Archive for March, 2009


Lenin dan Sebuah Agama

Lenin dan Sebuah Agama

Leninis boleh saya katakan sebuah agama. Lenin dan khulafaur rasyidinnya atau johannes dan petrusnya tidak hanya merekonstruksi teori penciptaan, apa itu alam, apa itu manusia (dengan landasan evolusi), apa itu otak, bagaimana manusia berpikir, dan apa yang harus dilakukan oleh manusia di bumi, bukankah ini sudah seperti kitab suci baru?

Bukankah kitab suci konvensional seperti bible dan Al-quran itu bercerita ttg penciptaan alam, manusia, tingkah manusia dan bagaimana seharusnya manusia berbuat dll dll?

Kalau memang demikian maka boleh saya katakan Lenin dan murid-muridnya memang rupanya sedang menyusun kitab suci baru dengan landasan berpikir baru, yaitu landasan berpikir dari obyek alam yang tampak jelas bisa diikuti pola gerakannya.

Namun Lenin mendasarkan teori-teori-nya dan dilengkapi oleh penerusnya dengan pola pikir dialektika materialisme atau tata cara alam bergerak. Pola pikir atau filsafat dilihat dari bagaimana alam ini melakukan suatu proses gerakan dan perubahan. Lenin bisa menjelaskan kedua hal, apa itu A dan apa itu B lalu bagaimana kalau A berdialektika terhadap B, bagaimana pola energi dan geraknya, dan bagaimana A dan B itu bisa menjadi simpulan. Ini adalah landasan berpikir dulu untuk selanjutnya dibuatnya menyusun ayat-ayat suci selanjutnya.

Disinilah rasanya kita jauh tertinggal, kita masih berada pada tataran logika formal idealis, atau tataran percaya kepada sesuatu yang absurd, atau landasan berpikir kita masih sering menggunakan sistem berpikir dengan landasan kepercayaan yang tidak pernah terbukti. Sedangkan Lenin menuliskan kitab suci dengan urut sekali, dimulai dari materialisme sebagi bukti dan landasan berpikir, lalu menjelaskan hakekat benda, hakekat alam, dan hakekat manusia, dan tentu landasan berpikirnya dari pemikir/filfuf dan ahli-ahli fisika dan metafisika yang mendahuluinya, sampai bagaimana menjalankannya.

Namun menariknya disini Lenin menjelaskan kedua hakekat semua obyek dialektika, apa itu kritik, apa itu kompromi, apa itu anti-kritik, dari dialektika dua hal yang bersinggungan itu dia bisa melihat fungsi dan hakekat, dan lalu menempatkan kedalam suatu kondisi yang kontekstual, mana saatnya A dan mana saatnya B, dia bisa jelaskan hakekat itu.

Dari semua teori itu adalah diperlukan pengetahuan identifikasi hakekat dan fungsi dari dua hal yang berdialektika/berlawanan, lalu mempunyai kecerdasan penempatan secara kontekstual dan boleh berubah-ubah sesuai kondisi.

Mungkin kalau saya kontras-kontraskan, maka kitab suci Lenin searah dengan pemikiran Buddha, bagaimana hukum alam bergerak, namun perbedaan dengan Buddha adalah Lenin menggunakan landasan berpikir sesuai bukti dan boleh berubah terus/revisionis dengan bukti-bukti baru yang ada, sedangkan Buddha masih sangat tradisional (sangat boleh dimaklumi, masanya memang jauh) dalam mengembangkan pola pikir dan konsepnya, namun keduanya jelas berbasis alam bergerak.

Jadi perkenalkan bahwa marxis leninis memang suatu agama baru, agama yang ayat-ayat sucinya boleh berubah terus dan disusun atau diperbaharui berdasar science/bukti. Agama yang bisa menjelaskan hakekat-hakekat benda-benda alam dan methodologi dan pelaksanaan dan revisinya,agama yang bisa menjelaskan bagaimana manusia berpikir secara logika formal dan dialektika, agama yang bisa menjelaskan apa itu idealisme dan apa itu materialisme…agama yang bisa menjelaskan perbedaan spiritualisme dan agama…agama yang bisa memisahkan moralitas dan agama konvensional…agama yang tidak mempunyai takut akan kematian, dan menjelaskan bahwa kematian adalah suatu proses biologis yang wajar…agama yang berbasis pengetahuan yang mewajibkan tidak tahu menjadi tahu, agama yang memberikan petunjuk tidak menyerah untuk bisa mengelola dan mengendalikan alam, bukan alam yang mengendalikan kita,agama yang memberi petunjuk bahwa tidak jelas menjadi jelas, random menjadi berpola, tidak sadar menjadi sadar…agama yang mewajibkan mengukur dan mengetahui pola alam dan seterus-terusnya…agama yang mewajibkan keinginan atau mengejar untuk tahu terus menerus…agama yang bisa menjelaskan ruang dan waktu yang paling scientific untuk saat ini.

