<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Konstekstual idealis dan marxis</title>
	<atom:link href="http://alexarussia.blog.friendster.com/2009/04/konstekstual-idealis-dan-marxis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alexarussia.blog.friendster.com/2009/04/konstekstual-idealis-dan-marxis/</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 08:21:28 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: drajat09</title>
		<link>http://alexarussia.blog.friendster.com/2009/04/konstekstual-idealis-dan-marxis/#comment-120</link>
		<dc:creator>drajat09</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 09:29:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://alexarussia.blog.friendster.com/?p=542#comment-120</guid>
		<description>RUSAKNYA LOGIKA MATERIALISME

Dari awal bab ini, jelas dinyatakan bahwa zat tidak mempunyai keberadaan mutlak, tidak seperti pernyataan penganut materialisme, tetapi merupakan sekumpulan kesan indera yang diciptakan oleh Allah. Penganut materialisme menolak realitas bukti ini, yang merusak filsafat mereka, dengan cara yang sangat dogmatis dan mengemukakan antitesis yang tidak berdasar. 
Contohnya, salah satu pembela terbesar filsafat materialisme di abad 20, seorang Marxis yang tekun, George Politzer, untuk keberadaan zat, memberikan "contoh bus" sebagai "bukti terbesar". Menurut Politzer, para filsuf yang berpikir bahwa zat hanya merupakan persepsi yang bergerak menjauh seperti ketika mereka melihat sebuah bus akan bergerak dan hal ini merupakan bukti keberadaan fisik zat.34
Ketika penganut materialisme lain yang terkemuka, Johnson, mengatakan bahwa zat itu merupakan sekumpulan persepsi, ia berupaya membuktikan keberadaan fisik batu dengan menendangnya.35
Contoh serupa diberikan oleh Friedrich Engels, penasehat Politzer dan, bersama dengan Karl Marx, pendiri materialisme dialektik. Ia menulis, "jika kue yang kita makan hanya merupakan persepsi, maka kue itu tidak akan menghentikan rasa lapar kita".36
Ada contoh serupa dan beberapa kalimat seperti "anda memahami keberadaan zat jika anda terbanting jatuh di permukaan" di buku-buku penulis materialisme terkenal seperti Marx, Engels, Lenin dan lain-lain.
Pemahaman salah yang memberi jalan untuk contoh-contoh materialisme ini adalah menafsirkan "zat ialah persepsi" sebagai "zat merupakan permainan cahaya". Mereka mengira bahwa persepsi terbatas untuk dilihat dan bahwa indera lain seperti sentuhan mempunyai korelasi fisik. Sebuah bus yang menabrak seseorang membuat mereka berkata "awas, bus menabrak, karena itu bukan persepsi". Mereka tidak memahami bahwa semua persepsi yang dialami selama bus menabrak, seperti keras, tabrakan, sakit, juga terbentuk dalam otak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>RUSAKNYA LOGIKA MATERIALISME</p>
<p>Dari awal bab ini, jelas dinyatakan bahwa zat tidak mempunyai keberadaan mutlak, tidak seperti pernyataan penganut materialisme, tetapi merupakan sekumpulan kesan indera yang diciptakan oleh Allah. Penganut materialisme menolak realitas bukti ini, yang merusak filsafat mereka, dengan cara yang sangat dogmatis dan mengemukakan antitesis yang tidak berdasar.<br />
Contohnya, salah satu pembela terbesar filsafat materialisme di abad 20, seorang Marxis yang tekun, George Politzer, untuk keberadaan zat, memberikan &#8220;contoh bus&#8221; sebagai &#8220;bukti terbesar&#8221;. Menurut Politzer, para filsuf yang berpikir bahwa zat hanya merupakan persepsi yang bergerak menjauh seperti ketika mereka melihat sebuah bus akan bergerak dan hal ini merupakan bukti keberadaan fisik zat.34<br />
Ketika penganut materialisme lain yang terkemuka, Johnson, mengatakan bahwa zat itu merupakan sekumpulan persepsi, ia berupaya membuktikan keberadaan fisik batu dengan menendangnya.35<br />
Contoh serupa diberikan oleh Friedrich Engels, penasehat Politzer dan, bersama dengan Karl Marx, pendiri materialisme dialektik. Ia menulis, &#8220;jika kue yang kita makan hanya merupakan persepsi, maka kue itu tidak akan menghentikan rasa lapar kita&#8221;.36<br />
Ada contoh serupa dan beberapa kalimat seperti &#8220;anda memahami keberadaan zat jika anda terbanting jatuh di permukaan&#8221; di buku-buku penulis materialisme terkenal seperti Marx, Engels, Lenin dan lain-lain.<br />
Pemahaman salah yang memberi jalan untuk contoh-contoh materialisme ini adalah menafsirkan &#8220;zat ialah persepsi&#8221; sebagai &#8220;zat merupakan permainan cahaya&#8221;. Mereka mengira bahwa persepsi terbatas untuk dilihat dan bahwa indera lain seperti sentuhan mempunyai korelasi fisik. Sebuah bus yang menabrak seseorang membuat mereka berkata &#8220;awas, bus menabrak, karena itu bukan persepsi&#8221;. Mereka tidak memahami bahwa semua persepsi yang dialami selama bus menabrak, seperti keras, tabrakan, sakit, juga terbentuk dalam otak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: drajat09</title>
		<link>http://alexarussia.blog.friendster.com/2009/04/konstekstual-idealis-dan-marxis/#comment-119</link>
		<dc:creator>drajat09</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 09:28:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://alexarussia.blog.friendster.com/?p=542#comment-119</guid>
		<description>SEGALA YANG ANDA MILIKI PADA HAKIKATNYA SEMU

Sebagaimana yang dapat terlihat dengan jelas, fakta ilmiah menyatakan bahwa “alam luar” tidak memiliki realitas materi dan bahwa ini merupakan sekumpulan kesan yang disajikan untuk roh kita oleh Allah dengan tiada henti dan abadi. Namun demikian, manusia biasanya tidak memasukkan, atau tidak ingin dimasukkan, segalanya dalam konsep "alam luar".
Renungkanlah hal ini dengan jujur dan tegas. Anda akan menyadari bahwa rumah, mebel, mobil—yang mungkin baru saja dibeli, kantor, permata, rekening bank, almari pakaian, pasangan hidup, anak-anak, teman, dan lain-lain yang anda miliki sebenarnya termasuk dalam alam luar yang bersifat khayal yang tertuju kepada anda. Segala yang anda lihat, dengar, atau rasakan—pendek kata—melalui panca indera sekitar anda merupakan bagian dari "alam khayalan" ini: suara penyanyi favorit anda, kerasnya kursi yang anda duduki, parfum yang baunya anda sukai, speedboat yang bergerak cepat di atas air, kebun anda yang subur, komputer yang anda gunakan pada pekerjaan anda, atau hi-fi anda yang berteknologi tercanggih...
Hal ini merupakan realitas, karena dunia hanya merupakan sekumpulan kesan yang diciptakan untuk menguji manusia. Manusia diuji melalui kehidupannya yang terbatas dengan persepsi yang tiada memiliki realitas. Persepsi-persepsi ini disajikan dengan tujuan sebagai daya tarik. Fakta ini disebutkan dalam Al-Qur'an: 

Menjadi tampak indah bagi manusia kecintaan kepada yang diingininya; perempuan-perempuan, putera-putera, emas dan perak yang bertimbun-timbun, serta kuda pilihan yang diselar, binatang ternak dan tanah ladang. Itulah harta benda dalam kehidupan dunia, tetapi kepada Allah itulah tempat kembali terbaik. (Surat Aali 'Imraan, 14) 

Sebagian besar manusia mengejar agamanya jauh dari dayatarik harta benda, kekayaan, timbunan yang menggunung dari emas, perak, dolar, rekening bank, kartu kredit, almari pakaian yang penuh dengan pakaian, mobil model terbaru, pendek kata, segala bentuk kekayaan yang mereka miliki atau diupayakan untuk dimiliki. Mereka hanya lebih menekankan dunia ini namun melupakan akhirat. Mereka tertipu oleh dayatarik kehidupan dunia, dan lalai untuk menegakkan shalat, memberi sedekah kepada kaum miskin, dan menjalankan ibadah yang akan mensejahterakan mereka di hari kemudian.  Mereka berkata, "Saya punya sesuatu untuk dikerjakan", dan "Saya punya cita-cita", "Saya bertanggung jawab", "Saya tidak punya cukup waktu", "Saya punya sesuatu untuk diselesaikan", dan "Saya akan lakukan nanti". Mereka menghabiskan kehidupannya hanya untuk memenuhi kehidupan dunia. Dalam ayat "Mereka hanya mengetahui yang lahir dalam kehidupan dunia, tetapi akhirat mereka lalaikan." (Surat ar-Ruum, 7), kesalahanpahaman ini dijelaskan.

KETERANGAN HALAMAN 174
Jika kita merenungkan dalam-dalam semua yang dikatakan di sini, kita akan segera menyadari sendiri situasi ajaib yang luar biasa: bahwa semua kejadian di dunia tidak lain kecuali imajinasi belaka...

