Politheis monotheis - buddha nabi isa
berikut yg bisa saya update belief system saya sendiri dari hasil2
mencermati/mendialektikakan posting2 dan terima kasih atas posting2
rekan2 yg mencerahkan
dari masalah politheisme, saya menyadari bahwa rupanya dulu ketika
diterangkan mas Doel saya masih belum konek, karena belief system saya
masih menganggap bahwa sesuatunya di alam semesta ini ter-central.
Namun pelan2 mengikuti posting monotheisme politheisme, menurut hemat
saya agama monotheisme tidak perlu dianalisis menggunakan sudut
pandang politheisme, demikian juga konsep politheisme jangan ditarik
kedalam sudut pandang monotheisme, bagi saya jadinya malah semakin
membingungkan. Saya justru lebih bisa menikmati ketika menyadari bahwa
ternyata ada konsep politheisme yang menarik disamping konsep
monotheisme. Belief system saya saat ini justru meng-accept keduanya
brilian/cerdas dan menjadi sebuah konsep dan akan saya jadikan sistem
analisis/sudut pandang. Jadi membandingkan monotheisme dan politheisme
bagi saya seperti menjalankan dialektika, yaitu dari thesis
politheisme di anti thesis monotheisme, keduanya masih dalam rangkaian
rumus dialektika. Keduanya mempunyai posisi dan konsep masing2 yang
tidak perlu dinilai salah dan benar, dan tidak perlu dipaksakan dicari
kesamaannya tapi saya kira keduanya justru sebatas disadari
keberadaannya saja,keduanya benar2 exist konsepnya, keduanya telah
saya tanamkan saja kedalam belief system baru saya bahwa ternyata ada
metode lain dalam cara analisa daripada satu konsep monotheisme saya
yg lama.
dari posting mengenai love and happines, saya dialektikakan kepada
buddha saya baru mengerti juga bahwa love itu adalah sebuah magnet
daya tarik untuk menyeimbangkan matter/benda.Buddha mengajarkan no
kemelekatan, atau melepaskan segala ikatan, tapi ditengah hiruk pikuk
masyarakat yang terkena faham positivisme ini terkesan individual dan
kurang realistis. Disini baru saya sadari ilmunya Nabi Isa tentang
Love/Kasih, itu gunanya untuk menjaga relationship dan memaintain
hubungan2 termasuk benda2 mati, karena love is energy positive untuk
menyeimbangkan energi negative/konflik.
Teori dialektika menyebutkan
bahwa A tetap stabil berposisi terhadap B karena ada dua gaya
sekaligus yg seimbang, yaitu gaya tarik dan gaya tolak.
Disini konflik bisa saya labelkan sebagai gaya tolak atau gaya
menjauh, dan love/kasih digunakan untuk gaya mendekat/gaya tarik.
Mungkin disitulah menariknya saya pahami bahwa seorang katholik secara
hukum agama tidak boleh bercerai karena cerai itu akibat gaya
tolak/konflik yang lebih tinggi dari jumlah gaya tarik/love/kasih.
Faham mereka, konflik harus diimbangi dengan melebarkan threshold
kasih/love, sehingga hubungan A dan B tetap stabil terjaga karena
adanya kasih. Kalau seorang katholik bercerai pasti nasehatnya karena
kasihnya yg kurang sehingga disarankan mengasah/memperlebar threshold
kasih terus menerus. Disini bisa saya gambarkan bahwa kasih memang
merupakan obat penawar konflik/daya tolak.
Kalau kita melatih love terus menerus maka sebenarnya kita mempunyai
kekuatan magnet tinggi,menurut saya, love yang tinggi hanya bisa
terasah dengan konflik2 yg semakin tinggi, ini cara pandang hukum alam
saja.
Namun kadangkala kita memang kecapekan sendiri menyeimbangkan
relationship, atau menarik/menjaga kestabilan posisi benda2 disekitar
kita dengan love/kasih. Ada kalanya kita gagal mempertahankan
kemelekatan dan kita terkena energy negative hasil dari kehilangan
benda/matter/hubungan. Mungkin disitulah saatnya menggunakan ilmu-nya
Buddha, bahwa apa yg ada disekitar kita adalah kemelekatan dan tidak
pantas untuk dilekatkan secara abadi. Ada kalanya kita musti
kehilangan dan tidak bisa menariknya kembali.
jadi saya kira hidup seperti main bermain saja, bermain tarik menarik
dan tolak menolak/konflik dengan love/kasih dan juga bermain ala
buddha dengan no-mind-nya untuk menetralisir kegagalan tarik menarik
dan tolak menolaknya saja.
