Otak Manusia dan Sistem Kepercayaan 2
Bagaimana manusia berpikir?
Otak Manusia dan Sistem Kepercayaan 2
Berikut response tanya jawab dari artikel saya berjudul
“otak manusia dan sistem kepercayaan”
Ihsan Dalimus Pokiah Kayo at 3:39am March 1
Tp, bagaimana pendapat pakar yg mengatakan perkembangan otak
terbentuk dari hubungan antar sel-sel otak dengan adanya kirim dan
terima signal, signal yg berupa getaran aliran listrik mengalir dari
satu sel ke sel yg lainnya, dan dengan bantuan zat yg namanya
serotonin, terbentuklah hubungan yg menciptakan perkembangan otak itu
sendiri. Satu sel otak mampu membuat kurang lebih 15.000 hubungan
dengan sel otak lannya. Empirisisme-lah yang membuat hubungan antar
sel-sel otak bekerja, dan jaringan antar sel-sel otak menjadi
terbentuk. Sedangkan yang namanya doktrinisasi adalah suatu bentuk
penegasian terhadap empirisisme itu sendiri, dan dengan sendirinya
bisa mematikan cara kerja otak. Contoh 1+1=2 adalah suatu contoh yang
agak absurd untuk melukiskan cara kerja otak, 1+1=2 adalah suatu
bentuk kepastian alam. Sedangkan cara kerja otak berangkat dari
ketidakpastian-ketidakpastian yg ada di alam ini. Bagaimana yg tidak
pasti itu menjadi pasti, dan di terima sebagai suatu “common sense.”
Wawan Setiawan at 3:58am March 1
serotonin,melatonin,dopamine itu semua boleh saya kategorikan dalam
domain hardware (sisem didalam otak), sedangkan 1+1=2 adalah
software, atau metodologi/suatu konsep yang didoktrinkan/diajarkan.
Kepastian2/logik2 sbg contoh 1+1=2 itu wilayah software/konsep/
metodologi yang sudah kita terima sebagai dogma sehingga sudah ada di
alam sistem alam bawah sadar kita/kernel, sehingga tampak logik. Coba
Anda imajinasikan kalau tidak pernah diajarkan mathematik, apakah
bisa mengetahui 1+1=2?
Segala sesuatunya tampak logik/seperti kepastian karena seperti
aplikasi yang telah terinstall dalam sistem alam bawah sadar kita,
seperti misalnya kalau di komputer kita sudah ada corel draw maka
untuk menggambar kita pake aplikasi corel draw, kalau belum ada maka
tentunya kita juga tidak bisa menggambar, demikian juga dengan
methodologi, sbg contoh mathematic, karena sudah diinstal di alam
bawah sadar kita maka 1+1=2 menjadi tampak logic, tapi kalau
ditanyakan kepada tarzan yang belum pernah diinstal mathematic maka
1+1 juga menjadi tidak pasti.
Ihsan Dalimus Pokiah Kayo at 4:58am March 1
Saya setuju Sdr Wawan. Mnrt pendapat pakar psikologi, 80% kehidupan
kita ini digerakkan oleh alam bawah sadar kita, yg domain kerjanya
dari otak kecil (kalau saya gak salah kutip).Nah,…sekarang kita
coba bawa ke konteks keberagamaan. Apakah keberagamaan itu suatu
doktrinasi atau empiris? Sedangkan Kepercayaan dan keyakinan
membutuhkan suatu pembelajaran dan proses yg berkelindan.
Hormat Saya dan Terima Kasih.
Wawan Setiawan at 6:25am March 1
keberagaman terjadi oleh proses kognisi baik yg tidak disengaja,
misal ini pengalaman seseorang terekam dalam otak, ataupun yang
disengaja misalnya dogma pendidikan sekolah ataupun agama. Mestinya
disadari saja bahwa meski saya pake windows, dan mungkin anda juga
pake windows, windows kita mungkin berbeda versi, demikian juga
aplikasi2 yang diinstal di windows saya kemungkinan berbeda dng
aplikasi2 yg diinstal di windows anda. Manusia pada dasarnya unique
dan mempunyai pengalaman memory otak yang berbeda-beda yang merupakan
hasil dari kognisi pengalamannya. Apa yg menjadi persepsional dalam
diri kita merupakan hasil rekaman proses otak baik yang tidak
disengaja ataupun dogma2 yg disengaja.Logik-pun bisa berasal dari
persepsional diri kita sendiri, ataupun persepsional hasil dogma
pendidikan ataupun dogma agama, karena semua berada di alam bawah
sadar, kadang kita menganggapnya itu sebagai suatu realita
materialistis,padahal sebenarnya apa yang ada di alam pikiran kita
adalah immaterial
Ihsan Dalimus Pokiah Kayo at 8:05am March 1
Pak, kalau menurut saya, Islam sebagai ajaran universal tidak lah
keras. Orang2 saja yg menafsirkannya dengan cara kekerasan, untuk
menjustifikasi kepentingannya. Saya ambil contoh ayat2 ttg Qishash,
jarang ada orang yang mau melihat di penghujung ayat2 tersebut. Di
penghujung ayat2 di sebutkan “memberi ma’af adalah sebaik-baik
perbuatan bagimu. Jadi, sebenarnya Islam sudah mengedepankan nilai2
universal, atau dengan kata2 lain hukum Islam yg sering dipakai
adalah hukum yg bersifat khos, bukan hukum yg bersifat ‘am. Maka
jadilah Islam itu sebagai sebuah agama yg keras. Trus, penerapan
hukum Islam yg khos tersebut juga serampangan, contohnya seperti yg
dilakukan oleh Arab saudi. Kalau dahulu tokoh2 sufi di bunuh, mnrt
saya, itu gak lebih dari sebuah kebijakan politis, karena dianggap
bisa meresahkan umat, dan ketertiban negara jadi terganggu. Inbu al-
‘Arabi dengan Wihdatul Wujudnya bisa kita jadikan contoh bagaimana
kejamnya sebuah kebijakan politik atas nama Agama.