Fakta yang kita gambarkan di bab ini, yaitu bahwa segala sesuatu merupakan kesan, sangat penting karena implikasinya yang menyebabkan segala nafsu dan batas-batas menjadi tiada berarti. Pembuktian fakta ini menjelaskan bahwa segala yang orang miliki atau yang diusahakan keras untuk dimiliki—kekayaan yang dicari dengan rakus, anak-anak yang mereka banggakan, pasangan hidup yang mereka anggap paling dekat dengannya, teman-teman, tubuh mereka, status sosial yang mereka yakini terpandang, sekolah yang mereka hadiri, hari libur yang mereka isi—tiada berarti selain sekadar ilusi. Karena itu, segala upaya, waktu yang dihabiskan, dan ketamakannya, terbukti sia-sia belaka. 
Inilah penyebab banyak orang membodohi diri-sendiri ketika mereka menimbun harta dan kekayaan atau “kapal yachts, helikopter, saham, rumah dan tanah" seolah-olah benar-benar ada. Orang-orang itu memamerkan kapal yacht, mobil, tiada henti membicarakan kekayaan mereka, menganggap kedudukan mereka lebih tinggi dari orang lain, dan tetap mengira bahwa mereka berhasil karena semua ini; mereka semestinya benar-benar memikirkan jenis keadaan yang akan mereka temukan sendiri di dalamnya segera setelah menyadari bahwa kesuksesan itu tiada lain kecuali ilusi belaka. 
Pemandangan ini juga terlihat berulang kali dalam mimpi. Dalam mimpi, mereka juga mempunyai rumah, mobil yang melaju cepat, permata yang sangat indah, tumpukan dolar, emas dan perak. Dalam mimpi, mereka juga berkedudukan tinggi, mempunyai pabrik sendiri dengan jutaan pekerja, memiliki kekuasaan atas banyak orang, dan mengenakan pakaian yang dikagumi oleh setiap orang. Sebagaimana orang yang membanggakan miliknya terjaga dari mimpinya akan ditertawakan, ia pasti juga akan diejek bila memamerkan kesan yang ia lihat di dunia ini. Apa yang ia lihat baik yang ada dalam mimpi maupun di dunia hanya merupakan kesan di dalam benaknya.
Begitu pula, cara orang bereaksi terhadap peristiwa yang mereka alami di dunia akan membuat mereka merasa malu ketika mereka menyadari realitasnya. Mereka yang berselisih satu dengan yang lain, berdebat mati-matian, menipu, menyuap, memalsukan, berbohong, kikir, banyak melakukan kesalahan kepada orang lain, memukul, dan mengutuk orang lain, sewenang-wenang, bernafsu mengejar jabatan dan kedudukan, iri hati, dan pamer, akan tercemar ketika mereka menyadari telah melakukan semua ini di alam mimpi. 
Karena Allah menciptakan semua kesan ini, Pemilik Akhir segala yang ada dan tiada ialah Allah sendiri. Fakta ini ditekankan dalam Al-Qur'an: 

Milik Allah segala yang di langit dan yang di bumi. Dan Ia meliputi segala sesuatu (Surat an-Nisaa’, 126) 

Sungguh merupakan kebodohan besar mencampakkan agama demi memenuhi hawa nafsu yang bersifat khayalan dan kehilangan kehidupan kekal yang berarti kehilangan selama-lamanya.
Pada tahap ini, satu hal mesti diperhatikan. Ini tidak berarti bahwa "hak milik, kekayaan, anak, pasangan hidup, teman, kedudukan yang anda miliki yang dengannya anda menjadi bakhil atau kikir, akan sirna cepat atau lambat, dan karena itu tidak berarti apa-apa", tetapi bahwa "semua milik yang tampaknya anda miliki itu benar-benar tidak ada, tetapi semuanya itu hanya mimpi yang terdiri dari kesan-kesan yang Allah tunjukkan kepada anda untuk menguji anda". Seperti yang anda lihat, ada perbedaan mencolok antara dua pernyataan tersebut.
Meski manusia tidak ingin segera mengakui kebenaran ini dan justru menipu diri-sendiri dengan menganggap bahwa segala yang ia miliki benar-benar ada, ia akhirnya meninggal dan di hari kemudian segalanya akan jelas ketika kita dibangkitkan lagi. Pada hari itu "tajamlah mata manusia" (Surat Qaaf, 22) dan kita akan melihat segalanya lebih jelas. Meskipun demikian, jika kita telah menghabiskan kehidupan kita mengejar tujuan yang bersifat khayalan itu, kita akan berkeinginan tidak pernah hidup dalam kehidupan ini dan berkata "Wahai! Cobalah kematian cukup menyudahi aku! Harta kekayaanku tak bermanfaat bagiku! Kekuasaanku pun hancur semua!” (Surat al-Haaqqah, 27-29).
Di sisi lain, yang semestinya dilakukan oleh orang bijaksana adalah berupaya memahami realitas terbesar alam semesta di sini di dunia ini, ketika ia masih punya banyak waktu. Kalau tidak, ia akan menghabiskan seluruh hidupnya mengejar impian dan menghadapi hukuman yang menyedihkan pada akhirnya. Dalam Al-Qur'an, keadaan akhir manusia yang mengejar ilusi (atau khayalan) di dunia ini dan melupakan Penciptanya, dinyatakan sebagai berikut:

Tetapi mereka yang kafir, amal mereka seperti bayangan  di padang pasir, yang oleh orang yang sedang kehausan dikira air, sehingga bila ia sampai ke tempatnya, tak ada apa-apa, tetapi yang ditemuinya Allah bersama dia, dan Allah membuat perhitungan. (Surat an-Nuur, 39)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>SEGALA YANG ANDA MILIKI PADA HAKIKATNYA SEMU</p>
<p>Sebagaimana yang dapat terlihat dengan jelas, fakta ilmiah menyatakan bahwa “alam luar” tidak memiliki realitas materi dan bahwa ini merupakan sekumpulan kesan yang disajikan untuk roh kita oleh Allah dengan tiada henti dan abadi. Namun demikian, manusia biasanya tidak memasukkan, atau tidak ingin dimasukkan, segalanya dalam konsep &#8220;alam luar&#8221;.<br />
Renungkanlah hal ini dengan jujur dan tegas. Anda akan menyadari bahwa rumah, mebel, mobil—yang mungkin baru saja dibeli, kantor, permata, rekening bank, almari pakaian, pasangan hidup, anak-anak, teman, dan lain-lain yang anda miliki sebenarnya termasuk dalam alam luar yang bersifat khayal yang tertuju kepada anda. Segala yang anda lihat, dengar, atau rasakan—pendek kata—melalui panca indera sekitar anda merupakan bagian dari &#8220;alam khayalan&#8221; ini: suara penyanyi favorit anda, kerasnya kursi yang anda duduki, parfum yang baunya anda sukai, speedboat yang bergerak cepat di atas air, kebun anda yang subur, komputer yang anda gunakan pada pekerjaan anda, atau hi-fi anda yang berteknologi tercanggih&#8230;<br />
Hal ini merupakan realitas, karena dunia hanya merupakan sekumpulan kesan yang diciptakan untuk menguji manusia. Manusia diuji melalui kehidupannya yang terbatas dengan persepsi yang tiada memiliki realitas. Persepsi-persepsi ini disajikan dengan tujuan sebagai daya tarik. Fakta ini disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an: </p>
<p>Menjadi tampak indah bagi manusia kecintaan kepada yang diingininya; perempuan-perempuan, putera-putera, emas dan perak yang bertimbun-timbun, serta kuda pilihan yang diselar, binatang ternak dan tanah ladang. Itulah harta benda dalam kehidupan dunia, tetapi kepada Allah itulah tempat kembali terbaik. (Surat Aali &#8216;Imraan, 14) </p>
<p>Sebagian besar manusia mengejar agamanya jauh dari dayatarik harta benda, kekayaan, timbunan yang menggunung dari emas, perak, dolar, rekening bank, kartu kredit, almari pakaian yang penuh dengan pakaian, mobil model terbaru, pendek kata, segala bentuk kekayaan yang mereka miliki atau diupayakan untuk dimiliki. Mereka hanya lebih menekankan dunia ini namun melupakan akhirat. Mereka tertipu oleh dayatarik kehidupan dunia, dan lalai untuk menegakkan shalat, memberi sedekah kepada kaum miskin, dan menjalankan ibadah yang akan mensejahterakan mereka di hari kemudian.  Mereka berkata, &#8220;Saya punya sesuatu untuk dikerjakan&#8221;, dan &#8220;Saya punya cita-cita&#8221;, &#8220;Saya bertanggung jawab&#8221;, &#8220;Saya tidak punya cukup waktu&#8221;, &#8220;Saya punya sesuatu untuk diselesaikan&#8221;, dan &#8220;Saya akan lakukan nanti&#8221;. Mereka menghabiskan kehidupannya hanya untuk memenuhi kehidupan dunia. Dalam ayat &#8220;Mereka hanya mengetahui yang lahir dalam kehidupan dunia, tetapi akhirat mereka lalaikan.&#8221; (Surat ar-Ruum, 7), kesalahanpahaman ini dijelaskan.</p>
<p>KETERANGAN HALAMAN 174<br />
Jika kita merenungkan dalam-dalam semua yang dikatakan di sini, kita akan segera menyadari sendiri situasi ajaib yang luar biasa: bahwa semua kejadian di dunia tidak lain kecuali imajinasi belaka&#8230;</p>
<p>Fakta yang kita gambarkan di bab ini, yaitu bahwa segala sesuatu merupakan kesan, sangat penting karena implikasinya yang menyebabkan segala nafsu dan batas-batas menjadi tiada berarti. Pembuktian fakta ini menjelaskan bahwa segala yang orang miliki atau yang diusahakan keras untuk dimiliki—kekayaan yang dicari dengan rakus, anak-anak yang mereka banggakan, pasangan hidup yang mereka anggap paling dekat dengannya, teman-teman, tubuh mereka, status sosial yang mereka yakini terpandang, sekolah yang mereka hadiri, hari libur yang mereka isi—tiada berarti selain sekadar ilusi. Karena itu, segala upaya, waktu yang dihabiskan, dan ketamakannya, terbukti sia-sia belaka.<br />
Inilah penyebab banyak orang membodohi diri-sendiri ketika mereka menimbun harta dan kekayaan atau “kapal yachts, helikopter, saham, rumah dan tanah&#8221; seolah-olah benar-benar ada. Orang-orang itu memamerkan kapal yacht, mobil, tiada henti membicarakan kekayaan mereka, menganggap kedudukan mereka lebih tinggi dari orang lain, dan tetap mengira bahwa mereka berhasil karena semua ini; mereka semestinya benar-benar memikirkan jenis keadaan yang akan mereka temukan sendiri di dalamnya segera setelah menyadari bahwa kesuksesan itu tiada lain kecuali ilusi belaka.<br />
Pemandangan ini juga terlihat berulang kali dalam mimpi. Dalam mimpi, mereka juga mempunyai rumah, mobil yang melaju cepat, permata yang sangat indah, tumpukan dolar, emas dan perak. Dalam mimpi, mereka juga berkedudukan tinggi, mempunyai pabrik sendiri dengan jutaan pekerja, memiliki kekuasaan atas banyak orang, dan mengenakan pakaian yang dikagumi oleh setiap orang. Sebagaimana orang yang membanggakan miliknya terjaga dari mimpinya akan ditertawakan, ia pasti juga akan diejek bila memamerkan kesan yang ia lihat di dunia ini. Apa yang ia lihat baik yang ada dalam mimpi maupun di dunia hanya merupakan kesan di dalam benaknya.<br />
Begitu pula, cara orang bereaksi terhadap peristiwa yang mereka alami di dunia akan membuat mereka merasa malu ketika mereka menyadari realitasnya. Mereka yang berselisih satu dengan yang lain, berdebat mati-matian, menipu, menyuap, memalsukan, berbohong, kikir, banyak melakukan kesalahan kepada orang lain, memukul, dan mengutuk orang lain, sewenang-wenang, bernafsu mengejar jabatan dan kedudukan, iri hati, dan pamer, akan tercemar ketika mereka menyadari telah melakukan semua ini di alam mimpi.<br />
Karena Allah menciptakan semua kesan ini, Pemilik Akhir segala yang ada dan tiada ialah Allah sendiri. Fakta ini ditekankan dalam Al-Qur&#8217;an: </p>
<p>Milik Allah segala yang di langit dan yang di bumi. Dan Ia meliputi segala sesuatu (Surat an-Nisaa’, 126) </p>
<p>Sungguh merupakan kebodohan besar mencampakkan agama demi memenuhi hawa nafsu yang bersifat khayalan dan kehilangan kehidupan kekal yang berarti kehilangan selama-lamanya.<br />
Pada tahap ini, satu hal mesti diperhatikan. Ini tidak berarti bahwa &#8220;hak milik, kekayaan, anak, pasangan hidup, teman, kedudukan yang anda miliki yang dengannya anda menjadi bakhil atau kikir, akan sirna cepat atau lambat, dan karena itu tidak berarti apa-apa&#8221;, tetapi bahwa &#8220;semua milik yang tampaknya anda miliki itu benar-benar tidak ada, tetapi semuanya itu hanya mimpi yang terdiri dari kesan-kesan yang Allah tunjukkan kepada anda untuk menguji anda&#8221;. Seperti yang anda lihat, ada perbedaan mencolok antara dua pernyataan tersebut.<br />
Meski manusia tidak ingin segera mengakui kebenaran ini dan justru menipu diri-sendiri dengan menganggap bahwa segala yang ia miliki benar-benar ada, ia akhirnya meninggal dan di hari kemudian segalanya akan jelas ketika kita dibangkitkan lagi. Pada hari itu &#8220;tajamlah mata manusia&#8221; (Surat Qaaf, 22) dan kita akan melihat segalanya lebih jelas. Meskipun demikian, jika kita telah menghabiskan kehidupan kita mengejar tujuan yang bersifat khayalan itu, kita akan berkeinginan tidak pernah hidup dalam kehidupan ini dan berkata &#8220;Wahai! Cobalah kematian cukup menyudahi aku! Harta kekayaanku tak bermanfaat bagiku! Kekuasaanku pun hancur semua!” (Surat al-Haaqqah, 27-29).<br />
Di sisi lain, yang semestinya dilakukan oleh orang bijaksana adalah berupaya memahami realitas terbesar alam semesta di sini di dunia ini, ketika ia masih punya banyak waktu. Kalau tidak, ia akan menghabiskan seluruh hidupnya mengejar impian dan menghadapi hukuman yang menyedihkan pada akhirnya. Dalam Al-Qur&#8217;an, keadaan akhir manusia yang mengejar ilusi (atau khayalan) di dunia ini dan melupakan Penciptanya, dinyatakan sebagai berikut:</p>
<p>Tetapi mereka yang kafir, amal mereka seperti bayangan  di padang pasir, yang oleh orang yang sedang kehausan dikira air, sehingga bila ia sampai ke tempatnya, tak ada apa-apa, tetapi yang ditemuinya Allah bersama dia, dan Allah membuat perhitungan. (Surat an-Nuur, 39)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: drajat09</title>
		<link>http://alexarussia.blog.friendster.com/2009/04/konstekstual-idealis-dan-marxis/#comment-118</link>
		<dc:creator>drajat09</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 09:27:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://alexarussia.blog.friendster.com/?p=542#comment-118</guid>
		<description>YANG KEBERADAANYA PASTI NYATA

Semua kenyataan ini membawa kita langsung ke satu pertanyaan yang sangat penting. Jika sesuatu yang kita kenal sebagai alam materi hanya terdiri dari persepsi yang dilihat oleh roh kita, lantas apa saja sumber persepsi-persepsi ini? 
Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memperhatikan yang berikut ini: zat tidak mempunyai keberadaan pengatur-diri dengan sendirinya. Karena merupakan persepsi, zat adalah sesuatu yang "semu". Dengan kata lain, persepsi ini pasti disebabkan oleh kekuatan lain, yang berarti pasti diciptakan. Lagipula, penciptaan ini harus kontinyu. Jika tidak ada penciptaan yang kontinyu dan konsisten, maka yang kita sebut zat itu akan lenyap dan hilang. Ini bisa disamakan dengan televisi yang gambarnya ditampilkan selama sinyalnya terus disiarkan. Jadi, siapa yang membuat roh kita melihat bulan, bumi, tumbuhan, manusia, tubuh kita dan segala zat lain yang kita ketahui? 
Hal itu merupakan bukti bahwa ada Pencipta atau Tuhan, Yang menciptakan seluruh semesta materi, yaitu, sekumpulan persepsi, dan melanjutkan penciptaannya dengan tiada henti. Karena Pencipta ini menampilkan suatu ciptaan yang demikian menakjubkan, Ia pasti memiliki kekuatan yang abadi. 
Pencipta ini memperkenalkan Dirinya sendiri kepada kita. Ia telah menciptakan suatu kitab dan melalui kitab ini telah menjelaskan pada kita tentang Diri-Nya sendiri, alam semesta, dan sebab keberadaan kita. 
Pencipta ini ialah Allah dan nama kitab-Nya adalah Al-Qur'an. 
Fakta bahwa langit dan bumi, yaitu alam semesta, tidak stabil, yang keberadaannya hanya dimungkinkan karena Allah menciptakannya dan bahwa keberadaannya akan sirna jika Allah mengakhiri ciptaan ini, semua itu dijelaskan dalam ayat berikut ini: 

Sungguh, Allah Yang menahan langit dan bumi, supaya tidak lenyap, tak seorang pun yang dapat menahannya. Dan kalau keduanya lenyap, tak siapa pun yang dapat menahannya sesudah Dia. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. (Surat al-Faathir, 41) 

Seperti yang telah kita sebutkan di awal, sebagian orang tidak memiliki pemahaman tentang Allah dan mereka membayangkan Allah sebagai suatu makhluk yang ada di mana saja di langit dan tidak benar-benar mencampuri urusan duniawi. Dasar logika ini sebenarnya bersandar pada pemikiran bahwa alam semesta merupakan pertemuan mater-materi dan Allah berada di luar alam materi ini, di suatu tempat yang sangat jauh letaknya. Pada beberapa agama yang salah, keyakinan kepada Allah terbatas pada pemahaman ini. 
KETERANGAN HALAMAN 170
Otak adalah kumpulan molekul protein dan lipida, terbentuk dari sel-sel syaraf yang disebut neuron. Di dalam sepotong daging ini, tiada apa pun yang mengamati gambaran, yang merupakan kesadaran, atau yang menciptakan sesuatu yang kita sebut "saya sendiri".

