membuahkan kehebohan…diantaranya kritik kalau
begitu dimanakah peran Tuhan? begitulah kritik tajam kepada film The
Secret Law of Attraction. Memang tidak bisa disangkal ini sangat erat
kaitannya dengan dialektika materialistis.

Memang bagi para mindset master, semua keinginan bisa tercapai dengan
menanamkan belief system dalam alam bawah sadar yang mekanistik.Namun
kalau mau jujur ..banyak juga keinginan yang tidak terealisasi. Master
mindset memberikan alasan bahwa ketidaksusesan akibat dari
ketidaktebalan keyakinan sukses. Untungnya Tuhan memberikan dimensi
waktu dan ruang bagi alam, sehingga manusia dibatasi dimensi-nya
sehingga tidak banyak melakukan banyak hal. Melihat fakta ini (adanya
keterbatasan dimensi) maka menjawab peranan Tuhan dalam The Secret Law
of Attraction, diskusi saya dengan Vincent Liong menyebutkan bahwa
Tuhan muncul ketika keinginan kita tidak terwujud. Itulah peran Tuhan
terhadap diri kita.