June 24th, 2009 at 11:50 am
salam kenal, pak wawan…
Tulisan Anda sangat inspiratif…boleh saya copy-paste pak? pasti akan saya cantumkan referensi dari Anda. Terima kasih banyak sebelumnya. Saya menanti kabar dari Anda.
July 15th, 2009 at 7:40 am
hello pak, salam kenal, silakan dengan senang hati pak…
July 25th, 2009 at 3:35 am
PEMAHAMAN MATERI YANG TIDAK MATERIALIS
Orang yang dengan sadar dan bijaksana merenungkan keadaan sekitarnya akan menyadari bahwa segala benda di alam semesta—baik yang hidup maupun yang mati—pasti diciptakan. Pertanyaannya adalah “Siapa Pencipta semua benda ini?”
Terbukti bahwa “fakta penciptaan”, yang dengan sendirinya mengungkap di setiap aspek alam semesta, bukan merupakan hasil dari alam semesta sendiri. Contohnya, hama atau kutu tidak dapat menciptakan diri sendiri. Sistem matahari tidak dapat menciptakan atau mengatur diri sendiri. Demikian juga dengan tanaman, manusia, bakteri, erythrocytes (corpuscles yang berdarah merah), atau pun kupu-kupu. Bahkan tidak terbayang sama sekali bahwa semua ini ada “secara kebetulan”.
Karena itu, kami tiba pada kesimpulan berikut: Segala sesuatu yang kita lihat telah diciptakan, tetapi tidak ada yang terlihat sebagai “pencipta” diri-sendiri. Sang Pencipta berbeda dari dan lebih unggul daripada semua yang kita lihat dengan mata kita, suatu kekuatan superior yang tidak kelihatan tetapi yang keberadaannya dan sifat-sifatnya ditunjukkan dalam segala hal yang ada.
Inilah keberatan bagi orang-orang yang menolak keberadaan Allah. Orang-orang ini terkondisi tidak beriman atas keberadaan-Nya kecuali jika mereka melihat-Nya sendiri. Orang-orang ini, yang mengabaikan fakta “penciptaan” terpaksa mengabaikan keadaan makhluk sebenarnya yang terwujud di seluruh alam semesta dan berupaya membuktikan bahwa alam semesta dan makhluk hidup tidak diciptakan. Teori evolusi merupakan contoh penting upaya mereka yang sia-sia sampai akhir ini.
Kesalahan dasar orang-orang yang menolak Allah terdapat pada banyak orang yang tidak sungguh-sungguh menolak adanya Allah tetapi memiliki persepsi yang salah tentang Allah. Mereka tidak menyangkal penciptaan tetapi dalam keyakinan takhayulnya tentang “di mana” Allah. Sebagian besar dari mereka mengira bahwa Allah ada di atas “langit”. Mereka diam-diam membayangkan bahwa Allah ada di belakang planet yang sangat jauh dan pernah mencampuri “urusan duniawi” sekali, atau mungkin tidak turut campur sama sekali. Mereka membayangkan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan kemudian meninggalkannya untuk berfungsi sendiri, meninggalkan manusia untuk menentukan nasib mereka sendiri.
Adapun sebagian lainnya telah mendengar, tertulis dalam Al-Qur’an bahwa Allah ada “di mana-mana”, tetapi mereka tidak dapat meyakini arti sebenarnya. Mereka mengira bahwa Allah mengitari segala hal seperti gelombang radio atau seperti gas yang tidak kelihatan dan tidak berwujud.
Akan tetapi, keyakinan ini dan keyakinan lain yang tidak dapat menjelaskan “di mana” Allah berada (dan mungkin karena menolak Allah) semuanya berdasarkan pada kesalahan lazim. Mereka berprasangka tanpa landasan apa pun dan kemudian beralih pada opini yang salah tentang Allah. Prasangka apa?