Bagaimanapun juga, seperti yang telah kita pahami sejauh ini, zat hanya terdiri dari sensasi. Dan satu-satunya being yang benar-benar mutlak ialah Allah. Artinya, yang ada hanyalah Allah; semua benda kecuali Allah ialah makhluk bayang-bayang. Walhasil, tidak mungkin memahami Allah sebagai yang terpisah dan di luar dari semua massa material. Allah pasti ada "di mana saja" dan meliputi semua. Kenyataan ini dijelaskan dalam Al-Qur'an sebagai berikut: 
Allah ! Tiada tuhan selain Dia Yang Hidup, Yang Berdiri Sendiri, Abadi, tak pernah terlena, tak pernah tidur. Milik-Nyalah segala yang di langit, segala yang di bumi. Siapakah yang dapat memberi perantaraan di hadapan-Nya tanpa izin-Nya? Ia mengetahui segala yang di depan mereka dan segala yang di belakang mereka; mereka takkan mampu sedikit pun menguasai ilmu-Nya kecuali yang dikehendaki-Nya. Singgasananya meliputi langit dan bumi, dan tiada merasa berat Ia menjaga dan memelihara keduanya. Ia Mahatinggi, Mahabesar. (Surat al-Baqarah, 255)
Allah tidak terikat oleh ruang dan bahwa Ia meliputi segala sesuatu dinyatakan di ayat lain berikut ini :

Milik Allah timur dan barat : ke mana pun kamu berpaling, di situlah kehadiran Allah. Allah Mahaluas, Mahatahu (Surat al-Baqarah, 115)

Karena segala yang material itu merupakan cerapan, materi-materi itu tidak bisa melihat Allah, tetapi Allah melihat materi yang Ia ciptakan dengan segala bentuknya. Dalam Al-Qur’an, ini dinyatakan dengan : "Ia tak tercapai oleh segala indera, tetapi Ia mencapai segala indera. (Surat al-An'aam, 103) 
Dengan kata lain, kita tidak bisa memahami Allah dengan mata kita, tetapi Allah mencakup sisi dalam, dan luar kita, pandangan dan pikiran kita. Kita tidak bisa melafalkan kata, bahkan bernafas, selain berkat pengetahuan-Nya.
Ketika kita mengamati persepsi pancaindera dalam kehidupan kita, yang keberadaannya terdekat dengan kita bukanlah salah satu dari sensasi ini, melainkan Allah Sendiri. Rahasia ayat Al-Qur'an berikut tersembunyi dalam kenyataan ini: "Kamilah Yang menciptakan manusia ... Kami lebih dekat kepadanya daripada urat merihnya sendiri." (Surat Qaaf, 16). Ketika orang berpikir bahwa tubuhnya hanya terbuat dari "materi", ia tidak bisa memahami fakta penting ini. Jika menggunakan otaknya untuk menjadi "diri sendiri", lantas tempat yang ia cerap sebagai bagian-luar ialah 20-30 cm jauhnya darinya. Namun, ketika ia memahami bahwa tiada apa pun yang seperti zat, dan bahwa segalanya itu merupakan imajinasi, maka gagasan seperti bagian luar, bagian dalam, itu menjadi jauh atau hampir hilang maknanya. Allah meliputi dirinya dan Ia "selalu dekat" dengannya. 
Allah memberi tahu manusia bahwa Allah “selalu dekat” dengan manusia dengan ayat "Bila ada hamba-Ku yang bertanya kepadamu tentang Aku, Aku dekat sekali (dengan mereka)." (Surat al-Baqarah, 186). Ayat lain menghubungkan fakta yang sama: "Kami berkata kepadamu bahwa Tuhanmu meliputi umat manusia." (Surat al-Israa’, 60).
Manusia keliru mengira bahwa yang terdekat dengannya ialah dirinya sendiri. Allah, sebenarnya, bahkan lebih dekat dengan kita daripada diri kita sendiri. Dia telah mengarahkan perhatian kita untuk hal ini dalam ayat "Mengapa tidak saat (nyata) sudah sampai di kerongkongan, dan kamu ketika itu melihat? Kami lebih dekat dengannya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat"  (Surat al-Waaqi'ah, 83-85). Seperti yang disebutkan pada kita dalam ayat ini, orang-orang hidup dengan tidak menyadari gejala ini karena mereka tidak melihatnya dengan mata mereka sendiri. 
Sebaliknya, mustahil bagi manusia, yang bukan lain kecuali makhluk bayang-bayang, untuk mempunyai kekuatan dan terlepas dari Allah. Ayat "Padahal Allah telah menciptakan kamu dan  segala yang kamu kerjakan." (Surat ash-Shaaffaat, 96) menunjukkan bahwa segala yang kita alami terjadi di bawah kendali Allah. Dalam Al-Qur'an, realitas ini dinyatakan dalam ayat "Bukanlah kau yang melempar ketika kau melempar, tetapi Allah yang melempar." (Surat al-Anfaal, 17) yang dengan demikian, ditekankan bahwa tiada perbuatan yang terlepas dari Allah. Karena manusia ialah makhluk bayang-bayang, ia sendiri tidak melakukan tindakan melempar. Meskipun begitu, Allah memberi makhluk bayang-bayang ini perasaaan diri. Sebenarnya, Allah menjalankan semua perbuatan. Jika seseorang melakukan perbuatan sebagai dirinya sendiri, maka berarti ia menipu dirinya sendiri. 
Hal ini merupakan realitas. Mungkin ada orang yang tidak ingin mengakui hal ini dan memikirkan dirinya sendiri sebagai makhluk yang tidak terikat dari Allah; tetapi hal ini tidak mengubah sesuatu. Tentu saja, penolakannya yang tidak bijaksana itu lagi-lagi dengan kemauan dan kehendak Allah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>YANG KEBERADAANYA PASTI NYATA</p>
<p>Semua kenyataan ini membawa kita langsung ke satu pertanyaan yang sangat penting. Jika sesuatu yang kita kenal sebagai alam materi hanya terdiri dari persepsi yang dilihat oleh roh kita, lantas apa saja sumber persepsi-persepsi ini?<br />
Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memperhatikan yang berikut ini: zat tidak mempunyai keberadaan pengatur-diri dengan sendirinya. Karena merupakan persepsi, zat adalah sesuatu yang &#8220;semu&#8221;. Dengan kata lain, persepsi ini pasti disebabkan oleh kekuatan lain, yang berarti pasti diciptakan. Lagipula, penciptaan ini harus kontinyu. Jika tidak ada penciptaan yang kontinyu dan konsisten, maka yang kita sebut zat itu akan lenyap dan hilang. Ini bisa disamakan dengan televisi yang gambarnya ditampilkan selama sinyalnya terus disiarkan. Jadi, siapa yang membuat roh kita melihat bulan, bumi, tumbuhan, manusia, tubuh kita dan segala zat lain yang kita ketahui?<br />
Hal itu merupakan bukti bahwa ada Pencipta atau Tuhan, Yang menciptakan seluruh semesta materi, yaitu, sekumpulan persepsi, dan melanjutkan penciptaannya dengan tiada henti. Karena Pencipta ini menampilkan suatu ciptaan yang demikian menakjubkan, Ia pasti memiliki kekuatan yang abadi.<br />
Pencipta ini memperkenalkan Dirinya sendiri kepada kita. Ia telah menciptakan suatu kitab dan melalui kitab ini telah menjelaskan pada kita tentang Diri-Nya sendiri, alam semesta, dan sebab keberadaan kita.<br />
Pencipta ini ialah Allah dan nama kitab-Nya adalah Al-Qur&#8217;an.<br />
Fakta bahwa langit dan bumi, yaitu alam semesta, tidak stabil, yang keberadaannya hanya dimungkinkan karena Allah menciptakannya dan bahwa keberadaannya akan sirna jika Allah mengakhiri ciptaan ini, semua itu dijelaskan dalam ayat berikut ini: </p>
<p>Sungguh, Allah Yang menahan langit dan bumi, supaya tidak lenyap, tak seorang pun yang dapat menahannya. Dan kalau keduanya lenyap, tak siapa pun yang dapat menahannya sesudah Dia. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. (Surat al-Faathir, 41) </p>
<p>Seperti yang telah kita sebutkan di awal, sebagian orang tidak memiliki pemahaman tentang Allah dan mereka membayangkan Allah sebagai suatu makhluk yang ada di mana saja di langit dan tidak benar-benar mencampuri urusan duniawi. Dasar logika ini sebenarnya bersandar pada pemikiran bahwa alam semesta merupakan pertemuan mater-materi dan Allah berada di luar alam materi ini, di suatu tempat yang sangat jauh letaknya. Pada beberapa agama yang salah, keyakinan kepada Allah terbatas pada pemahaman ini.<br />
KETERANGAN HALAMAN 170<br />
Otak adalah kumpulan molekul protein dan lipida, terbentuk dari sel-sel syaraf yang disebut neuron. Di dalam sepotong daging ini, tiada apa pun yang mengamati gambaran, yang merupakan kesadaran, atau yang menciptakan sesuatu yang kita sebut &#8220;saya sendiri&#8221;.</p>
<p>Bagaimanapun juga, seperti yang telah kita pahami sejauh ini, zat hanya terdiri dari sensasi. Dan satu-satunya being yang benar-benar mutlak ialah Allah. Artinya, yang ada hanyalah Allah; semua benda kecuali Allah ialah makhluk bayang-bayang. Walhasil, tidak mungkin memahami Allah sebagai yang terpisah dan di luar dari semua massa material. Allah pasti ada &#8220;di mana saja&#8221; dan meliputi semua. Kenyataan ini dijelaskan dalam Al-Qur&#8217;an sebagai berikut:<br />
Allah ! Tiada tuhan selain Dia Yang Hidup, Yang Berdiri Sendiri, Abadi, tak pernah terlena, tak pernah tidur. Milik-Nyalah segala yang di langit, segala yang di bumi. Siapakah yang dapat memberi perantaraan di hadapan-Nya tanpa izin-Nya? Ia mengetahui segala yang di depan mereka dan segala yang di belakang mereka; mereka takkan mampu sedikit pun menguasai ilmu-Nya kecuali yang dikehendaki-Nya. Singgasananya meliputi langit dan bumi, dan tiada merasa berat Ia menjaga dan memelihara keduanya. Ia Mahatinggi, Mahabesar. (Surat al-Baqarah, 255)<br />
Allah tidak terikat oleh ruang dan bahwa Ia meliputi segala sesuatu dinyatakan di ayat lain berikut ini :</p>
<p>Milik Allah timur dan barat : ke mana pun kamu berpaling, di situlah kehadiran Allah. Allah Mahaluas, Mahatahu (Surat al-Baqarah, 115)</p>
<p>Karena segala yang material itu merupakan cerapan, materi-materi itu tidak bisa melihat Allah, tetapi Allah melihat materi yang Ia ciptakan dengan segala bentuknya. Dalam Al-Qur’an, ini dinyatakan dengan : &#8220;Ia tak tercapai oleh segala indera, tetapi Ia mencapai segala indera. (Surat al-An&#8217;aam, 103)<br />
Dengan kata lain, kita tidak bisa memahami Allah dengan mata kita, tetapi Allah mencakup sisi dalam, dan luar kita, pandangan dan pikiran kita. Kita tidak bisa melafalkan kata, bahkan bernafas, selain berkat pengetahuan-Nya.<br />
Ketika kita mengamati persepsi pancaindera dalam kehidupan kita, yang keberadaannya terdekat dengan kita bukanlah salah satu dari sensasi ini, melainkan Allah Sendiri. Rahasia ayat Al-Qur&#8217;an berikut tersembunyi dalam kenyataan ini: &#8220;Kamilah Yang menciptakan manusia &#8230; Kami lebih dekat kepadanya daripada urat merihnya sendiri.&#8221; (Surat Qaaf, 16). Ketika orang berpikir bahwa tubuhnya hanya terbuat dari &#8220;materi&#8221;, ia tidak bisa memahami fakta penting ini. Jika menggunakan otaknya untuk menjadi &#8220;diri sendiri&#8221;, lantas tempat yang ia cerap sebagai bagian-luar ialah 20-30 cm jauhnya darinya. Namun, ketika ia memahami bahwa tiada apa pun yang seperti zat, dan bahwa segalanya itu merupakan imajinasi, maka gagasan seperti bagian luar, bagian dalam, itu menjadi jauh atau hampir hilang maknanya. Allah meliputi dirinya dan Ia &#8220;selalu dekat&#8221; dengannya.<br />
Allah memberi tahu manusia bahwa Allah “selalu dekat” dengan manusia dengan ayat &#8220;Bila ada hamba-Ku yang bertanya kepadamu tentang Aku, Aku dekat sekali (dengan mereka).&#8221; (Surat al-Baqarah, 186). Ayat lain menghubungkan fakta yang sama: &#8220;Kami berkata kepadamu bahwa Tuhanmu meliputi umat manusia.&#8221; (Surat al-Israa’, 60).<br />
Manusia keliru mengira bahwa yang terdekat dengannya ialah dirinya sendiri. Allah, sebenarnya, bahkan lebih dekat dengan kita daripada diri kita sendiri. Dia telah mengarahkan perhatian kita untuk hal ini dalam ayat &#8220;Mengapa tidak saat (nyata) sudah sampai di kerongkongan, dan kamu ketika itu melihat? Kami lebih dekat dengannya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat&#8221;  (Surat al-Waaqi&#8217;ah, 83-85). Seperti yang disebutkan pada kita dalam ayat ini, orang-orang hidup dengan tidak menyadari gejala ini karena mereka tidak melihatnya dengan mata mereka sendiri.<br />
Sebaliknya, mustahil bagi manusia, yang bukan lain kecuali makhluk bayang-bayang, untuk mempunyai kekuatan dan terlepas dari Allah. Ayat &#8220;Padahal Allah telah menciptakan kamu dan  segala yang kamu kerjakan.&#8221; (Surat ash-Shaaffaat, 96) menunjukkan bahwa segala yang kita alami terjadi di bawah kendali Allah. Dalam Al-Qur&#8217;an, realitas ini dinyatakan dalam ayat &#8220;Bukanlah kau yang melempar ketika kau melempar, tetapi Allah yang melempar.&#8221; (Surat al-Anfaal, 17) yang dengan demikian, ditekankan bahwa tiada perbuatan yang terlepas dari Allah. Karena manusia ialah makhluk bayang-bayang, ia sendiri tidak melakukan tindakan melempar. Meskipun begitu, Allah memberi makhluk bayang-bayang ini perasaaan diri. Sebenarnya, Allah menjalankan semua perbuatan. Jika seseorang melakukan perbuatan sebagai dirinya sendiri, maka berarti ia menipu dirinya sendiri.<br />
Hal ini merupakan realitas. Mungkin ada orang yang tidak ingin mengakui hal ini dan memikirkan dirinya sendiri sebagai makhluk yang tidak terikat dari Allah; tetapi hal ini tidak mengubah sesuatu. Tentu saja, penolakannya yang tidak bijaksana itu lagi-lagi dengan kemauan dan kehendak Allah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: drajat09</title>
		<link>http://alexarussia.blog.friendster.com/2009/04/konstekstual-idealis-dan-marxis/#comment-117</link>
		<dc:creator>drajat09</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 09:26:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://alexarussia.blog.friendster.com/?p=542#comment-117</guid>
		<description>BAGAIMANA KITA MELIHAT, MENDENGAR, DAN MERASAKAN?