Handhika S Ramadhan at 9:41am March 1
with all due respect, bung Wawan, but this time i’m afraid i must
disagree with you…..
kalo logic (such as 1+1=2) sebagai the very foundation of everything
diragukan, maka kepada apa lagikah kita akan bersandar?
mungkin tarzan nun jauh di pelosok rimba tidak tahu cara
mengekspresikan jawaban 1+!, but somehow in someway dia logikanya
akan mengatakan benar bahwa 1+1=2. mungkin menurut konvensi dia 1=$
dan 2=&, maka ia akan mengatakan bahwa $+$=&. it’s just a matter of
convention (read: language)
Wawan Setiawan at 10:02am March 1
Dear Bung Handhika
berbeda pendapat adalah biasa dan tidak menjadi masalah, justru
menjadikan warna diskusi menjadi menarik. Di beberapa artikel yang
akan saya posting, saya hanya ingin mengekspresikan pikiran saya
terutama pemahaman saya thd sistem berpikir manusia. Saat ini saya
mengkomparasikannya dng sistem kerja komputer, bahwa semua yg menjadi
basis logic kita adalah aplikasi modular yang telah diinstal di alam
bawah sadar kita, dan kepercayaan2 kita merupakan suatu kernel
operating system. Begitulah saya memahami bagaimana manusia berpikir,
saya juga yakin manusia membuat sistem komputer dan artificial
intelligent, pastilah itu berasal dari sistem berpikirnya sendiri.
Dalam hal ini saya bisa berekspresi dan berargumentasi demikian
karena saya terkena angin lesus sampai kiri jauh moscow, alias
agnostik binti atheis
Dalam artikel2 saya berikutnya saya tidak menolak aplikasi2 modular
yg telah diiinstal di alam bawah sadar kita, namun kira2 cuman pengin
mendeskripsikan bagaimana sebenarnya sistem berpikir kita bekerja,
mengapa sesuatunya tampak logis, mengapa seseorang mempunyai persepsi
a sedangkan yg lain mempersepsikan b padahal itu dari satu source
sumber penalaran.
Sebagai contoh sederhana begini, secara standar alat music guitar
kalau dipetik loss, maka nada dasarnya adalah e, namun keith richard
rolling stone membuat nada dasar suatu gitar dipetik dng loss jari
menjadi g, jadi saya sangat meyakini bahwa semua pikiran2 kita itu
sebenarnya konsepsional/methodologi saja, dan kita memang install
beberapa aplikasi memang untuk kebutuhan sistem hidup, atau untuk
sistem memandang alam dan peradaban ini bekerja. Sbg contoh kalau
seseorang mengambil aplikasi dialektika materialisme 100% tentu akan
menjadi atheis karena tidak menyisakan ruang bagi God dalam cara
pandangnya thd alam, tapi seseorang yg mengintal aplikasi agama tentu
juga tidak bisa menjalankan aplikasi dialektika materialisme 100%,
jadi dlm hal ini saya beranggapan semuanya adalah aplikasi2 pilihan
yang bebas kita instal saja sesuai kebutuhan kita
Handhika S Ramadhan at 10:39am March 1
saya mengerti dan sepakat dgn bung Wawan mengenai persepsi…..
tapi menurut saya, logika matematika bukanlah persepsi…..ia adalah
kebenaran elementer, bahkan lebih elementer dari sekadar dogma2
agama…..
tanpa logika matematika tidak akan ada dialektika, bukan?
well, tapi memang mungkin dalam filsafat saya lebih terpengaruh dgn
mahzhab rasionalis-naturalis cartesian dibandingkan empirisisme
Locke, apalagi Hume dan Berkeley….
salam.