Prasangka ini mengenai hakikat dan sifat zat. Kita sedemikan terkondisi dalam pemikiran takhyul kita tentang keberadaan zat sehingga kita tidak pernah berpikir apakah materi itu ada ataukah tidak ada atau hanya bayang-bayang. Ilmu pengetahuan modern menghancurkan prasangka ini dan membuka dan menunjukkan kenyataan penting ini. Di halaman-halaman berikut, kami akan berupaya menjelaskan kenyataan besar ini yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an.
DUNIA SINYAL-SINYAL LISTRIK
Semua informasi yang telah kita miliki tentang dunia tempat kita hidup disampaikan kepada kita melalui pancaindera kita. Dunia yang kita ketahui ini terdiri dari hal-hal yang dilihat oleh mata kita, dirasakan oleh tangan kita, dibaui oleh hidung kita, dirasakan oleh lidah kita, dan didengarkan oleh telinga kita. Kita tidak pernah berpikir bahwa alam luar dapat berupa apa saja yang lain dari yang disajikan oleh pancaindera kita, karena kita hanya tergantung pada pancaindera itu sejak lahir.
Riset modern di berbagai bidang ilmu pengetahuan menunjukkan pemahaman yang sangat berbeda dan menimbulkan keraguan yang serius tentang pancaindera kita dan dunia yang kita alami dengan pancaindera itu.
Titik-awal pendekatan ini ialah bahwa pemikiran tentang “dunia luar” yang terbentuk dalam otak kita hanya merupakan respon yang diciptakan dalam otak kita dengan sinyal-sinyal kelistrikan. Apel yang berwarna merah, kayu yang keras dan, demikian juga, ibu, ayah, keluarga anda dan apa saja yang anda miliki, rumah, pekerjaan dan baris-baris buku ini, hanya terdiri dari sinyal-sinyal listrik.
Frederick Vester menjelaskan hal tersebut bahwa ilmu pengetahuan telah mencapai pokok bahasan ini:
Pernyataan sebagian ilmuwan yang bersikap bahwa “manusia ialah suatu kesan”, segala hal yang dialami bersifat sementara dan menipu, dan alam semesta ialah suatu bayang-bayang, tampaknya pasti terbukti oleh ilmu pengetahuan pada masa kita.25
Filsuf terkenal George Berkeley berkomentar tentang masalah tersebut sebagai berikut:
Kami mempercayai keberadaan obyek hanya karena kami melihat dan menyentuhnya, dan obyek-obyek tersebut terpantul pada kita melalui persepsi kita. Bagaimanapun, cerapan kita hanya merupakan gagasan-gagasan dalam benak kita. Jadi, obyek yang kita tangkap dengan persepsi hanyalah gagasan, dan gagasan ini pada dasarnya tidak ada kecuali dalam benak kita. … Karena semua obyek ini hanya ada dalam pikiran, ini berarti bahwa kita terperdaya oleh penipuan ketika kita membayangkan alam semesta dan benda-benda yang memiliki keberadaan di luar benak. Jadi, tidak ada benda sekitar kita yang mempunyai suatu keberadaan di luar benak kita.26
Untuk menjelaskan masalah tersebut, mari kita perhatikan indera penglihatan kita, yang menyediakan kita informasi yang paling luas tentang alam luar.
KETERANGAN HALAMAN 158
Rangsangan yang datang dari suatu obyek diubah menjadi sinyal-sinyal listrik dan menimbulkan efek-efek di otak kita. Tatkala kita “melihat”, kita sebenarnya memandang efek-efek dari sinyal-sinyal listrik di otak kita.
July 25th, 2009 at 3:36 am
KEKHAWATIRAN HEBAT PARA MATERIALIS
Untuk sementara, tidak ada tanggapan mendasar yang berasal dari kalangan materialis Turki tentang pokok bahasan yang dikemukakan dalam buku ini, yaitu fakta bahwa zat adalah persepsi belaka. Ini memberi kita kesan bahwa gagasan kita tidak begitu terang sehingga perlu dijelaskan lebih lanjut. Namun, lama sebelumnya, terungkap bahwa penganut materialisme merasa sangat tidak nyaman mengenai kepopuleran pokok bahasan ini, dan merasakan ketakutan yang besar tentang ini.
