Archive for April, 2009


Mencari solusi tantangan masa depan jaman…

Mencari solusi tantangan masa depan jaman…

Boleh dibilang sebenarnya dialektika materialisme adalah suatu cara pandang alam yang menganggap bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah hasil dari dialektika materialisme belaka. Dalam cara pandang dialektika materialisme Alam ini bergerak dan bekerja menganut hukum utama

Segala sesuatunya yang paling pasti adalah perubahan

Kontradiksi dua kutub berlawanan yang saling mempengaruhi
Perubahan kuantitas menjadi kualitas dan vice versa
Negasi dari negasi

Bisa saya jelaskan perubahan akan terjadi detik demi detik dari sistem sel kita yang paling kecil. Perubahan itu tidak bisa kita cegah. Perubahan itu keharusan yang bekerja secara otomatis mekanistik.

Kontradiksi dua kutub bisa jelaskan bahwa kestabilan sistem gravitasi galaxy tata surya adalah karena adanya gaya tarik dan gaya tolak sekaligus yang saling menyetabilkan. Demikian juga dengan kontradiksional gravitasi kutub utara dan kutub selatan membuat sistem bumi kita menjadi bergerak

Perubahan kuantitas menjadi kualitas bisa kita lihat dari evolusi, perubahan yang pelan-pelan dari satu species mahluk hidup, mendadak bisa berubah menjadi manusia yang jauh lebih sempurna. Atau juga air dipanaskan sebelum suhu mencapai 100 derajad maka air masih berbentuk air dan ketika suhu mencapai 100 derajad maka air berubah wujud menjadi uap

Negasi dari negasi adalah hukum yang mengubah apa yang ada sekarang berubah terbalik menjadi lawannya. Sebagai contoh negasi dari negasi positive adalah sebuah biji. Sebuah biji bisa berubah wujud dengan dua cara, anda hancurkan atau anda biarkan tumbuh. Tapi ketika hancur atau berubah wujud biji itu telah berubah bentuk.

Perubahan tidaklah menakutkan bagi kalangan marxis, karena kalangan marxis punya doktrin ketidakpastian menjadi kepastian, sadar dari bawah sadar, psikologi dari fisiologi, subyektive menjadi obyektive.

Semua akan menjadi terprediksi dengan data-data yang akurat, ketidakpastian yang berupa random acak, kalau diamati akan tetap membentuk suatu pola tertentu yang berulang. Kaum marxis tidaklah boleh menganggap ketidakpastian esok hari tanpa rencana atau prediksi, karena sebenarnya masa depan adalah pengulangan pola dari masa lampau, materialisme history masa lampau sebenarnya telah membentuk suatu pola hakekat yang bisa dibaca dan akan terulang di masa depan. Menengok history masa lampau digunakan untuk memprediksi masa depan. Kaum marxis tidaklah boleh menyerahkan nasib masa depannya kepada kekuasaan absolut yang absurd (Remotullah). Ini hanya masalah kemauan belajarĀ  methodologi ilmu dialektika materialisme saja.

Psikologi dari fisiologi bisa kita lihat, bagaimana seorang yg pendek berusaha mengambil barang diatas lemari, tentu dengan adanya fisiologi tubuh fisik pendek ia akan mencari akal bagaimana mengambil barang diatas lemari yang tidak bisa dijangkaunya tanpa alat. Hal ini membuktikan akal dipengaruhi oleh keadaan fisik/materi.

Dengan pengetahuan dialektika materialistis ini, sebenarnya alam ini bergerak sangat wajar, kalangan ini tidak memberi ruang bagi Tuhan dalam mengatur alam, semua adalah gejala alam materialistis yang berdialektika dan bisa diprediksi saja.

Tsunami bisa diprediksi, meteor akan menerjang bumi bisa diprediksi, hampir semuanya bisa terprediksi dengan ilmu science.

Namun manusia pada dasarnya tetap butuh perlindungan. Manusia tenteram jika ada perlindungan, sehingga mitos Tuhan dianut selama 2000 tahun lebih karena memang terbukti bisa mengurangi kadar depresi manusia. Dalam penelitian statistik terbukti orang beragama lebih rileks daripada orang2 atheis.

Namun masa depan adalah masa yang lebih rasional, masa kompetisi ilmu pengetahuan. Karen Armstrong dalam bukunya History of God halaman terakhir mengulas bab Adakah masa depan bagi Tuhan???