psikologi berasal dari fisiologi.
sadar dari bawah sadar
galaxy dari nebula.
organik dari inorganik.
kuantitatif menjadi kualitatif.

agama yang bisa menjelaskan apa itu subyektive dan apa itu obyektive, agama yang bisa menjelaskan kedua hakekat dari benda dan bukti yang berlawanan. Agama yang bisa menjelaskan bahwa kontradiksi benda/bukti adalah demi kemajuan. Agama yang bisa menjelaskan toleransi dan intoleransi. Agama yang mewajibkan umatnya memilih dengan keyakinan total (tidak boleh ditengah atau tanggung) untuk menjadi A atau B tapi didahului dengan bukti terlebih dahulu,bukti mendahului adalah syarat wajib. Agama yang berlandaskan bukti materi gerak alam untuk menjadi kepercayaan dan gagasan.

Agama yang mewajibkan semua harus terjelaskan dan hanyalah waktu yang membuktikan untuk terjelaskan dengan bukti nyata…bukan kepercayaan belaka…
Agama yang menyajikan menu bukti-bukti obyektive agar bisa dilihat,digunakan,dipercayai dan digunakan sebagai logik baru oleh banyak orang, bukan semata kepercayaan subyektive…yang nggak bisa dilihat dan dimanfaatkan oleh orang lain…

dan juga ini yang menarik dan belum pernah ada di agama yang pernah kita kenal sebelumnya…
agama yang bisa menjelaskan kesalahan-kesalahannya sendiri…(Lenin:Kesalahan2 dalam Revolusi atau Pelajaran dari Revolusi) atau bisa menegasi dan merubah dirinya sendiri…
agama yang mengakui kesalahannya untuk dikoreksi menjadi kebenaran langkah kedepan…

Asshadu Marx wa asshadu Lenin dar Trotskyullah,Hallelujah puji dialektika materialis, yang artinya, aku percaya bahwa engkau adalah tuhanku dan aku manunggaling kawulo gusti terhadapmu, pola pikirmu baru kucopy sedikit menjadi pola pikirku…engkau adalah aku, anna al haq…

belajarlah sampai ke negeri Moscow…

Islam, Komunisme dan Materialisme

Islam, Komunisme dan Materialisme

Bagaimanapun masyarakat tanpa kelas pertama dibentuk oleh Muhammad. Muhammad tidak hanya mengaku sebagai utusan Tuhan, tapi terbukti dia mampu membentuk tatanan strata politik dan ekonomi dan juga tanpa kelas meski tidak setara terhadap perempuan dan agama lain. Ijinkanlah saya menuduh bahwa Al-Quran dan Hadist itu sebenarnya “kitab suci” politik dan untuk menata struktur tatanan masyarakat.

Setelah sedikit membaca dari doktrin-doktrin marxis dan leninis, sebenarnya Islam dan Marxis Leninis mirip, persamaan keduanya adalah dogmatis, yang satu menggunakan mitos Allah yang satu menggunakan mitos negara. Keduanya mempunyai ilmu essence, marxis leninis ajaran essence-nya adalah dialektika materialisme, atau cara pandang alam bergerak, atau pola pikir dari syariat-syariatnya disusun sesuai pola bergeraknya alam. Sedangkan Islam essence-nya logika idealis, atau hanya gagasan Mohammad yang mengaku utusan Tuhan, disini pola pikirnya disusun tanpa ada bukti-bukti ilmiah. Inilah dasar filsafat atau landasan berpikir yang membedakan.

Untuk selanjutnya keduanya mempunyai methodologi syariat yang banyak sekali. Islam punya Al-Quran dan Hadist dan petunjuk2 untuk menata masyarakat dan berusaha memberikan keadilan bagi masyarakat. Demikian juga dengan Marxis Leninis, banyak sekali manifest dan petunjuk apa-apa yang harus dilakukan secara detil dituliskan Lenin. Lenin bisa menjelaskan materialis dan empiriokritisme sebagai filsafat alam atau dasar berpikir tentang alam bergerak dan diambil kesimpulan dalam pola pikir logic dan dialectic,kesalahan-kesalahan revolusi, pelajaran dari revolusi sampai apa yang harus dilakukan oleh revolusi. Sampai disini saya berkesimpulan bahwa proses kemerdekaan bangsa Indonesia belumlah revolusi atau sangat terburu-buru dan tanpa persiapan dan tidak jelas arahnya.