Beberapa kali, para penganut materialisme menyuarakan dengan keras ketakutan dan kepanikan mereka dalam penerbitan, konferensi, dan lokakarya mereka. Wacana mereka yang gelisah dan tiada berpengharapan mengisyaratkan bahwa mereka menderita krisis intelektual yang parah. Keruntuhan ilmiah teori evolusi, yang dianggap sebagai dasar filsafat mereka, telah sangat menggoncangkan mereka. Kini, mereka mulai menyadari bahwa mereka mulai kehilangan materi itu sendiri, yang merupakan arus utama yang lebih besar bagi mereka daripada Darwinisme, dan mereka sedang mengalami goncangan yang bahkan lebih besar. Mereka mengumumkan bahwa masalah ini merupakan “ancaman terbesar” bagi mereka dan secara total “mengoyak struktur kebudayaan mereka”.
Salah seorang yang paling keras mengungkapkan kecemasan dan kepanikan yang dirasakan oleh kalangan materialis ialah Rennan Pekunlu, seorang akademisi di samping penulis majalah Bilim ve Utopya (Sains dan Utopia) yang mengaku bertugas membela materialisme. Baik dalam artikelnya di Bilim ve Utopya maupun dalam lokakarya yang ia hadiri, Pekunlu memperlihatkan buku Evolution Deceit karya Harun Yahya sebagai ancaman nomor satu terhadap materialisme. Yang mengusik Pekunlu yang bahkan lebih mengancam daripada bab-bab yang membatilkan Darwinisme ialah bagian yang baru saja anda baca. Kepada pemirsa dan pembacanya, Pekunlu menyampaikan pesan, “jangan biarkan diri anda terhanyut oleh indoktrinasi idealisme dan tetap yakinlah anda terhadap materialisme”. Ia mengutip Vladimir I. Lenin, pemimpin revolusi komunis berdarah di Rusia, sebagai acuan. Dengan menyarankan agar setiap orang membaca buku klasik Lenin yang berjudul Materialism and Empirio-Criticism, Pekunlu mengulangi nasihat Lenin, “jangan berpikir tentang masalah ini, atau anda akan keluar dari jalur materialisme dan hanyut oleh agama”. Dalam sebuah artikel ia menulis di majalahnya yang tadi disebut, ia mengutip baris-baris berikut ini dari Lenin:
Sekali anda menolak kenyataan obyektif, yang sampai kepada kita secara inderawi, anda telah kehilangan semua senjata melawan fideisme, karena anda tergelincir ke dalam agnostisisme atau subyektivisme—dan itu sajalah yang dibutuhkan oleh fideisme. Sepasang cakar terjerat, dan si burung lenyap. Dan Jago-jago kita semuanya terjerat dalam idealisme, yaitu dalam fideisme yang licin; mereka terjerat sejak saat mereka menganggap “sensasi” bukan sebagai kesan dari alam luar melainkan sebagai “unsur” khusus. Ini bukan sensasi siapa pun, benak siapa pun, roh siapa pun, kehendak siapa pun.38
Kata-kata ini jelas menunjukkan bahwa fakta mengkhawatirkan ini, yang oleh Lenin disadari dan hendak dikeluarkan baik dari benaknya maupun benak “rekan-rekannya”, juga mengusik para materialis dengan cara sama. Meski begitu, Pekunlu dan para materialis lain menderita kesulitan yang lebih besar; karena mereka sadar bahwa fakta ini sekarang dikemukakan dengan cara yang lebih gamblang, lebih pasti dan lebih meyakinkan daripada 100 tahun silam. Untuk pertama kali dalam sejarah dunia, pokok bahasan ini dijelaskan dengan cara yang sedemikian menarik.
KETERANGAN HALAMAN 183
Rennan Pekunlu, penulis materialis Turki, mengatakan bahwa “teori evolusi tidak begitu penting, ancaman nyatanya adalah subyek ini”, karena ia sadar bahwa subyek ini menihilkan materi, satu-satunya konsep yang ia yakini.