Tindakan melihat disadari secara progresif. Gugus-gugus sinar (foton-foton) berjalan dari obyek ke mata  dan melewati lensa di depan mata yang membiaskan foton dan membalikkannya pada retina di belakang mata. Di sini, cahaya yang menimpa diubah menjadi sinyal-sinyal listrik yang dikirim oleh neuron ke suatu titik yang sangat kecil yang disebut pusat penglihatan di belakang otak. Sinyal listrik ini diterima sebagai suatu kesan di bagian tengah dalam otak setelah adanya serangkaian proses. Tindakan melihat sebenarnya terjadi di titik yang sangat kecil ini di bagian belakang otak, yang gelap gulita dan sepenuhnya tersekat dari cahaya. 
Sekarang, mari kita perhatikan lagi proses yang tampaknya biasa-biasa saja. Ketika kita mengatakan, "kita melihat", sebenarnya kita sedang melihat pengaruh rangsangan yang sampai pada mata kita dan dilanjutkan sampai pada otak kita, setelah pengaruh rangsangan itu diubah bentuknya ke dalam sinyal-sinyal listrik. Dengan kata lain, ketika kita mengatakan, "kita melihat", kita sebenarnya mengamati sinyal-sinyal listrik di benak kita. 
Semua kesan yang kita lihat dalam kehidupan kita terbentuk di pusat penglihatan kita, yang volumenya hanya beberapa sentimeter kubik di otak. Baik buku yang sedang anda baca maupun bentang tiada batas yang anda lihat ketika menatap cakrawala disesuaikan ke dalam ruang yang sangat kecil ini. Hal lain yang harus diingat, seperti yang telah kita catat sebelumnya, otak itu tersekat dari cahaya; bagian dalamnya sepenuhnya gelap. Otak tidak berhubungan dengan cahaya itu sendiri. 
R. L. Gregory memberikan penjelasan berikut tentang aspek melihat yang menakjubkan, sesuatu yang seringkali kita alami begitu saja: 
Kita amat mengenal penglihatan, sehingga diperlukan suatu lompatan imajinasi untuk menyadari bahwa ada masalah yang harus diselesaikan. Namun perhatikanlah. Kita diberi kesan-kesan sangat kecil yang terbalik di mata, dan kita melihat obyek kuat yang terpisah di ruang sekitarnya. Dari pola simulasi pada retina, kita mencerap dunia obyek, dan ini tidak aneh sama sekali.27 

KETERANGAN HALAMAN 160
Bahkan pada saat kita merasakan cahaya dan panas api, bagian-dalam otak kita gelap-gulita dan suhunya tak pernah berubah.
Bundel-bundel cahaya yang datang dari suatu obyek menimpa retina secara terbalik. Di sini, kesannya diubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan dipindahkan ke pusat penglihatan di belakang otak. Karena otak tersekat dari cahaya, mustahil cahaya mencapai pusat penglihatan. Ini berarti bahwa kita memandang dunia luas yang terang dan dalam di suatu titik kecil yang tersekat dari cahaya.

Situasi yang sama dengan itu terdapat juga pada semua indera kita yang lain. Suara, sentuhan, rasa, dan bau dikirim semuanya ke otak sebagai sinyal-sinyal listrik dan dicerap di pusat-pusat indera yang sesuai di otak. 
Indera pendengaran berfungsi dengan cara yang serupa dengan indera penglihatan. Telinga-luar memilih suara-suara melalui daun telinga dan mengarahkan suara-suara itu ke telinga-tengah. Telinga-tengah mengirimkan getaran suara ke telinga-dalam dan menguatkan suara-suara itu. Telinga-dalam menyalin getaran-getaran itu menjadi sinyal-sinyal listrik, yang kemudian mengirimkannya ke otak. Seperti halnya mata, tindakan mendengar akhirnya terjadi di pusat pendengaran dalam otak. Otak tersekat dari suara sebagaimana tersekat dari cahaya. Karena itu, betapapun berisiknya keadaan luar, bagian-dalam otak sepenuhnya hening. 

KETERANGAN HALAMAN 161
Segala yang kita lihat dalam kehidupan kita terbentuk di suatu bagian dari otak kita yang disebut “pusat penglihatan” yang terletak di belakang otak kita, dan yang volumenya hanya beberapa sentimeter kubik. Baik buku yang sedang anda baca maupun bentang tiada batas yang anda lihat ketika menatap cakrawala disesuaikan ke dalam ruang yang sangat kecil ini. Karena itu, kita melihat obyek-obyek tidak dalam ukuran mereka yang sebenarnya ada di luar, tetapi dalam ukuran yang dicerap oleh otak kita.