Edi Aryono at 10:51am March 1
…he..hehe…yang dimaksud islam itu apa mas…apa kitabnya atau
umat yang ngos2an berusaha mengerti kitabnya…kalo kitabnya dari
dulu juga begitu aja…kalo penafsirannya bukan kitab karena sudah
ada plus minusnya….dan yang mana perlu direnewal ,karena banyak dan
gak bisa dipake sebagai wakil kitab (suka2 yang nafsiriin aja)…kalo
umatnya berarti manusia….jadi yang perlu selamat itu manusia itu
sendiri…jadi gak perlu repot2 ngurusin kitab,karena kitab juga
isinya sebuah “cerita” saja…nah kalo ingin menyelamatkan sesama
manusia ini yang agak repot karena sama2 mempunyai otoritas…mungkin
mas punya energi yang berlebih dan ingin menyelamatkan yang
lain…hanya saja menjadi miris hati saya kalo yang lain bisa mas
terselamatkan tetapi mas tidak dapat menyelamatkan diri sendiri…dan
soal nada dasar gitar itu tidak ada yang pakem,gak usah jauh2 keith
richard, bassist krakatau:pra dharma saja nyetem bassnya dengan nada
pelog pentatonik..salam
Gigih Rahadi at 9:47pm March 1
selamat siang kawan..
tulisan2 anda ternyata kontroversi bgt men, y semoga itu dilandasi
dgn materi yg cukup..
ad beberapa poin penting yg akan sya soroti dalam tulisan anda ini..
pertama ketika anda mengatakan bahwa islam mengharamkan pembaruan,
memang secara global islam mengharamkan pengetahuan, tp apa yg
melandasi islam mengharamkan pembaruan, hal ini disebabkan dalam
islam telah mencakup keseluruhan mulai dari awal terbentuknya alam
semesta hingga berakhirnya alam semesta ini, mungkin anda mengatakan
islam lebih memilih menggunakan DOS dikarenakan watak feodal beberapa
golongan islam di Indonesia, sedangkan setau yg saya ketahui kenapa
kristen menghalalkan pembaruan karena mulai pasca perang salib hingga
saat ini belum pernah sekali pun diketahui bentuk serta isi injil yg
sebenarnya..oleh karena itu perlu diadakan pembaruan2 didalamnya..
kedua yg saya bener2 g sepakat ketika MDH adalah tool…bukannya MDH
adalah cara, bagaimana manusia berfikir secara utuh???
terakhir saya ingin menyakan jika manusia itu lebih menggunakan emosi
daripada logika, apa otak manusia jg dapat dianalogikan seperti
hardware??
Wawan Setiawan at 10:41pm March 1
Dear Friend
menurut saya gini, semua yg ada baik mathematika, MDH, Agama, Fisika,
itu semua tool, itu semua konsep, itu semua tata cara manusia
menyikapi peradaban dan alam, jangan mengkultuskan 100% terhadap
suatu aplikasi atau tool, MDH, Mathematika, Fisika,Agama itu bagi aku
seperti microsoft word,corel draw,Internet explorer, tidak tertutup
kemungkinan lho nanti kedepan ada lagi sistem berpikir manusia yg
lebih canggih dari MDH, mungkin teman Gigih menganggap MDH adalah
tool berpikir yg paling tepat karena seperti menginstal Microsoft
Word versi terbaru dan digunakan untuk menulis dilengkapi attachment
gambar kok cepet, mudah dan asyik sekali, tapi belum tentu bagi orang
lain bisa cocok menggunakan aplikasi berpikir taktis dengan MDH.
Habis ini saya posting berikutnya ttg diskusi kita sebelumnya yah.
Dulunya manusia mengira emosi berkaitan dengan hati/cakra jantung,
itu konsep 7 cakra India, namun science membuktikan bahwa emosi
digenerate oleh proses kimiwai otak antara dopamine dan serotonin.
Otak manusia itu boleh saya katakan hardware yang mempunyai
perubahan2 zat kimia didalamnya dan juga tegangan2 impulse dan pada
dasarnya tidak mengetahui sistem logik. Sistem logik dibangun di
level software atau dalam istilah komputer namanya kernel. Alam bawah
sadar manusia menguasai 80% dan alam bawah sadar yang saya analogikan
sebagai kernel itu mengatur pola suhu manusia, detak jantung, dlsb.
Jadi menurut saya pemetaannya otak itu adalah hardware yang mempunyai
pola perubahan kimia, sedangkan logic berada di tataran software baik
kernel ataupun aplikasi diatas kernel yang sudah terinstal dan
mungkin sudah seperti dijadikan built in dalam satu distro, misal
mathematic, ini boleh saya istilahkan wordpad, kalau Windows hanya
sistem operasi aja, lalu buat apa kita menggunakan sistem operasi
windows? bagaimanapun mathematica itu juga dikonsepkan oleh seseorang
filsuf lalu karena itu cara pandang yg taktis maka sudah seperti
embedded system dalam suatu sistem operasi, jadi seperti windows
standar skrg ada ms paint, word pad,internet explorer dll. Dalam
faktanya cara menganalisa alam ini juga berbeda2 misal Islam
menggunakan cara kalender hijiriah dan barat menggunakan kalender
masehi, dalam hitungan angka ada istilah binari, decimal, dan juga
hexadecimal. Mungkin kira2 kalau anda bisa menurunkan kesadaran di
titik blank/no-mind yang tidak menimbulkan gaya tarik pikiran, disitu
rasanya seperti bayi yang tidak punya konsep apapun, teknik ini dalam
buddhism disebut no-mind, ini juga teknik melepas kemelekatan karena
pikiran mempunyai gaya tarik atau gravitasi.
Wawan Setiawan at 12:28am March 2
@bung handhika
logika matematika bukanlah persepsi…..ia adalah kebenaran
elementer, bahkan lebih elementer dari sekadar dogma2 agama…..
tanpa logika matematika tidak akan ada dialektika, bukan?
