Inggris,Bola,dan Kapitalisme
Inggris dikenal sebagai negara yg melakukan expansi keluar negerinya pada era
awal2 kapitalisme,disamping spanyol, portugis dan tentunya belanda. Negara2
eropa ini butuh tanah baru yg bisa mereka rampok.
Leon Trotsky seorang pendiri USSR mengatakan bahwa kalau amerika itu hobbynya
olahraga dan ekonomi, maka orang2 inggris adalah orang2 kasar. Bagaimanapun USSR
berada di eropa bagian timur, jadi terjadi pencampuran budaya barat dan timur di
USSR.
Pada faktanya, inggris melahirkan grup2 musik keras,kasar, atau cadas. Boleh
kita sebut the beatles, pada eranya tentu musicnya sudah dianggap music cadas
sampai bung karno bilang musik ngak ngik ngok. Lalu ada Iron Maiden, grup musik
cadas dari Inggris, dan rock yang bercampur dengan taste dan kualitas bermusic
tinggi adalah Queen.
Sepak bola inggris sendiri adalah sepak bola dengan gaya speed and power dan
kasar,lain dengan gaya italia yang pelan dan menyengat. Namun 3 tahun belakangan
ini sepak bola inggris merajai ajang liga champion. Kembalinya dominasi Inggris
dimulai dari kembalinya kekuatan liverpool yg secara mengejutkan melalui power
dan semangatnya bisa mengejar ketertinggalan dengan ac milan, dan memenangkan
adu penalty. Setelah itu klub2 inggris bangkit dan seperti merajai era liga
champion. Meski tahun 2007 ac milan menjuarai liga champion, tapi perempat
finalisnya 3 lainnya adalah klub2 inggris. Tahun 2008 kembali dominasi inggris
merajai liga champion lagi, final diadakan di moscow antara MU dan Chelsea yang
dimenangkan oleh MU dengan adu penalty, chelsea yang hampir menang, kalah mental
karena JT terpeleset yang mengakibatkan si Roman Abramovich jantungen sambil
memeluk istri mudanya yang supermodel dan masih kinyis-kinyis.
Tahun ini dominasi MU, Liverpool, dan Chelsea unjuk gigi lagi di ajang piala
champion. Bahkan Liverpool tidak tanggung2, Real Madrid sang juara piala
champion paling banyak, seperti diajari main bola oleh sang pangeran Liverpool
si Gerrard yang menginspirasi dan memberi energi kepada teman2-nya sehingga
Madrid dua kali diajari cara main bola yang bener oleh Liverpool.
Inggris boleh mendominasi liga champion, tapi sebentar…kita lihat sisi lain,
yaitu ekonomi. Inggris adalah mbahnya imperialis, tapi mari kita lihat siapa
pemilik klub2 jawara di Inggris.MU dan Liverpool dimiliki oleh orang2 amerika.
Lalu chelsea sudah pasti milik mantan boss minyak yang pernah menjarah
perusahaan minya Russia Sibneft, ROman Abramovich. Arsenal-pun hampir separoh
sahamnya dimiliki oleh orang Russia, Usmanov boss telekomunikasi dari Russia,
Porthsmouth, juga dimiliki oleh Alexander Gaydamak, yang ayahnya ditangkap
karena dituduh pedagang senjata gelap. Manchester City, dimiliki oleh abu dhabi
capital.
Yang saya tahu kalo boss ROman,Gaydamak dan Usmanov itu kapitalnya valid, atau
membeli tidak dengan loan, bahkan saking cintanya sama sepak bola boss Roman
rela tekor demi chelsea menjarah piala champion, demikian juga tentu abu dhabi
capital itu juga tidak menggunakan loan dalam membeli Manchester city yang
dibelinya dari Thaksin Shinawatra mantan PM thailand pemilik perusahaan satelit.
Yang unik adalah kerakusan orang amerika, baik pembeli Liverpool maupun MU,
keduanya membeli dua club itu dengan hutang, nggak heran kalau krisis begini
mereka berdua secara finansial yang paling cepet kena, dan tentu George Gillet
dan Tom Hick pemilik liverpool ini sering tidak sependapat atas hasil
investasinya.
Apapun, dominasi liga champion 3 tahun belakangan ini didominasi oleh MU,
Chelsea, Liverpool, dan Arsenal yang semuanya bukan milik orang Inggris. Jadi
sepakbola inggris telah dikapitalisasi oleh orang2 luar negeri, baik Amerika
(MU,Liverpool), Russia (chelsea,Porthsmouth,Arsen
(manchester city).
Di sisi lain saya membayangkan ketika dulu Boss Roman masih sering datang ke
pertandingan di Stamford Bridge, waktu era jose mourinho, dia selalu berdiri,
tersenyum, dan sedakep, melihat pasukan the Bluesnya bertanding melawan musuh,
mengingatkan saya akan gaya julius caezar dengan senyum bahagia melihat singa
beradu dan gladiator beradu, julius dan Roman sama2 bahagia melihat sesuatu
aduan.