Namun demikian, suara-suara yang paling halus pun dicerap oleh otak. Sangatlah tepat bahwa telinga orang yang sehat mendengar apa saja tanpa suara berisik sekeliling. Dalam otak anda, yang tersekat dari suara, anda mendengar simfoni dari sebuah orkestra, mendengar suara-suara bising dari tempat yang ramai, dan menerima semua suara dalam rentang frekuensi yang lebar, dari desiran daun sampai deru pesawat jet. Akan tetapi, jika tingkat suara di otak anda diukur dengan alat sensitif pada saat itu, maka akan terlihat bahwa keheningan total berlaku di sana. 
Persepsi kita tentang bau terbentuk dengan cara yang sama. Molekul yang mudah menguap dipancarkan oleh benda-benda sepeti panili atau bunga mawar sampai ke reseptor dalam rambutnya yang lembut di bagian epitelium hidung dan terjadilah interaksi. Interaksi ini dikirimkan ke otak sebagai sinyal listrik dan diterima sebagai bau. Segala benda yang kita baui, disukai atau pun tidak disukai, hanyalah persepsi otak tentang interaksi molekul-molekul yang mudah menguap setelah diubah menjadi sinyal-sinyal listrik. Anda mendapatkan bau dari parfum, bunga, makanan yang anda sukai, laut, atau bau-bau lain yang anda sukai atau tidak anda sukai, di otak anda. Molekul-molekul itu sendiri tak pernah mencapai otak. Sebagaimana dengan suara dan pemandangan, yang mencapai otak anda hanyalah sinyal listrik. Dengan kata lain, semua bau yang telah anda anggap—sejak anda lahir—terdapat pada obyek-obyek luar ternyata hanya sinyal-sinyal listrik yang anda rasakan melalui organ indera anda. 
Begitu pula, ada empat jenis reseptor kimiawi di bagian depan lidah manusia. Hal ini ada hubungannya dengan empat rasa: asin, manis, asam, dan pahit. Reseptor-rasa kita mengubah persepsi ini ke dalam sinyal listrik melalui serangkaian proses kimiawi dan mengirimkannya ke otak. Sinyal-sinyal ini diterima sebagai rasa oleh otak. Rasa yang anda alami ketika anda makan buah-buahan atau sebatang coklat yang anda sukai ialah penafsiran sinyal-sinyal ini oleh otak. Anda tidak pernah mencapai obyek di alam luar; anda tidak pernah melihat, mencicipi atau merasakan coklat sendiri. Contohnya, jika syaraf rasa yang bergerak ke otak dipotong, maka rasa dari sesuatu yang anda makan tidak akan sampai ke otak anda; anda akan sepenuhnya kehilangan cita rasa anda. 
Dalam hal ini, kita sampai pada fakta lain: kita tidak pernah pasti bahwa yang kita alami ketika kita merasakan makanan dan yang dialami oleh orang lain ketika ia merasakan makanan yang sama, atau yang kita cerap ketika kita mendengar suara dan yang dicerap oleh orang lain ketika ia mendengar suara yang sama adalah sama. Lincoln Barnett berpendapat bahwa tiada seorang pun dapat mengetahui apakah orang lain mencerap warna merah atau mendengar not C dengan cara sama seperti dirinya sendiri.28 
Indera sentuh kita tidak berbeda dengan indera lainnya. Ketika kita menyentuh suatu obyek, semua informasi yang akan membantu kita dalam mengenali alam luar dan obyek-obyek itu dikirim ke otak oleh syaraf indera di kulit. Merasakan sentuhan itu terbentuk dalam otak kita. Berlawanan dengan keyakinan umum, tempat pencerapan indera sentuh kita tidak di ujung jari kita atau di kulit kita, tetapi di pusat persepsi-sentuh di otak kita. Dengan adanya penafsiran otak terhadap rangsangan elektris yang sampai ke otak dari obyek-obyek, kita mengalami obyek-obyek itu berbeda seperti keras atau lembut, panas atau dingin. Kami menguraikan semua rincian yang membantu kita mengenali obyek dari rangsangan-rangsangan ini. Berkenaan dengan hal ini, pemikiran dua filsuf terkenal, B. Russell dan L. Wittgenstein, adalah sebagai berikut: 
Contohnya, apakah jeruk benar-benar ada ataukah tidak dan bagaimana jeruk itu menjadi ada tidak bisa dipertanyakan dan diselidiki. Jeruk hanya terdiri dari cita rasa yang dirasakan oleh lidah, bau yang dibaui oleh hidung, warna dan bentuk yang dilihat oleh mata; dan hanya sifat-sifat inilah yang dapat diuji dan dinilai. Ilmu pengetahuan tidak akan bisa mengetahui dunia fisik.29 
Mustahil bagi kita untuk menjangkau dunia fisik. Semua obyek di sekitar kita merupakan kumpulan persepsi seperti penglihatan, pendengaran, dan penyentuhan. Dengan memproses data di pusat penglihatan dan di pusat sensorik lainnya, otak kita, sepanjang hidup kita, tidak bertentangan dengan “asal-usul” zat yang ada di luar kita, tetapi merupakan salinan yang terbentuk di dalam otak kita. Dalam hal ini kita tersesat bila menganggap salinan-salinan ini sebagai contoh zat-nyata di luar kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>BAGAIMANA KITA MELIHAT, MENDENGAR, DAN MERASAKAN?</p>
<p>Tindakan melihat disadari secara progresif. Gugus-gugus sinar (foton-foton) berjalan dari obyek ke mata  dan melewati lensa di depan mata yang membiaskan foton dan membalikkannya pada retina di belakang mata. Di sini, cahaya yang menimpa diubah menjadi sinyal-sinyal listrik yang dikirim oleh neuron ke suatu titik yang sangat kecil yang disebut pusat penglihatan di belakang otak. Sinyal listrik ini diterima sebagai suatu kesan di bagian tengah dalam otak setelah adanya serangkaian proses. Tindakan melihat sebenarnya terjadi di titik yang sangat kecil ini di bagian belakang otak, yang gelap gulita dan sepenuhnya tersekat dari cahaya.<br />
Sekarang, mari kita perhatikan lagi proses yang tampaknya biasa-biasa saja. Ketika kita mengatakan, &#8220;kita melihat&#8221;, sebenarnya kita sedang melihat pengaruh rangsangan yang sampai pada mata kita dan dilanjutkan sampai pada otak kita, setelah pengaruh rangsangan itu diubah bentuknya ke dalam sinyal-sinyal listrik. Dengan kata lain, ketika kita mengatakan, &#8220;kita melihat&#8221;, kita sebenarnya mengamati sinyal-sinyal listrik di benak kita.<br />
Semua kesan yang kita lihat dalam kehidupan kita terbentuk di pusat penglihatan kita, yang volumenya hanya beberapa sentimeter kubik di otak. Baik buku yang sedang anda baca maupun bentang tiada batas yang anda lihat ketika menatap cakrawala disesuaikan ke dalam ruang yang sangat kecil ini. Hal lain yang harus diingat, seperti yang telah kita catat sebelumnya, otak itu tersekat dari cahaya; bagian dalamnya sepenuhnya gelap. Otak tidak berhubungan dengan cahaya itu sendiri.<br />
R. L. Gregory memberikan penjelasan berikut tentang aspek melihat yang menakjubkan, sesuatu yang seringkali kita alami begitu saja:<br />
Kita amat mengenal penglihatan, sehingga diperlukan suatu lompatan imajinasi untuk menyadari bahwa ada masalah yang harus diselesaikan. Namun perhatikanlah. Kita diberi kesan-kesan sangat kecil yang terbalik di mata, dan kita melihat obyek kuat yang terpisah di ruang sekitarnya. Dari pola simulasi pada retina, kita mencerap dunia obyek, dan ini tidak aneh sama sekali.27 </p>
<p>KETERANGAN HALAMAN 160<br />
Bahkan pada saat kita merasakan cahaya dan panas api, bagian-dalam otak kita gelap-gulita dan suhunya tak pernah berubah.<br />
Bundel-bundel cahaya yang datang dari suatu obyek menimpa retina secara terbalik. Di sini, kesannya diubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan dipindahkan ke pusat penglihatan di belakang otak. Karena otak tersekat dari cahaya, mustahil cahaya mencapai pusat penglihatan. Ini berarti bahwa kita memandang dunia luas yang terang dan dalam di suatu titik kecil yang tersekat dari cahaya.</p>
<p>Situasi yang sama dengan itu terdapat juga pada semua indera kita yang lain. Suara, sentuhan, rasa, dan bau dikirim semuanya ke otak sebagai sinyal-sinyal listrik dan dicerap di pusat-pusat indera yang sesuai di otak.<br />
Indera pendengaran berfungsi dengan cara yang serupa dengan indera penglihatan. Telinga-luar memilih suara-suara melalui daun telinga dan mengarahkan suara-suara itu ke telinga-tengah. Telinga-tengah mengirimkan getaran suara ke telinga-dalam dan menguatkan suara-suara itu. Telinga-dalam menyalin getaran-getaran itu menjadi sinyal-sinyal listrik, yang kemudian mengirimkannya ke otak. Seperti halnya mata, tindakan mendengar akhirnya terjadi di pusat pendengaran dalam otak. Otak tersekat dari suara sebagaimana tersekat dari cahaya. Karena itu, betapapun berisiknya keadaan luar, bagian-dalam otak sepenuhnya hening. </p>
<p>KETERANGAN HALAMAN 161<br />
Segala yang kita lihat dalam kehidupan kita terbentuk di suatu bagian dari otak kita yang disebut “pusat penglihatan” yang terletak di belakang otak kita, dan yang volumenya hanya beberapa sentimeter kubik. Baik buku yang sedang anda baca maupun bentang tiada batas yang anda lihat ketika menatap cakrawala disesuaikan ke dalam ruang yang sangat kecil ini. Karena itu, kita melihat obyek-obyek tidak dalam ukuran mereka yang sebenarnya ada di luar, tetapi dalam ukuran yang dicerap oleh otak kita.</p>
<p>Namun demikian, suara-suara yang paling halus pun dicerap oleh otak. Sangatlah tepat bahwa telinga orang yang sehat mendengar apa saja tanpa suara berisik sekeliling. Dalam otak anda, yang tersekat dari suara, anda mendengar simfoni dari sebuah orkestra, mendengar suara-suara bising dari tempat yang ramai, dan menerima semua suara dalam rentang frekuensi yang lebar, dari desiran daun sampai deru pesawat jet. Akan tetapi, jika tingkat suara di otak anda diukur dengan alat sensitif pada saat itu, maka akan terlihat bahwa keheningan total berlaku di sana.<br />
Persepsi kita tentang bau terbentuk dengan cara yang sama. Molekul yang mudah menguap dipancarkan oleh benda-benda sepeti panili atau bunga mawar sampai ke reseptor dalam rambutnya yang lembut di bagian epitelium hidung dan terjadilah interaksi. Interaksi ini dikirimkan ke otak sebagai sinyal listrik dan diterima sebagai bau. Segala benda yang kita baui, disukai atau pun tidak disukai, hanyalah persepsi otak tentang interaksi molekul-molekul yang mudah menguap setelah diubah menjadi sinyal-sinyal listrik. Anda mendapatkan bau dari parfum, bunga, makanan yang anda sukai, laut, atau bau-bau lain yang anda sukai atau tidak anda sukai, di otak anda. Molekul-molekul itu sendiri tak pernah mencapai otak. Sebagaimana dengan suara dan pemandangan, yang mencapai otak anda hanyalah sinyal listrik. Dengan kata lain, semua bau yang telah anda anggap—sejak anda lahir—terdapat pada obyek-obyek luar ternyata hanya sinyal-sinyal listrik yang anda rasakan melalui organ indera anda.<br />
Begitu pula, ada empat jenis reseptor kimiawi di bagian depan lidah manusia. Hal ini ada hubungannya dengan empat rasa: asin, manis, asam, dan pahit. Reseptor-rasa kita mengubah persepsi ini ke dalam sinyal listrik melalui serangkaian proses kimiawi dan mengirimkannya ke otak. Sinyal-sinyal ini diterima sebagai rasa oleh otak. Rasa yang anda alami ketika anda makan buah-buahan atau sebatang coklat yang anda sukai ialah penafsiran sinyal-sinyal ini oleh otak. Anda tidak pernah mencapai obyek di alam luar; anda tidak pernah melihat, mencicipi atau merasakan coklat sendiri. Contohnya, jika syaraf rasa yang bergerak ke otak dipotong, maka rasa dari sesuatu yang anda makan tidak akan sampai ke otak anda; anda akan sepenuhnya kehilangan cita rasa anda.<br />
Dalam hal ini, kita sampai pada fakta lain: kita tidak pernah pasti bahwa yang kita alami ketika kita merasakan makanan dan yang dialami oleh orang lain ketika ia merasakan makanan yang sama, atau yang kita cerap ketika kita mendengar suara dan yang dicerap oleh orang lain ketika ia mendengar suara yang sama adalah sama. Lincoln Barnett berpendapat bahwa tiada seorang pun dapat mengetahui apakah orang lain mencerap warna merah atau mendengar not C dengan cara sama seperti dirinya sendiri.28<br />
Indera sentuh kita tidak berbeda dengan indera lainnya. Ketika kita menyentuh suatu obyek, semua informasi yang akan membantu kita dalam mengenali alam luar dan obyek-obyek itu dikirim ke otak oleh syaraf indera di kulit. Merasakan sentuhan itu terbentuk dalam otak kita. Berlawanan dengan keyakinan umum, tempat pencerapan indera sentuh kita tidak di ujung jari kita atau di kulit kita, tetapi di pusat persepsi-sentuh di otak kita. Dengan adanya penafsiran otak terhadap rangsangan elektris yang sampai ke otak dari obyek-obyek, kita mengalami obyek-obyek itu berbeda seperti keras atau lembut, panas atau dingin. Kami menguraikan semua rincian yang membantu kita mengenali obyek dari rangsangan-rangsangan ini. Berkenaan dengan hal ini, pemikiran dua filsuf terkenal, B. Russell dan L. Wittgenstein, adalah sebagai berikut:<br />
Contohnya, apakah jeruk benar-benar ada ataukah tidak dan bagaimana jeruk itu menjadi ada tidak bisa dipertanyakan dan diselidiki. Jeruk hanya terdiri dari cita rasa yang dirasakan oleh lidah, bau yang dibaui oleh hidung, warna dan bentuk yang dilihat oleh mata; dan hanya sifat-sifat inilah yang dapat diuji dan dinilai. Ilmu pengetahuan tidak akan bisa mengetahui dunia fisik.29<br />
Mustahil bagi kita untuk menjangkau dunia fisik. Semua obyek di sekitar kita merupakan kumpulan persepsi seperti penglihatan, pendengaran, dan penyentuhan. Dengan memproses data di pusat penglihatan dan di pusat sensorik lainnya, otak kita, sepanjang hidup kita, tidak bertentangan dengan “asal-usul” zat yang ada di luar kita, tetapi merupakan salinan yang terbentuk di dalam otak kita. Dalam hal ini kita tersesat bila menganggap salinan-salinan ini sebagai contoh zat-nyata di luar kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: drajat09</title>
		<link>http://alexarussia.blog.friendster.com/2009/04/konstekstual-idealis-dan-marxis/#comment-116</link>
		<dc:creator>drajat09</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 09:25:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://alexarussia.blog.friendster.com/?p=542#comment-116</guid>
		<description>DUNIA SINYAL-SINYAL LISTRIK