===================
Sebenarnya manusia tidak mengenal benar salah dan logis, itu semua
menjadi ada kategori benar,kategori salah, kategori logis karena
pikiran kita sudah menginstal aplikasi2 methodologi termasuk math.
Memang hal ini akan berkembang terus, software sendiri pasti akan
update terus fungsi dan kegunaanya, dulu tentunya belum ada
browser,saya ingat mengakses Internet masih pake SLIP. Demikian juga
dengan peradaban, filsafat dan methodologi sistem berpikir akan
berkembang terus, Karl Marx sendiri baru menawarkan ide dialektika
materialisme di abad 19, dan tidak tertutup kemungkinan nanti ada
sistem berpikir modular yang baru lagi. Semua methodologi/aplikasi
yang kita instal berada di alam bawah sadar, sehingga pikiran kita
mulai bisa membedakan logis dan tidak, salah dan benar
Jadi kira2 saya gambarkan sebenarnya kita sudah mempunyai sistem
kernel berpikir yang sangat standar di alam bawah sadar, ini mengatur
ttg kerja jantung dan device2 tubuh lainnya,lalu ketika kecil kita
mulai instal mathematika, IPA, IPS,PMP, seperti halnya OS yang hanya
kernel saja tidak berfungsi apa2 tanpa ada ms paint, wordpad,
calculator, dlsb. Sesuai kedewasaan kita maka kita musti punya
keahlian specific, misal autocad, atau corel draw. Semuanya aplikasi
modular saja, dan yang mempengaruhi cara pandang/sistem berpikir
kita. Namun memang sebaiknya kita membuat distro sendiri karena
manusia memang pada dasarnya unique atau tidak ada yang sama.Salam
May 26th, 2009 at 10:49 am
Pendapat saya:
Dari sekian banyak ciptaan Sang Pencipta, sangatlah tepat jika didalam kitab-kitab agama selalu menyampaikan bahwa Manusia yang paling sempurna. Malaikat itu istimewa namun tidak dapat berbuat curang atau jahat. Iblis/ Setan itu istimewa namun tidak dapat berbuat jujur dan kebaikan yang hakiki. Harimau itu kuat namun tidak dapat berakal dan berfikir sepantas Manusia. Matahari itu suatu energi yang besar, namun tidak dapat berketurunan seperti Manusia.
Dari sekian banyak keistimewaan mahkluk lain tidak ada mahkluk lain yang unik dan komplek seperti Manusia. Jadi berbahagialah jika kita diciptakan menjadi Manusia, namun jangan lupa jika Manusia juga punya tanggung jawab besar sebagai Khalifah. Sekian dan jangan jadikan perbedaan agama, kelompok, kepercayaan/ aliran dan lainnya sebagai argumen untuk kepentingan yang tidak kekal. Terima kasih.
Salam kenal dan selamat berkarya.(masterkeyman@gmail.com)
July 25th, 2009 at 2:14 am
KEKHAWATIRAN HEBAT PARA MATERIALIS
Untuk sementara, tidak ada tanggapan mendasar yang berasal dari kalangan materialis Turki tentang pokok bahasan yang dikemukakan dalam buku ini, yaitu fakta bahwa zat adalah persepsi belaka. Ini memberi kita kesan bahwa gagasan kita tidak begitu terang sehingga perlu dijelaskan lebih lanjut. Namun, lama sebelumnya, terungkap bahwa penganut materialisme merasa sangat tidak nyaman mengenai kepopuleran pokok bahasan ini, dan merasakan ketakutan yang besar tentang ini.
Beberapa kali, para penganut materialisme menyuarakan dengan keras ketakutan dan kepanikan mereka dalam penerbitan, konferensi, dan lokakarya mereka. Wacana mereka yang gelisah dan tiada berpengharapan mengisyaratkan bahwa mereka menderita krisis intelektual yang parah. Keruntuhan ilmiah teori evolusi, yang dianggap sebagai dasar filsafat mereka, telah sangat menggoncangkan mereka. Kini, mereka mulai menyadari bahwa mereka mulai kehilangan materi itu sendiri, yang merupakan arus utama yang lebih besar bagi mereka daripada Darwinisme, dan mereka sedang mengalami goncangan yang bahkan lebih besar. Mereka mengumumkan bahwa masalah ini merupakan “ancaman terbesar” bagi mereka dan secara total “mengoyak struktur kebudayaan mereka”.