===========================
Komen dari Bung Duke seorang Liverpudian
tambahan untuk dominasi club liga inggris di eropah terutama
dalam beberapa tahun terakhir, memang dikarenakan kapitalisme.
gak bisa dipungkiri, pamor liga inggris sedang luar biasa dan
memegang rating tertinggi dalam popularitas maupun kualitas club.
namun tidak sebanding dgn prestasi (dan pamor) sepak bola inggris
secara timnas maupun talenta locals, baik pemain maupun pelatih.
mengakibatkan tradisi ’speed and power’ (kick n rush) jika bicara
khasanah karakter bola, kini cenderung ditinggalkan dan langka.
hasil kejuaraan dunia terakhir bisa menjelaskan peta dan gaya
sepak bola mutakhir, walau gak juga berarti telah objektif untuk
mencerminkan trend dan kiblat yg sesungguhnya. misalnya tradisi
italy yg lekat dgn catenaccio (indah dan atraktif gak penting, yg
terpenting hasil akhir walaupun cuma 1 - 0 ato duel adu penalti),
mewakili strategi defensif namun berdaya hasil. maka saat timnas
inggris sudah mati akal dan kalap karena gak pernah menang, nekat
menyewa capelo yg beda tradisi dan gaya. hanya untuk memberikan
kemenangan buat timnas inggris (dan trophi) bagaimanapun caranya.
kemudian finalis jerman adalah kebalikan dari italy, staying power
namun punya kesamaan pola penguasaan lapangan berupa kecenderungan
zona marking. menurutku, zona marking cukup efektif saat sepak bola
membutuhkan strategi yg mengandalkan kekompakan as one solid team
dan terutama ditambah bonus komunikasi verbal saling nyambung, dan
itu berlaku untuk fanatisme kesebelasan yg turun atas nama negara.
kebalikannya untuk club, lebih efektif strategi man to man marking.
prancis dan portugal, sudah jelas mengadaptasi sepak bola indah dan
atraktif terutama pamer skill individu ala gaya brazil. namun jika
prancis dan porto ‘lebih beruntung’ masuk semifinal ketimbang empu
brazil (dan argentina) kemarin, gak lantas berarti si pemain eropah
lebih jago dan sukses ketimbang brazil, tapi faktor eksternal lain.
pengamatan ini juga sekaligus boleh membenarkan bahwa pada akhirnya
pemain2 dari negara prancis, portugal, brazil, argentina termasuk
para pelatihnya, adalah pengekspor dan pemasok selebritis sepak
bola ke seluruh dunia terutama liga inggris. hukum kapitalis udah
termasuk di sini terutama pada segi ‘human trafficking’ ehehee
salah satu yg menarik untuk diamati justru fenomena bola spanyol.
keberhasilannya di piala eropah terakhir seolah2 kejutan, padahal
bukan. secara timnas, keberhasilan mereka mencakup berbagai aspek
penting seperti pembibitan dan terutama persatuan internal antara
‘orang madrid’, kaum catalan dan orang basques. tapi ini hal lain.
[http://endyonisius.multiply.com/journal/item/34/25_REASONS_WHY_SPAIN_SHOULD_WIN\
_THE_EUROS]
lalu untuk la liga (spanyol) masih berkesan murni dari campur
tangan kapitalisme terutama jajaran pemegang aset (investor asing).
dan ’secara sepak bola’, gw sebetulnya lebih enjoy dan involve dgn
liga spanyol ketimbang inggris yg bak selebritis (mirip selingkuh
artis sinetron dan artis legislatif di indonesia). maka itu selain
sbg liverpudlian, gw juga fans fanatik buat tim barca un catalans.
sekarang balik kepengamatan hasil liga champion beberapa taon akhir.
memang club dari liga inggris amat mendominasi, namun bukanlah para
pemain inggris berikut tradisinya. arsenal cuma punya theo walcot
mewakili cockney, liverpool cuma si carra dan gerrard yg mewakili
’scousers people’ (perhatiin deh kalo carra or gerrard diwawancara,
logatnya ‘minta ampun’). sepak bola inggris sesungguhnya terancam.
ditambah lagi intervensi pemilik modal yg cenderung mengacak-acak
dunia sepak bola atas nama duit dan ‘perdagangan manusia’, walau
dalam batas tertentu masih bisa diatasi oleh terutama para artis
sepak bolanya sendiri semacam kaka atau benitez buat pelatihnya.
namun yg pasti dari efek kapitalisme, adalah monopoli terutama
penayangan liga inggris jadi ekslusif dan gak gratis lagi ehehee