Setelah sedikit membaca “kho ping ho” Lenin dengan agak urut,ijinkanlah saya menuduh kesalahan-kesalahan bangsa Indonesia. Nasionalis adalah para pejuang kemerdekaan Indonesia yang berusaha mencari jalan kemerdekaan atau kalau kata bung Karno adalah revolusi. Namun saya menduga bin menuduh bahwa para pejuang kita itu masihlah terjangkit penyakit dialektika-nya hegel atau idealisme, mereka bilang sebagai marxis, dan mereka bilang revolusioner, tapi tidak mau melihat “bukti-bukti” hakekat dan methodologi Marxisme-Leninisme yang sudah ada. Mereka semua tidak mau melihat ada negara kuat yang lagi berdiri, dan punya buku petunjuk lengkap tapi tidak diikuti. Sampai disini saya hanya bisa mengurai, dari masa revolusi itu perbedaan kaum nasionalis dan komunis hanyalah kaum nasionalis mau mencari jalannya sendiri sedangkan kaum komunis sudah punya tata cara bagaimana revolusi harus dijalankan. Sekali lagi ini semua seperti pilihan,memilih mencari dan menyusun jalan sendiri atau memilih menjalankan “kitab suci” revolusi bolshewik. Disini tentu ada psikologi merasa mampu dan pintar, dan psikologi merasa bodoh dan sebaiknya mengikuti petunjuk.

Dari pengamatan saya, penyakit dialektika idealisme lebih mencolok setelah kemerdekaan, banyak ide, banyak gagasan tidak dilandasi bukti atau sistem berpikir dari materialis yang kuat. Disinilah perbedaan mendasar antara idealisme dan materialisme,idealisme hanyalah gagasan2 baru yang tidak berdasar suatu pola bukti, sedangkan materialisme adalah ide atau gagasan yang berasal dari pola pikir bukti. Pancasila yang kompromistis dan mengaduk-aduk atau mencampur-campur ide menunjukan bahwa itulah dialektika idealisme/kepercayaan bukanlah dialektika materialis, karena dialektika materialis harus berasal dari pola pikir alam dengan bukti yang kuat.

Ini hanyalah sekedar tinjauan masa lalu sejarah, untuk memperbaikinya tentunya kita harus berangkat dari psikologi memilih lagi…
Kalau kita merasa pandai dan mampu, maka kita mencari jalan sendiri lagi. Bolehlah ini dilakukan tapi mari landasan berpikirnya dirubah dulu dari idealisme ke materialisme. Baru setelah tercipta rumusan dari pengamatan materialisme, mari kita cari “JALAN BARU” sesuai pola pikir materialisme. Hal ini agak “rally” karena cukup panjang kita harus balik mendalami filsafat bolshewik dan filsafat materialisme.

Kalau kita merasa bodoh, dan mau menengok bukti, mari kita gunakan “kitab suci” yang telah ada, jadi umat juga ada enaknya, mau jadi umat-nya Amerika atau umatnya Russia, itu pilihan, tapi mereka sudah punya kitab suci yang mapan, tertata rapi, methodologis, dan terbukti mereka menjadi negara kuat.

sebagai kesimpulan
Persamaan dan perbedaan Islam dan Leninis/Trotskies adalah
1. Punya ilmu essence, Islam disusun atas dasar idealis atau gagasan mohammad semata yang mengaku utusan Tuhan sebagai mitos yang menguatkan dan menyatukan, Lenin menyusun ilmu essence berdasar materialis atau pola bergeraknya alam. Ini landasan berpikir dulu atau filsafat-nya dulu.
2. Keduanya mempunyai petunjuk jelas/syariat terhadap peradaban atau menata struktur sosial masyarakat.
3. Keduanya menggunakan satu mitos yang kuat, Islam menggunakan Allah, Lenin menggunakan negara.
4. Al-Quran belum memberikan petunjuk jelas atas revisionis, sedangkan Lenin sudah memberikan petunjuk jelas bahwa kitab suci harus direvisionis dalam Marx dan Revisionisme.
5. Keduanya harus diterapkan secara ketat dan kuat, atau totaliter dalam skala tertentu, Mohammad meski toleransi juga boleh dikatakan diktaktor dan sering tidak toleran, Marx/Lenin/Trotsky dan Stalin di sisi sebelahnya, sebenarnya mempunyai petunjuk dalam hal apa itu toleransi, apa itu kritik dan apa itu kompromistis, hanya skala mereka berbeda, Trotsky menekankan kritik adalah dialektika untuk tumbuh dan berkembang dalam skala tertentu, sebuah biji bisa berubah wujud dengan dua cara, bisa anda hancurkan, atau bisa anda biarkan tumbuh menjadi tanaman, begitulah Trotsky menggambarkan suatu kritisisme sebagai sebuah biji yang bisa berubah wujud dengan cara hancur atau menjadi tanaman.