Salah seorang yang paling keras mengungkapkan kecemasan dan kepanikan yang dirasakan oleh kalangan materialis ialah Rennan Pekunlu, seorang akademisi di samping penulis majalah Bilim ve Utopya (Sains dan Utopia) yang mengaku bertugas membela materialisme. Baik dalam artikelnya di Bilim ve Utopya maupun dalam lokakarya yang ia hadiri, Pekunlu memperlihatkan buku Evolution Deceit karya Harun Yahya sebagai ancaman nomor satu terhadap materialisme. Yang mengusik Pekunlu yang bahkan lebih mengancam daripada bab-bab yang membatilkan Darwinisme ialah bagian yang baru saja anda baca. Kepada pemirsa dan pembacanya, Pekunlu menyampaikan pesan, “jangan biarkan diri anda terhanyut oleh indoktrinasi idealisme dan tetap yakinlah anda terhadap materialisme”. Ia mengutip Vladimir I. Lenin, pemimpin revolusi komunis berdarah di Rusia, sebagai acuan. Dengan menyarankan agar setiap orang membaca buku klasik Lenin yang berjudul Materialism and Empirio-Criticism, Pekunlu mengulangi nasihat Lenin, “jangan berpikir tentang masalah ini, atau anda akan keluar dari jalur materialisme dan hanyut oleh agama”. Dalam sebuah artikel ia menulis di majalahnya yang tadi disebut, ia mengutip baris-baris berikut ini dari Lenin:
Sekali anda menolak kenyataan obyektif, yang sampai kepada kita secara inderawi, anda telah kehilangan semua senjata melawan fideisme, karena anda tergelincir ke dalam agnostisisme atau subyektivisme—dan itu sajalah yang dibutuhkan oleh fideisme. Sepasang cakar terjerat, dan si burung lenyap. Dan Jago-jago kita semuanya terjerat dalam idealisme, yaitu dalam fideisme yang licin; mereka terjerat sejak saat mereka menganggap “sensasi” bukan sebagai kesan dari alam luar melainkan sebagai “unsur” khusus. Ini bukan sensasi siapa pun, benak siapa pun, roh siapa pun, kehendak siapa pun.38
Kata-kata ini jelas menunjukkan bahwa fakta mengkhawatirkan ini, yang oleh Lenin disadari dan hendak dikeluarkan baik dari benaknya maupun benak “rekan-rekannya”, juga mengusik para materialis dengan cara sama. Meski begitu, Pekunlu dan para materialis lain menderita kesulitan yang lebih besar; karena mereka sadar bahwa fakta ini sekarang dikemukakan dengan cara yang lebih gamblang, lebih pasti dan lebih meyakinkan daripada 100 tahun silam. Untuk pertama kali dalam sejarah dunia, pokok bahasan ini dijelaskan dengan cara yang sedemikian menarik.
KETERANGAN HALAMAN 183
Rennan Pekunlu, penulis materialis Turki, mengatakan bahwa “teori evolusi tidak begitu penting, ancaman nyatanya adalah subyek ini”, karena ia sadar bahwa subyek ini menihilkan materi, satu-satunya konsep yang ia yakini.
Meskipun demikian, gambaran umumnya ialah bahwa sejumlah besar ilmuwan materialis masih mengambil sikap yang sangat dangkal terhadap fakta bahwa “zat itu tiada lain kecuali sebuah ilusi”. Pokok bahasan yang dijelaskan di bab ini ialah satu pokok bahasan terpenting dan paling menarik yang pernah mereka temui dalam kehidupan mereka. Mereka tidak berkesempatan menghadapi pokok bahasan yang sedemikian penting ini sebelumnya. Namun, reaksi para ilmuwan ini atau pun metode yang mereka terapkan dalam ceramah dan artikel mereka mengisyaratkan betapa dangkal dan semu pemahaman mereka.
Reaksi beberapa materialis terhadap subyek yang dibahas di sini menunjukkan bahwa kesetiaan mereka yang membabi buta kepada materialisme telah membahayakan logika mereka. Karena alasan ini, mereka jauh terlepas dari pemahaman pokok bahasan itu. Contohnya, Alaatin Senel, seorang akademisi dan penulis majalah Bilim ve Utopya, mengungkapkan sentimen yang serupa dengan kata-kata Rennan Pekunlu, “Lupakan runtuhnya Darwinisme, masalah yang sebenarnya mengancam adalah masalah ini”. Dengan merasa bahwa filsafatnya sendiri tidak berdasar, ia membuat tuntutan seperti “buktikan kata-kata anda!”. Yang lebih menarik, penulis ini menulis sendiri bahwa ia tidak bisa mengerti akan fakta ini, yang ia anggap sebagai ancaman.
Contohnya, dalam artikel yang membahas masalah ini secara eksklusif, Senel sependapat bahwa alam luar dicerap di otak sebagai kesan. Namun demikian, ia mengklaim bahwa kesan terbagi menjadi dua: yang mempunyai korelasi fisik dan yang tidak, dan bahwa kesan yang berhubungan dengan dunia luar mempunyai korelasi fisik. Untuk mendukung pernyataannya, ia memberi “contoh telepon”. Pendek kata, ia menulis: “saya tidak tahu apakah kesan-kesan di otak saya mempunyai korelasi dengan dunia luar ataukah tidak, tetapi hal tersebut berlaku pula ketika saya berbicara di telepon. Ketika berbicara di telepon, saya tidak bisa melihat lawan bicara tetapi saya dapat mengkonfirmasikan pembicaraan ini bila kemudian saya bertemu langsung dengannya.”39
Dengan mengatakan demikian, penulis ini sesungguhnya bermaksud: “Jika kita meragukan penginderaan kita, kita bisa melihat materi itu sendiri dan memeriksa realitasnya.” Meski demikian, hal ini merupakan kesalahpahaman bukti, karena kita tidak mungkin menjangkau materi itu sendiri. Kita tidak mungkin mengeluarkan benak kita dan mengetahui hal-hal yang ada “di luar”. Apakah suara di telepon berkorelasi ataukah tidak, dapat dikonfirmasikan oleh orang tersebut di ujung lainnya. Meski begitu, konfirmasi ini juga kesan, yang dialami di benak tersebut.