Tidak mudah menjawab ini…Karen Armstrong meninggalkan catatan, Tuhan hanya bisa diselamatkan dengan cara diimani secara subyektive personal atau mistik (konsep kesadaran diri-nya Descartes dan dikembangkan oleh mas Leonardo Rimba), atau berdasar pengalaman pribadi manusia yang berbeda-beda. Namun dalam historynya, kaum mistik ansich tidak mampu membawa perubahan peradaban yang lebih baik di dunia, mereka terlalu sibuk dengan urusan Tuhan subyektive personalnya.

Untuk itu mungkin kemampuan menggabungkan dialektika materialisme yang membuat manusia berpikir rasional dengan mengimani Tuhan secara subyektive personal adalah jalan keluar bagi manusia masa depan. Namun hal ini sedikit berisiko antara pencampuradukan logika mistika (tentang ketuhanan) dan rasionalisme analisa. Sebenarnya keduanya kontradiksio dan bisa saling menginterferen pemikiran. Namun kalau kita ahli dalam berkonstektual kapan harus berlogika mystika (berkeTuhanan) dan kapan harus berdialektika materialisme, maka kitapun akan bisa menjadi manusia unggul yang lebih baik. Kecerdasan konstektual inilah yang dibutuhkan manusia di masa depan. Akhir kata, alam tetap bisa diprediksikan dan God tidak sedikitpun mencampuri urusan alam dan manusia, adapun kebutuhan akan perlindungan God bisa anda raih dengan cara subyektive personal seperti meditasi/sholat/dzikir dsb. Yang jelas, jangan lupa bahwa alam ini bekerja bukanlah Remotullah (dikendalikan God). Sesungguhnya tidak ada satu hukum Tuhan-pun (persepsi kaum agama) yg bekerja di alam ini.

wahai bangsa Indonesia, bangunlah dan bersiaplah ke era baru rasionalisme, kita hanya bisa bersaing dengan negara barat kalau rakyat kita rasional…

*Catatan:
Menurut Karen Armstrong
Tuhan Obyektive seperti yang ada di kitab suci masa depannya sungguh suram.

Implementasi Logika, Dialektika baik yang materialis dan idealis for company

Logika Idealis=ini adalah cara berpikir/kepercayaan tanpa komparasi/dialektika…pokoknya apa yang dia pikir paling benar. Ini cocok bagi sales, karena harus yakin produknya harus paling bagus dan nggak boleh produk lain lebih bagus. Kira2 kalau kepercayaan ini saya identifikasikan dng Islam, karena nggak boleh menerima komparasi sisi sebaliknya

Dialektika idealis=ini adalah cara berpikir/kepercayaan dng komparasi/dialektika tebak menebak buah manggis. Ini cocok bagi marketing, karena marketing harus melakukan komparasi untuk tahu kelemahan dan kelebihan produk sendiri dan produk lawan, tapi karena tugasnya create brand maka unsur subyektive masih kental. Kalo agama kira2 katholik-lah, roma dah mau ketemu ama darwinisme, setidaknya mereka telah lakukan dialektika meski belum ada kesimpulannya.

Dialektika materialis=ini adalah cara berpikir technical, kita punya produk lagi dikomplain, teknisi bilang kesalahan ada di klien, gw bilang ada dua hal
1. obyektive (kesalahan ada di kualitas produk kita sendiri sehingga menyebabkan masalah secara general)
2. subyektive (kesalahan ada di sistem klien, problem lebih terfokus)

kedua hal itu saya suruh identifikasi, baik mencari problem obyektive dan subyektive

lalu komparasikan terus, kalau klien dibuat a hasilnya bagaimana kalau klien dibuat b hasilnya bagaimana.

kalau hasilnya masih jelek semua tentu ada faktor obyektive yg lebih kuat. Kesalahan in general.
kalau hasilnya ada yang bagus tapi ada yg jelek tentu ada faktor subyektive yang lebih kuat.

semua harus berbasis bukti2 yang diperoleh untuk ambil kesimpulan

berapa prosentasi problem di titik obyektive dan berapa prosen problem di titik subyektive.

dan ini mudah diimplementasikan karena obyeknya technical dan diujicoba langsung mendapat kesimpulan.

tapi kira2 begitu cara saya menyampaikan uraian detect masalah dan mencari solusi, dengan dialektika materialis.