Semua informasi yang telah kita miliki tentang dunia tempat kita hidup disampaikan kepada kita melalui pancaindera kita. Dunia yang kita ketahui ini terdiri dari hal-hal yang dilihat oleh mata kita, dirasakan oleh tangan kita, dibaui oleh hidung kita, dirasakan oleh lidah kita, dan didengarkan oleh telinga kita. Kita tidak pernah berpikir bahwa alam luar dapat berupa apa saja yang lain dari yang disajikan oleh pancaindera kita, karena kita hanya tergantung pada pancaindera itu sejak lahir. 
Riset modern di berbagai bidang ilmu pengetahuan menunjukkan pemahaman yang sangat berbeda dan menimbulkan keraguan yang serius tentang pancaindera kita dan dunia yang kita alami dengan pancaindera itu. 
Titik-awal pendekatan ini ialah bahwa pemikiran tentang “dunia luar” yang terbentuk dalam otak kita hanya merupakan respon yang diciptakan dalam otak kita dengan sinyal-sinyal kelistrikan. Apel yang berwarna merah, kayu yang keras dan, demikian juga, ibu, ayah, keluarga anda dan apa saja yang anda miliki, rumah, pekerjaan dan baris-baris buku ini, hanya terdiri dari sinyal-sinyal listrik. 
Frederick Vester menjelaskan hal tersebut bahwa ilmu pengetahuan telah mencapai pokok bahasan ini: 
Pernyataan sebagian ilmuwan yang bersikap bahwa “manusia ialah suatu kesan”, segala hal yang dialami bersifat sementara dan menipu, dan alam semesta ialah suatu bayang-bayang, tampaknya pasti terbukti oleh ilmu pengetahuan pada masa kita.25 
Filsuf terkenal George Berkeley berkomentar tentang masalah tersebut sebagai berikut: 
Kami mempercayai keberadaan obyek hanya karena kami melihat dan menyentuhnya, dan obyek-obyek tersebut terpantul pada kita melalui persepsi kita. Bagaimanapun, cerapan kita hanya merupakan gagasan-gagasan dalam benak kita. Jadi, obyek yang kita tangkap dengan persepsi hanyalah gagasan, dan gagasan ini pada dasarnya tidak ada kecuali dalam benak kita. ... Karena semua obyek ini hanya ada dalam pikiran, ini berarti bahwa kita terperdaya oleh penipuan ketika kita membayangkan alam semesta dan benda-benda yang memiliki keberadaan di luar benak. Jadi, tidak ada benda sekitar kita yang mempunyai suatu keberadaan di luar benak kita.26 
Untuk menjelaskan masalah tersebut, mari kita perhatikan indera penglihatan kita, yang menyediakan kita informasi yang paling luas tentang alam luar.