Orang-orang ini juga mengalami kejadian yang sama dalam mimpi-mimpi mereka. Contohnya, Senel juga bisa melihat dalam mimpinya bahwa ia berbicara di telepon dan kemudian mengadakan pembicaraan yang dikonfirmasikan oleh orang yang ia ajak bicara. Pekunlu bisa merasakan sendiri dalam mimpinya bahwa ia menghadapi “ancaman serius” dan menyarankan orang-orang agar membaca buku-buku klasik karya Lenin. Namun, tidak peduli apa yang mereka kerjakan, para materialis ini tidak bisa menyangkal bahwa kejadian yang mereka alami dan orang-orang yang mereka bicarakan dalam mimpi mereka tidak lain kecuali persepsi.
Lantas, siapa yang akan mengecek apakah kesan-kesan di otak memiliki korelasi ataukah tidak? Makhluk bayangan di otak? Sudah pasti, para materialis mustahil menemukan sumber informasi yang bisa memberi data mengenai luar otak dan mengkonfirmasikannya.
Dengan mengakui bahwa semua persepsi terbentuk di otak, tetapi menganggap bahwa orang bisa “keluar” dari ini dan mempunyai persepsi yang dikonfirmasi oleh dunia luar yang nyata, mengungkapkan bahwa kemampuan intelektual manusia terbatas dan bahwa penalarannya menyimpang.
Namun, siapa saja dengan tingkat pemahaman dan penalaran yang normal bisa dengan mudah memahami fakta-fakta ini. Setiap orang yang tidak menyimpang tahu, sehubungan dengan semua yang telah kita katakan, bahwa mustahil baginya menguji keberadaan dunia luar dengan inderanya. Akan tetapi, tampak bahwa kesetiaan yang membabi buta kepada materialisme menyimpangkan kemampuan penalaran manusia. Karena alasan ini, para materialis kontemporer menampilkan kelemahan logika yang fatal dalam penalaran mereka persis seperti para guru mereka yang berupaya “membuktikan” keberadaan zat dengan menendang batu atau memakan kue.
Juga dikatakan bahwa ini bukan situasi yang mengherankan, karena ketidakmampuan memahami merupakan sifat umum kaum kafir. Dalam Al-Qur’an, Allah pada khususnya menyatakan bahwa mereka “orang yang tidak berakal” (Surat al-Maai’dah, 58).
July 25th, 2009 at 2:15 am
MATERIALISME TERJERUMUS KE DALAM PERANGKAP TERBESAR SEJARAH
Suasana kepanikan yang melanda kalangan materialis di Turki, yang beberapa contohnya telah kami sebut, menunjukkan bahwa para penganut materialisme menghadapi kerusakan parah, yang tidak pernah mereka temui sebelumnya dalam sejarah. Bahwa zat hanya suatu persepsi telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern dan dikemukakan dengan cara yang sangat jelas, lurus, dan kuat. Para penganut materialisme hanya bisa melihat dan mengakui jatuhnya seluruh dunia material yang secara membabi buta mereka percayai dan andalkan.
Pemikiran materialis selalu ada sepanjang sejarah manusia. Dengan penuh percaya diri dan dengan filsafat yang mereka yakini, mereka menentang Allah yang menciptakan mereka. Skenario yang mereka rumuskan bersikeras bahwa zat tidak mempunyai awal atau pun akhir, dan bahwa semua ini tidak mungkin mempunyai Pencipta. Karena kesombongan mereka, mereka menolak Allah dan melindungi materi, yang mereka anggap mempunyai keberadaan nyata. Mereka begitu percaya dengan filosofi ini. Mereka kira mustahil dikemukakan suatu penjelasan yang membuktikan kebalikannya.
Karena itulah fakta-fakta yang dibicarakan dalam buku ini yang berkenaan dengan hakikat zat yang sebenarnya itu amat mengejutkan orang-orang ini. Hal yang telah dibicarakan di sini menghancurkan dasar filosofi mereka dan tidak memungkinkan pembahasan lebih lanjut. Zat, yang menjadi dasar semua pemikiran, kehidupan, kesombongan dan penolakan mereka, semuanya sirna seketika. Bagaimana bisa ada materialisme jika tidak ada materi?
