Islam, Komunisme dan Materialisme
Islam, Komunisme dan Materialisme
Bagaimanapun masyarakat tanpa kelas pertama dibentuk oleh Muhammad. Muhammad tidak hanya mengaku sebagai utusan Tuhan, tapi terbukti dia mampu membentuk tatanan strata politik dan ekonomi dan juga tanpa kelas meski tidak setara terhadap perempuan dan agama lain. Ijinkanlah saya menuduh bahwa Al-Quran dan Hadist itu sebenarnya “kitab suci” politik dan untuk menata struktur tatanan masyarakat.
Setelah sedikit membaca dari doktrin-doktrin marxis dan leninis, sebenarnya Islam dan Marxis Leninis mirip, persamaan keduanya adalah dogmatis, yang satu menggunakan mitos Allah yang satu menggunakan mitos negara. Keduanya mempunyai ilmu essence, marxis leninis ajaran essence-nya adalah dialektika materialisme, atau cara pandang alam bergerak, atau pola pikir dari syariat-syariatnya disusun sesuai pola bergeraknya alam. Sedangkan Islam essence-nya logika idealis, atau hanya gagasan Mohammad yang mengaku utusan Tuhan, disini pola pikirnya disusun tanpa ada bukti-bukti ilmiah. Inilah dasar filsafat atau landasan berpikir yang membedakan.
Untuk selanjutnya keduanya mempunyai methodologi syariat yang banyak sekali. Islam punya Al-Quran dan Hadist dan petunjuk2 untuk menata masyarakat dan berusaha memberikan keadilan bagi masyarakat. Demikian juga dengan Marxis Leninis, banyak sekali manifest dan petunjuk apa-apa yang harus dilakukan secara detil dituliskan Lenin. Lenin bisa menjelaskan materialis dan empiriokritisme sebagai filsafat alam atau dasar berpikir tentang alam bergerak dan diambil kesimpulan dalam pola pikir logic dan dialectic,kesalahan-kesalahan revolusi, pelajaran dari revolusi sampai apa yang harus dilakukan oleh revolusi. Sampai disini saya berkesimpulan bahwa proses kemerdekaan bangsa Indonesia belumlah revolusi atau sangat terburu-buru dan tanpa persiapan dan tidak jelas arahnya.
Setelah sedikit membaca “kho ping ho” Lenin dengan agak urut,ijinkanlah saya menuduh kesalahan-kesalahan bangsa Indonesia. Nasionalis adalah para pejuang kemerdekaan Indonesia yang berusaha mencari jalan kemerdekaan atau kalau kata bung Karno adalah revolusi. Namun saya menduga bin menuduh bahwa para pejuang kita itu masihlah terjangkit penyakit dialektika-nya hegel atau idealisme, mereka bilang sebagai marxis, dan mereka bilang revolusioner, tapi tidak mau melihat “bukti-bukti” hakekat dan methodologi Marxisme-Leninisme yang sudah ada. Mereka semua tidak mau melihat ada negara kuat yang lagi berdiri, dan punya buku petunjuk lengkap tapi tidak diikuti. Sampai disini saya hanya bisa mengurai, dari masa revolusi itu perbedaan kaum nasionalis dan komunis hanyalah kaum nasionalis mau mencari jalannya sendiri sedangkan kaum komunis sudah punya tata cara bagaimana revolusi harus dijalankan. Sekali lagi ini semua seperti pilihan,memilih mencari dan menyusun jalan sendiri atau memilih menjalankan “kitab suci” revolusi bolshewik. Disini tentu ada psikologi merasa mampu dan pintar, dan psikologi merasa bodoh dan sebaiknya mengikuti petunjuk.
Dari pengamatan saya, penyakit dialektika idealisme lebih mencolok setelah kemerdekaan, banyak ide, banyak gagasan tidak dilandasi bukti atau sistem berpikir dari materialis yang kuat. Disinilah perbedaan mendasar antara idealisme dan materialisme,idealisme hanyalah gagasan2 baru yang tidak berdasar suatu pola bukti, sedangkan materialisme adalah ide atau gagasan yang berasal dari pola pikir bukti. Pancasila yang kompromistis dan mengaduk-aduk atau mencampur-campur ide menunjukan bahwa itulah dialektika idealisme/kepercayaan bukanlah dialektika materialis, karena dialektika materialis harus berasal dari pola pikir alam dengan bukti yang kuat.
Ini hanyalah sekedar tinjauan masa lalu sejarah, untuk memperbaikinya tentunya kita harus berangkat dari psikologi memilih lagi…
Kalau kita merasa pandai dan mampu, maka kita mencari jalan sendiri lagi. Bolehlah ini dilakukan tapi mari landasan berpikirnya dirubah dulu dari idealisme ke materialisme. Baru setelah tercipta rumusan dari pengamatan materialisme, mari kita cari “JALAN BARU” sesuai pola pikir materialisme. Hal ini agak “rally” karena cukup panjang kita harus balik mendalami filsafat bolshewik dan filsafat materialisme.