KETERANGAN HALAMAN 158
Rangsangan yang datang dari suatu obyek diubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan menimbulkan efek-efek di otak kita. Tatkala kita “melihat”, kita sebenarnya memandang efek-efek dari sinyal-sinyal listrik di otak kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>DUNIA SINYAL-SINYAL LISTRIK</p>
<p>Semua informasi yang telah kita miliki tentang dunia tempat kita hidup disampaikan kepada kita melalui pancaindera kita. Dunia yang kita ketahui ini terdiri dari hal-hal yang dilihat oleh mata kita, dirasakan oleh tangan kita, dibaui oleh hidung kita, dirasakan oleh lidah kita, dan didengarkan oleh telinga kita. Kita tidak pernah berpikir bahwa alam luar dapat berupa apa saja yang lain dari yang disajikan oleh pancaindera kita, karena kita hanya tergantung pada pancaindera itu sejak lahir.<br />
Riset modern di berbagai bidang ilmu pengetahuan menunjukkan pemahaman yang sangat berbeda dan menimbulkan keraguan yang serius tentang pancaindera kita dan dunia yang kita alami dengan pancaindera itu.<br />
Titik-awal pendekatan ini ialah bahwa pemikiran tentang “dunia luar” yang terbentuk dalam otak kita hanya merupakan respon yang diciptakan dalam otak kita dengan sinyal-sinyal kelistrikan. Apel yang berwarna merah, kayu yang keras dan, demikian juga, ibu, ayah, keluarga anda dan apa saja yang anda miliki, rumah, pekerjaan dan baris-baris buku ini, hanya terdiri dari sinyal-sinyal listrik.<br />
Frederick Vester menjelaskan hal tersebut bahwa ilmu pengetahuan telah mencapai pokok bahasan ini:<br />
Pernyataan sebagian ilmuwan yang bersikap bahwa “manusia ialah suatu kesan”, segala hal yang dialami bersifat sementara dan menipu, dan alam semesta ialah suatu bayang-bayang, tampaknya pasti terbukti oleh ilmu pengetahuan pada masa kita.25<br />
Filsuf terkenal George Berkeley berkomentar tentang masalah tersebut sebagai berikut:<br />
Kami mempercayai keberadaan obyek hanya karena kami melihat dan menyentuhnya, dan obyek-obyek tersebut terpantul pada kita melalui persepsi kita. Bagaimanapun, cerapan kita hanya merupakan gagasan-gagasan dalam benak kita. Jadi, obyek yang kita tangkap dengan persepsi hanyalah gagasan, dan gagasan ini pada dasarnya tidak ada kecuali dalam benak kita. &#8230; Karena semua obyek ini hanya ada dalam pikiran, ini berarti bahwa kita terperdaya oleh penipuan ketika kita membayangkan alam semesta dan benda-benda yang memiliki keberadaan di luar benak. Jadi, tidak ada benda sekitar kita yang mempunyai suatu keberadaan di luar benak kita.26<br />
Untuk menjelaskan masalah tersebut, mari kita perhatikan indera penglihatan kita, yang menyediakan kita informasi yang paling luas tentang alam luar.</p>
<p>KETERANGAN HALAMAN 158<br />
Rangsangan yang datang dari suatu obyek diubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan menimbulkan efek-efek di otak kita. Tatkala kita “melihat”, kita sebenarnya memandang efek-efek dari sinyal-sinyal listrik di otak kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: drajat09</title>
		<link>http://alexarussia.blog.friendster.com/2009/04/konstekstual-idealis-dan-marxis/#comment-115</link>
		<dc:creator>drajat09</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 09:25:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://alexarussia.blog.friendster.com/?p=542#comment-115</guid>
		<description>PEMAHAMAN MATERI YANG TIDAK MATERIALIS

Orang yang dengan sadar dan bijaksana merenungkan keadaan sekitarnya akan menyadari bahwa segala benda di alam semesta—baik yang hidup maupun yang mati—pasti diciptakan. Pertanyaannya adalah "Siapa Pencipta semua benda ini?" 
Terbukti bahwa “fakta penciptaan”, yang dengan sendirinya mengungkap di setiap aspek alam semesta, bukan merupakan hasil dari alam semesta sendiri. Contohnya, hama atau kutu tidak dapat menciptakan diri sendiri. Sistem matahari tidak dapat menciptakan atau mengatur diri sendiri. Demikian juga dengan tanaman, manusia, bakteri, erythrocytes (corpuscles yang berdarah merah), atau pun kupu-kupu. Bahkan tidak terbayang sama sekali bahwa semua ini ada “secara kebetulan”. 
Karena itu, kami tiba pada kesimpulan berikut: Segala sesuatu yang kita lihat telah diciptakan, tetapi tidak ada yang terlihat sebagai “pencipta” diri-sendiri. Sang Pencipta berbeda dari dan lebih unggul daripada semua yang kita lihat dengan mata kita, suatu kekuatan superior yang tidak kelihatan tetapi yang keberadaannya dan sifat-sifatnya ditunjukkan dalam segala hal yang ada. 
Inilah keberatan bagi orang-orang yang menolak keberadaan Allah. Orang-orang ini terkondisi tidak beriman atas keberadaan-Nya kecuali jika mereka melihat-Nya sendiri. Orang-orang ini, yang mengabaikan fakta “penciptaan” terpaksa mengabaikan keadaan makhluk sebenarnya yang terwujud di seluruh alam semesta dan berupaya membuktikan bahwa alam semesta dan makhluk hidup tidak diciptakan. Teori evolusi merupakan contoh penting upaya mereka yang sia-sia sampai akhir ini. 
Kesalahan dasar orang-orang yang menolak Allah terdapat pada banyak orang yang tidak sungguh-sungguh menolak adanya Allah tetapi memiliki persepsi yang salah tentang Allah. Mereka tidak menyangkal penciptaan tetapi dalam keyakinan takhayulnya tentang “di mana” Allah. Sebagian besar dari mereka mengira bahwa Allah ada di atas “langit”. Mereka diam-diam membayangkan bahwa Allah ada di belakang planet yang sangat jauh dan pernah mencampuri “urusan duniawi” sekali, atau mungkin tidak turut campur sama sekali. Mereka membayangkan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan kemudian meninggalkannya untuk berfungsi sendiri, meninggalkan manusia untuk menentukan nasib mereka sendiri. 
Adapun sebagian lainnya telah mendengar, tertulis dalam Al-Qur'an bahwa Allah ada “di mana-mana”, tetapi mereka tidak dapat meyakini arti sebenarnya. Mereka mengira bahwa Allah mengitari segala hal seperti gelombang radio atau seperti gas yang tidak kelihatan dan tidak berwujud. 
Akan tetapi, keyakinan ini dan keyakinan lain yang tidak dapat menjelaskan “di mana” Allah berada (dan mungkin karena menolak Allah) semuanya berdasarkan pada kesalahan lazim. Mereka berprasangka tanpa landasan apa pun dan kemudian beralih pada opini yang salah tentang Allah. Prasangka apa? 
Prasangka ini mengenai hakikat dan sifat zat. Kita sedemikan terkondisi dalam pemikiran takhyul kita tentang keberadaan zat sehingga kita tidak pernah berpikir apakah materi itu ada ataukah tidak ada atau hanya bayang-bayang. Ilmu pengetahuan modern menghancurkan prasangka ini dan membuka dan menunjukkan kenyataan penting ini. Di halaman-halaman berikut, kami akan berupaya menjelaskan kenyataan besar ini yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>PEMAHAMAN MATERI YANG TIDAK MATERIALIS</p>
<p>Orang yang dengan sadar dan bijaksana merenungkan keadaan sekitarnya akan menyadari bahwa segala benda di alam semesta—baik yang hidup maupun yang mati—pasti diciptakan. Pertanyaannya adalah &#8220;Siapa Pencipta semua benda ini?&#8221;<br />
Terbukti bahwa “fakta penciptaan”, yang dengan sendirinya mengungkap di setiap aspek alam semesta, bukan merupakan hasil dari alam semesta sendiri. Contohnya, hama atau kutu tidak dapat menciptakan diri sendiri. Sistem matahari tidak dapat menciptakan atau mengatur diri sendiri. Demikian juga dengan tanaman, manusia, bakteri, erythrocytes (corpuscles yang berdarah merah), atau pun kupu-kupu. Bahkan tidak terbayang sama sekali bahwa semua ini ada “secara kebetulan”.<br />
Karena itu, kami tiba pada kesimpulan berikut: Segala sesuatu yang kita lihat telah diciptakan, tetapi tidak ada yang terlihat sebagai “pencipta” diri-sendiri. Sang Pencipta berbeda dari dan lebih unggul daripada semua yang kita lihat dengan mata kita, suatu kekuatan superior yang tidak kelihatan tetapi yang keberadaannya dan sifat-sifatnya ditunjukkan dalam segala hal yang ada.<br />
Inilah keberatan bagi orang-orang yang menolak keberadaan Allah. Orang-orang ini terkondisi tidak beriman atas keberadaan-Nya kecuali jika mereka melihat-Nya sendiri. Orang-orang ini, yang mengabaikan fakta “penciptaan” terpaksa mengabaikan keadaan makhluk sebenarnya yang terwujud di seluruh alam semesta dan berupaya membuktikan bahwa alam semesta dan makhluk hidup tidak diciptakan. Teori evolusi merupakan contoh penting upaya mereka yang sia-sia sampai akhir ini.<br />
Kesalahan dasar orang-orang yang menolak Allah terdapat pada banyak orang yang tidak sungguh-sungguh menolak adanya Allah tetapi memiliki persepsi yang salah tentang Allah. Mereka tidak menyangkal penciptaan tetapi dalam keyakinan takhayulnya tentang “di mana” Allah. Sebagian besar dari mereka mengira bahwa Allah ada di atas “langit”. Mereka diam-diam membayangkan bahwa Allah ada di belakang planet yang sangat jauh dan pernah mencampuri “urusan duniawi” sekali, atau mungkin tidak turut campur sama sekali. Mereka membayangkan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan kemudian meninggalkannya untuk berfungsi sendiri, meninggalkan manusia untuk menentukan nasib mereka sendiri.<br />
Adapun sebagian lainnya telah mendengar, tertulis dalam Al-Qur&#8217;an bahwa Allah ada “di mana-mana”, tetapi mereka tidak dapat meyakini arti sebenarnya. Mereka mengira bahwa Allah mengitari segala hal seperti gelombang radio atau seperti gas yang tidak kelihatan dan tidak berwujud.<br />
Akan tetapi, keyakinan ini dan keyakinan lain yang tidak dapat menjelaskan “di mana” Allah berada (dan mungkin karena menolak Allah) semuanya berdasarkan pada kesalahan lazim. Mereka berprasangka tanpa landasan apa pun dan kemudian beralih pada opini yang salah tentang Allah. Prasangka apa?<br />
Prasangka ini mengenai hakikat dan sifat zat. Kita sedemikan terkondisi dalam pemikiran takhyul kita tentang keberadaan zat sehingga kita tidak pernah berpikir apakah materi itu ada ataukah tidak ada atau hanya bayang-bayang. Ilmu pengetahuan modern menghancurkan prasangka ini dan membuka dan menunjukkan kenyataan penting ini. Di halaman-halaman berikut, kami akan berupaya menjelaskan kenyataan besar ini yang ditunjukkan oleh Al-Qur&#8217;an.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