Salah satu sifat Allah ialah perencanaan-Nya terhadap kaum kafir. Hal ini dinyatakan di ayat “Mereka menyusun rencana, dan Allah juga membuat rencana, namun Allah perencana terbaik.” (Surat al-Anfaal, 30)
Allah menjebak para materialis dengan membuat mereka beranggapan bahwa ada zat dan merendahkan mereka dengan cara yang tidak terlihat. Para materialis menganggap bahwa barang mereka, status, kedudukan, masyarakat yang mereka miliki, seluruh dunia dan segala hal lain benar-benar ada dan semakin sombong kepada Allah dengan mengandalkan hal-hal ini. Mereka menentang Allah dengan sombong dan semakin tidak beriman. Ketika melakukan demikian, mereka sepenuhnya mengandalkan materi. Akan tetapi, mereka begitu kurang memahami sehingga mereka gagal berpikir bahwa Allah meliputi mereka. Allah mengumumkan keadaan yang akan menimpa orang-orang kafir sebagai akibat dari keras-kepala mereka:
Ataukah mereka bermaksud menipu? Tetapi mereka yang tak beriman itulah yang tertipu! (Surat ath-Thuur, 42)
Hal ini mungkin merupakan kerusakan mereka yang terbesar dalam sejarah. Ketika semakin sombong, para materialis itu terjebak dan menderita kerusakan serius dalam perang yang mereka biayai melawan Allah dengan mengemukakan sesuatu yang amat bertentangan dengan Allah. Ayat “Begitulah Kami tempatkan dalam setiap kota pemuka-pemuka orang yang jahat supaya mengadakan tipu muslihat di situ, tetapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadari” mengungkap betapa tak sadar orang-orang yang menentang Pencipta mereka ini, dan mengungkap bagaimana ujung-ujungnya (Surat al-An’aam, 123). Dalam ayat lain, fakta serupa dikaitkan sebagai:
Mereka hendak menipu Allah dan orang beriman, tetapi mereka hanya menipu diri sendiri, dan tidak mereka sadari! (Surat al-Baqarah, 9)
Ketika orang kafir mencoba merencanakan, mereka tidak menyadari suatu fakta yang sangat penting yang ditekankan dengan kata-kata “mereka hanya menipu diri sendiri, dan tidak mereka sadari!” dalam ayat itu. Inilah yang nyata bahwa segala yang mereka alami adalah suatu imajinasi yang dirancang untuk dicerap oleh mereka, dan semua rencana yang mereka kemukakan hanya kesan-kesan yang terbentuk di otak mereka persis seperti setiap adegan lain yang mereka perankan. Kebodohan mereka membuat mereka lupa bahwa mereka semua sendirian dengan Allah dan, karena itu, mereka terperangkap dalam rencana mereka sendiri yang berliku-liku.
Tidak berbeda dari orang kafir yang hidup di masa silam, orang kafir yang hidup di zaman sekarang menghadapi suatu kenyataan yang akan menyebarkan rencana berlika-liku mereka dengan landasan mereka. Dengan ayat “… diperdayakan oleh setan-setan” (Surat al-An’aam, 71), Allah berfirman bahwa rencana ini berakhir dengan kegagalan pada hari perencanaannya. Allah menyampaikan berita baik kepada orang beriman dengan ayat “… Tipu muslihat mereka sama sekali tidak merugikan kamu.” (Surat Aali ‘Imraan, 120)
Dalam ayat lain, Allah berfirman: “Tetapi mereka yang kafir, amal mereka sepreti bayangan di padang pasir, yang oleh orang yang sedang kehausan dikira air, sehingga bila ia sampai ke tempatnya, tak ada apa-apa, tetapi yang ditemuinya Allah bersama dia, dan Allah membuat perhitungan.” (Surat an-Nuur, 39). Materialisme juga menjadi suatu “bayangan” bagi yang memberontak seperti yang dinyatakan dalam ayat ini; bila mereka menemukan jalan lain, mereka tidak mendapati apa-apa selain ilusi. Allah menipu mereka dengan bayangan sedemikian, dan memperdaya mereka sehingga mereka mencerap seluruh kumpulan kesan ini sebagai sesuatu yang nyata. Semua orang yang “terkemuka”, profesor, astronom, biolog, fisikawan, dan lain-lain, apa pun kedudukan dan status mereka, terperdaya begitu saja seperti anak-anak, dan terhina karena mereka mengambil materi sebagai tuhan mereka. Dengan menganggap sekumpulan kesan itu mutlak, mereka mendasarkan filosofi dan ideologi mereka pada sekumpulan kesan itu, menjadi terlibat dalam diskusi serius, dan menggunakan wacana yang disebut “intelektual”. Mereka menganggap mereka cukup bijaksana menawarkan suatu argumen tentang kebenaran alam semesta dan, yang lebih penting, menentang Allah dengan intelegensi mereka yang terbatas. Allah menerangkan situasi mereka dalam ayat berikut ini:
Mereka menyusun rencana, dan Allah juga membuat rencana, namun Allah perencana terbaik. (Surat Aali ‘Imraan, 54)
Lari dari beberapa rencana mungkin bisa; namun, rencana Allah terhadap orang kafir ini sangat mantap sehingga tiada jalan untuk keluar dari rencana itu. Tidak peduli apa yang mereka lakukan atau siapa yang mereka pikat, mereka tidak pernah menemukan penolong selain Allah. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an, “Mereka takkan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.”(Surat an-Nisaa’, 173)
Para materialis tiada pernah menduga terjerumus dalam perangkap sedemikian itu. Dengan memiliki semua sarana penyelesaian abad ke-20, mereka mengira bisa memperkokoh kekafiran mereka dan mempengaruhi orang-orang agar tidak beriman. Allah menggambarkan mentalitas abadi orang kafir dan akhir riwayat mereka dalam al-Qur’an sebagai berikut:
Mereka menyusun rencana, dan kami pun membuat rencana, sementara mereka tidak menyadari. Maka lihatlah, bagaimana akibat rencana mereka; Kami binasakan mereka dan golongan mereka semua. (Surat an-Naml, 50-51)
Di tingkat lain, inilah maksud ayat-ayat itu: pengikut materialisme dibuat menyadari bahwa segala yang mereka miliki adalah ilusi, dan karena itu segala yang mereka miliki binasa. Saat mereka menyaksikan harta, pabrik, emas, uang, anak, pasangan hidup, teman, kedudukan dan status, dan bahkan tubuh mereka sendiri, semua yang mereka anggap ada itu terlepas jauh dari tangan mereka, semuanya “binasa” seperti yang difirmankan di ayat 51 Surat an-Naml. Dalam hal ini, semua itu bukan lagi kesatuan materi, melainkan jiwa.
