Mencari Peran Tuhan dalam Kehidupan Kita bersama Vincent Liong (Tuhannya Dialektika Materialistis)
Mencari Peran Tuhan dalam Kehidupan Kita bersama Vincent Liong
Saya adalah seorang yang buas ganas, hal itu ditandai dari takdir saya
yang berzodiak Leo, bershio Macan dan Elemen Api.
Karakter saya keras karena waktu SMA dan besar di jalanan dan keliling
klub2 di jakarta kota. Saya Alhamdullilah cukup mengetahui ilmu
hipnosis yang pertama kali saya dapatkan di pertemuan rutin MLM
Network 21 ketika berumur 22-an tahun. Disini kita disihir untuk
menuliskan banyak keinginan, dirasakan lalu dimasukan ke alam bawah
sadar. Bawah sadar konon mempunyai kekuatan 88% pengendalian diri.
Kalo menurut pemahaman saya, bawah sadar (yang berisi belief system)
adalah sistem mekanistik manusia, dari cara bangun, berkegiatan,
berkomunikasi, dan lain sebagainya. Penanaman logic alam bawah sadar
konon menurut buku2 barat adalah menurunkan gelombang otak ke alfa dan
theta lalu dengan afirmasi/pengucapan berulang2 atau membentuk
kebiasaan atau sistem logic/belief system baru.
Manusia pada dasarnya sangat tergantung pada lingkungannya,
semalas-malasnya kita, kalau berada di sistem yang teratur dan sistem
itu harus diikuti maka kita akan mengikuti sistem tersebut.
Serajin-rajinnya kita, kalau kita berada di surga maka kita akan
menjadi malas. Sistem mekanistik bawah sadar juga tergantung dari
lingkungan. Bagi saya Indonesia adalah surga sehingga membentuk sistem
bawah sadar bahwa kemudahan hidup sangat bisa dirasakan di Indonesia.
Saya harus mengubah sistem bawah sadar (belief system) ketika
mengunjungi Russia dimana hidup penuh dengan berkompetisi dan
persaingan sangat keras. Kerasnya kehidupan di Russia membentuk sistem
bawah sadar manusia-nya (ditambah oleh doktrin Lenin yang mampu
mengidentifikasi pola kehidupan yang tepat bagi rakyat USSR) harus
menggunakan akal untuk bisa bertahan hidup. Saya meyakini bahwa konsep
dialektika materialistis dan konsep masyarakat tanpa kelas bisa sangat
sukses di Bolshewik Russia karena terdukung oleh kondisi geografis
alam-nya yang sangat extreme dari bulan desember bisa mencapai -25
sampai musim panas bisa mencapai 25-30. Filsafat dialektika sudah
menegaskan bahwa semuanya terjadi tidak kebetulan, tapi terjadi karena
faktor2 molekular yang saling bergantungan dan saling mendukung. Tidak
heran juga kalau pemberontakan PKI selalu gagal, karena tokoh2nya
keblinger tidak memperhatikan faktor2 molekular yang saling
bergantungan (kondisi kemudahan/surga di Indonesia tidak cocok untuk
penerapan dialektika materialistis). Lenin dan Trotsky sukses
melakukan Bolshewik karena kemampuannya membaca faktor2 molekular dan
mampu menepatkannya dengan dimensi waktu. Mereka mampu membaca bahwa
di dunia ini sebenarnya terjadi konsentrasi-konsentrasi yang
meledak-ledak (sbg contoh dunia pernah mengalami bubble dotcom, bubble
komunis,bubble ekonomi liberal, bubble harga minyak dan bubble2
lainnya), dan Lenin and Trotsky mampu membaca kapan molekular
terkonsentrasi akan meledak. Itulah kesuksesan Bolshewik.
Pada waktu di network 21 saya di doktrin bahwa segala hal adalah
mungkin, dulu saya menganggap yg tidak mungkin adalah 2 hal, yaitu
memakan kepala sendiri dan menentang kehendak Tuhan. Namun saat ini
saya reduksi kembali menjadi 1 hal saja, yaitu yang tidak mungkin bagi
saya adalah memakan kepala sendiri saja. Karena doktrin itu maka
Alhamdullilah juga banyak hal yang telah bisa saya capai, hampir semua
keinginan dalam diri bisa saya capai. Kehidupan saya bergerak sangat
tajam dari extreme kiri ke extreme kanan, dari pernah tidak naik
kelas, sampai berprestasi puncak, dari proletar menggugat borjouis
malah menjadi borjuasi baru. Saat ini telah banyak sekali beredar
buku2 rahasia tentang cara kerja mind. Kalau mengetahui cara kerja
mind memang bisa menjadi ilmu dahsyat, semuanya bisa diperoleh
sehingga tergantung dari individu, bisa digunakan untuk jahat juga
bisa digunakan untuk baik.
Ilmu kedigdayaan bahwa apa yang kita/saya ingini rata2 bisa tercapai
bermula dari Descartes, cogito ergo sum aku berpikir maka aku ada,
lalu dialektika materialistis yang menyebutkan bahwa idea berada di
dalam memory otak untuk merefleksikan benda yang ada di luar yang
ditangkap mata. Dengan teori relativitas Einstein semuanya bisa
dibalik, mana yang lebih duluan, benda terlebih dahulu menjadi idea,
atau idea terlebih dahulu menjadi benda. Contoh konkritnya adalah saya
beridea merokok, lalu terjadilah saya beli rokok dan merokok (untung
bebeknya saya tidak bisa merokok). Keyakinan saya diperparah oleh
film The Secret Law of Attraction. Ini sebenarnya bukan teori
baru…rahasia ini sudahlah lama, dan kembali ke konsep dialektika yang
lebih konkret menjelaskan hubungan erat antara idea dan materialistis.
Film the secret telah membuahkan kehebohan…diantaranya kritik kalau
begitu dimanakah peran Tuhan? begitulah kritik tajam kepada film The
Secret Law of Attraction. Memang tidak bisa disangkal ini sangat erat
kaitannya dengan dialektika materialistis.
Memang bagi para mindset master, semua keinginan bisa tercapai dengan
menanamkan belief system dalam alam bawah sadar yang mekanistik.Namun
kalau mau jujur ..banyak juga keinginan yang tidak terealisasi. Master
mindset memberikan alasan bahwa ketidaksusesan akibat dari
ketidaktebalan keyakinan sukses. Untungnya Tuhan memberikan dimensi
waktu dan ruang bagi alam, sehingga manusia dibatasi dimensi-nya
sehingga tidak banyak melakukan banyak hal. Melihat fakta ini (adanya
keterbatasan dimensi) maka menjawab peranan Tuhan dalam The Secret Law
of Attraction, diskusi saya dengan Vincent Liong menyebutkan bahwa
Tuhan muncul ketika keinginan kita tidak terwujud. Itulah peran Tuhan
terhadap diri kita.
December 2nd, 2008 at 9:18 am
1. karena dunia yg kita diami ini tidak nyata. keterikatan kita padanya hanya sebuah ilusi. 2. kehidupan ini tanpa nalar dan arah, hanya merupakan siklus kelahiran dan kelahiran kembali tanpa akhir. 3. untuk menemukan keselamatan, kita harus melepaskan diri dari dunia ini dan meniadakan konsep diri..