Kalau kita merasa bodoh, dan mau menengok bukti, mari kita gunakan “kitab suci” yang telah ada, jadi umat juga ada enaknya, mau jadi umat-nya Amerika atau umatnya Russia, itu pilihan, tapi mereka sudah punya kitab suci yang mapan, tertata rapi, methodologis, dan terbukti mereka menjadi negara kuat.
sebagai kesimpulan
Persamaan dan perbedaan Islam dan Leninis/Trotskies adalah
1. Punya ilmu essence, Islam disusun atas dasar idealis atau gagasan mohammad semata yang mengaku utusan Tuhan sebagai mitos yang menguatkan dan menyatukan, Lenin menyusun ilmu essence berdasar materialis atau pola bergeraknya alam. Ini landasan berpikir dulu atau filsafat-nya dulu.
2. Keduanya mempunyai petunjuk jelas/syariat terhadap peradaban atau menata struktur sosial masyarakat.
3. Keduanya menggunakan satu mitos yang kuat, Islam menggunakan Allah, Lenin menggunakan negara.
4. Al-Quran belum memberikan petunjuk jelas atas revisionis, sedangkan Lenin sudah memberikan petunjuk jelas bahwa kitab suci harus direvisionis dalam Marx dan Revisionisme.
5. Keduanya harus diterapkan secara ketat dan kuat, atau totaliter dalam skala tertentu, Mohammad meski toleransi juga boleh dikatakan diktaktor dan sering tidak toleran, Marx/Lenin/Trotsky dan Stalin di sisi sebelahnya, sebenarnya mempunyai petunjuk dalam hal apa itu toleransi, apa itu kritik dan apa itu kompromistis, hanya skala mereka berbeda, Trotsky menekankan kritik adalah dialektika untuk tumbuh dan berkembang dalam skala tertentu, sebuah biji bisa berubah wujud dengan dua cara, bisa anda hancurkan, atau bisa anda biarkan tumbuh menjadi tanaman, begitulah Trotsky menggambarkan suatu kritisisme sebagai sebuah biji yang bisa berubah wujud dengan cara hancur atau menjadi tanaman.
July 26th, 2009 at 12:38 am
Rusia Relijius dan Sekuler
Negara Rusia yang dikenal sebagai negara atheis nampaknya akan mengubah haluan ideologinya menjadi relijius sekuler. Rusia yang dulu melarang mata pelajaran agama di sekolah, kini mengijinkan sekolah-sekolah memberikan mata pelajaran agama dan mata pelajaran alternatif tentang sekularisme pada para siswanya.
Presiden Rusia Dmitry Medvedev sendiri yang mengumumkan proyek tersebut. Surat kabar Moscow Times edisi Rabu (22/7) mengutip pernyataan Medvedev yang mengatakan bahwa ia mendukung ide pelajaran dasar agama dan mata pelajaran sekulerisme di sekolah-sekolah menengah. Proyek ini akan mulai diberlakukan pada bulan Maret tahun depan.
Terkait rencana itu, Medvedev sudah melakukan pertemuan dengan para tokoh yang mewakili semua penganut agama di Rusia. Dengan adanya kebijakan baru ini, siswa sekolah menengah di Rusia dibebaskan untuk memilih empat mata pelajaran agama yang diakui di Rusia, yaitu agama ortodoks Rusia, Islam, Budha atau Yudaisme. Pengecualian diberlakukan pada agama Katolik Roma dan Protestan, karena pihak ortodoks Rusia menuding kedua agama itu telah melakukan upaya menari sebanyak-banyaknya penganut ortodoks Rusia untuk menganut kedua agama tersebut.
Menurut Medvedev, ia menyetujui ide pelajaran agama dan sekulerisme di sekolah-sekolah setelah mendapatkan masukkan dan permintaan dari sejumlah tokoh agama. Untuk sementara, program ini hanya diberlakukan di sebagian kecil sekolah yang hanya akan meliputi 250.000 siswa. Jika berhasil, kata Medvedev, program ini akan diberlakukan secara nasional pada tahun 2012.
Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Rusia, Andrei Fursenko menambahkan, pemerintah Rusia akan memberikan pelatihan terhadap 40.000 orang dan dana jutaan rubel untuk keperluan program tersebut.
Di Rusia, pelajaran agama selalu menjadi isu yang mengundang kontroversi serta perdebatan, karena Rusia menganut konsep atheis sekuler sejak berdirinya Uni Sovyet tahun 1991.. Kelompok-kelompok yang mengklaim sebagai kelompok hak asasi sangat khawatir jika kekuatan agama berkembang di negara itu. Oleh sebab itu, kelompok ini menentang ketika gereja ortodoks Rusia mengusulkan agar sekolah-sekolah di Rusia memberikan pelajaran agama ortodoks Rusia sebagai pelajaran wajid para siswa.
Gereja Ortodoks Rusia mengklaim memiliki pengikut yang jumlahnya lebih dari 100 juta orang. Tapi sejumlah polling menunjukkan hanya lima persen oran Rusia yang taat pada agamanya. Sementara Islam menjadi agama kedua terbesar di Rusia dengan jumlah Muslim meliputi 15 persen dari 145 juta penduduk negeri itu