Tentu saja, menyadari kebenaran ini merupakan situasi yang mungkin terburuk bagi para materialis. Begitu juga fakta bahwa segala yang mereka miliki hanya ilusi atau, dengan kata lain, “mati sebelum meninggal” di dunia ini.
Kenyataan ini membiarkan mereka sendirian dengan Allah. Dengan ayat, “Biarlah Aku (berhadapan) dengan makhluk yang Aku ciptakan (telanjang dan) seorang diri!” (Surat al-Muddatstsir, 11), Allah menyeru kita untuk mengikuti fakta bahwa sebenarnya manusia seorang diri saja dalam kehadiran-Nya. Kenyataan yang luar biasa ini diulangi di ayat-ayat lain:
Dan sungguh-sungguh kamu mendatangi Kami seorang diri seperti ketika pertama kali Kami menciptakan kamu; dan segala yang Kami karuniakan kepadamu kamu tinggalkan di belakangmu … (Surat al-An’aam, 94)
Dan setiap orang datang kepada-Nya pada hari kiamat seorang diri. (Surat Maryam, 95)
Di tingkat lain, ayat-ayat itu menunjukkan: mereka yang menganggap materi sebagai tuhan mereka berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya. Mereka telah menyerahkan kehendak mereka kepada Allah, entah mereka inginkan entah tidak. Kini mereka menunggu Hari Perhitungan kala setiap orang dari mereka akan dipangil untuk bertanggung jawab, kendatipun mereka mungkin tidak ingin memahaminya.
July 26th, 2009 at 12:40 am
Rusia Relijius dan Sekuler
Negara Rusia yang dikenal sebagai negara atheis nampaknya akan mengubah haluan ideologinya menjadi relijius sekuler. Rusia yang dulu melarang mata pelajaran agama di sekolah, kini mengijinkan sekolah-sekolah memberikan mata pelajaran agama dan mata pelajaran alternatif tentang sekularisme pada para siswanya.
Presiden Rusia Dmitry Medvedev sendiri yang mengumumkan proyek tersebut. Surat kabar Moscow Times edisi Rabu (22/7) mengutip pernyataan Medvedev yang mengatakan bahwa ia mendukung ide pelajaran dasar agama dan mata pelajaran sekulerisme di sekolah-sekolah menengah. Proyek ini akan mulai diberlakukan pada bulan Maret tahun depan.
Terkait rencana itu, Medvedev sudah melakukan pertemuan dengan para tokoh yang mewakili semua penganut agama di Rusia. Dengan adanya kebijakan baru ini, siswa sekolah menengah di Rusia dibebaskan untuk memilih empat mata pelajaran agama yang diakui di Rusia, yaitu agama ortodoks Rusia, Islam, Budha atau Yudaisme. Pengecualian diberlakukan pada agama Katolik Roma dan Protestan, karena pihak ortodoks Rusia menuding kedua agama itu telah melakukan upaya menari sebanyak-banyaknya penganut ortodoks Rusia untuk menganut kedua agama tersebut.
Menurut Medvedev, ia menyetujui ide pelajaran agama dan sekulerisme di sekolah-sekolah setelah mendapatkan masukkan dan permintaan dari sejumlah tokoh agama. Untuk sementara, program ini hanya diberlakukan di sebagian kecil sekolah yang hanya akan meliputi 250.000 siswa. Jika berhasil, kata Medvedev, program ini akan diberlakukan secara nasional pada tahun 2012.
Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Rusia, Andrei Fursenko menambahkan, pemerintah Rusia akan memberikan pelatihan terhadap 40.000 orang dan dana jutaan rubel untuk keperluan program tersebut.
Di Rusia, pelajaran agama selalu menjadi isu yang mengundang kontroversi serta perdebatan, karena Rusia menganut konsep atheis sekuler sejak berdirinya Uni Sovyet tahun 1991.. Kelompok-kelompok yang mengklaim sebagai kelompok hak asasi sangat khawatir jika kekuatan agama berkembang di negara itu. Oleh sebab itu, kelompok ini menentang ketika gereja ortodoks Rusia mengusulkan agar sekolah-sekolah di Rusia memberikan pelajaran agama ortodoks Rusia sebagai pelajaran wajid para siswa.
Gereja Ortodoks Rusia mengklaim memiliki pengikut yang jumlahnya lebih dari 100 juta orang. Tapi sejumlah polling menunjukkan hanya lima persen oran Rusia yang taat pada agamanya. Sementara Islam menjadi agama kedua terbesar di Rusia dengan jumlah Muslim meliputi 15 persen dari 145 juta penduduk negeri itu