Meskipun demikian, gambaran umumnya ialah bahwa sejumlah besar ilmuwan materialis masih mengambil sikap yang sangat dangkal terhadap fakta bahwa “zat itu tiada lain kecuali sebuah ilusi”. Pokok bahasan yang dijelaskan di bab ini ialah satu pokok bahasan terpenting dan paling menarik yang pernah mereka temui dalam kehidupan mereka. Mereka tidak berkesempatan menghadapi pokok bahasan yang sedemikian penting ini sebelumnya. Namun, reaksi para ilmuwan ini atau pun metode yang mereka terapkan dalam ceramah dan artikel mereka mengisyaratkan betapa dangkal dan semu pemahaman mereka.
Reaksi beberapa materialis terhadap subyek yang dibahas di sini menunjukkan bahwa kesetiaan mereka yang membabi buta kepada materialisme telah membahayakan logika mereka. Karena alasan ini, mereka jauh terlepas dari pemahaman pokok bahasan itu. Contohnya, Alaatin Senel, seorang akademisi dan penulis majalah Bilim ve Utopya, mengungkapkan sentimen yang serupa dengan kata-kata Rennan Pekunlu, “Lupakan runtuhnya Darwinisme, masalah yang sebenarnya mengancam adalah masalah ini”. Dengan merasa bahwa filsafatnya sendiri tidak berdasar, ia membuat tuntutan seperti “buktikan kata-kata anda!”. Yang lebih menarik, penulis ini menulis sendiri bahwa ia tidak bisa mengerti akan fakta ini, yang ia anggap sebagai ancaman.
Contohnya, dalam artikel yang membahas masalah ini secara eksklusif, Senel sependapat bahwa alam luar dicerap di otak sebagai kesan. Namun demikian, ia mengklaim bahwa kesan terbagi menjadi dua: yang mempunyai korelasi fisik dan yang tidak, dan bahwa kesan yang berhubungan dengan dunia luar mempunyai korelasi fisik. Untuk mendukung pernyataannya, ia memberi “contoh telepon”. Pendek kata, ia menulis: “saya tidak tahu apakah kesan-kesan di otak saya mempunyai korelasi dengan dunia luar ataukah tidak, tetapi hal tersebut berlaku pula ketika saya berbicara di telepon. Ketika berbicara di telepon, saya tidak bisa melihat lawan bicara tetapi saya dapat mengkonfirmasikan pembicaraan ini bila kemudian saya bertemu langsung dengannya.”39
Dengan mengatakan demikian, penulis ini sesungguhnya bermaksud: “Jika kita meragukan penginderaan kita, kita bisa melihat materi itu sendiri dan memeriksa realitasnya.” Meski demikian, hal ini merupakan kesalahpahaman bukti, karena kita tidak mungkin menjangkau materi itu sendiri. Kita tidak mungkin mengeluarkan benak kita dan mengetahui hal-hal yang ada “di luar”. Apakah suara di telepon berkorelasi ataukah tidak, dapat dikonfirmasikan oleh orang tersebut di ujung lainnya. Meski begitu, konfirmasi ini juga kesan, yang dialami di benak tersebut.
Orang-orang ini juga mengalami kejadian yang sama dalam mimpi-mimpi mereka. Contohnya, Senel juga bisa melihat dalam mimpinya bahwa ia berbicara di telepon dan kemudian mengadakan pembicaraan yang dikonfirmasikan oleh orang yang ia ajak bicara. Pekunlu bisa merasakan sendiri dalam mimpinya bahwa ia menghadapi “ancaman serius” dan menyarankan orang-orang agar membaca buku-buku klasik karya Lenin. Namun, tidak peduli apa yang mereka kerjakan, para materialis ini tidak bisa menyangkal bahwa kejadian yang mereka alami dan orang-orang yang mereka bicarakan dalam mimpi mereka tidak lain kecuali persepsi.
Lantas, siapa yang akan mengecek apakah kesan-kesan di otak memiliki korelasi ataukah tidak? Makhluk bayangan di otak? Sudah pasti, para materialis mustahil menemukan sumber informasi yang bisa memberi data mengenai luar otak dan mengkonfirmasikannya.
Dengan mengakui bahwa semua persepsi terbentuk di otak, tetapi menganggap bahwa orang bisa “keluar” dari ini dan mempunyai persepsi yang dikonfirmasi oleh dunia luar yang nyata, mengungkapkan bahwa kemampuan intelektual manusia terbatas dan bahwa penalarannya menyimpang.
Namun, siapa saja dengan tingkat pemahaman dan penalaran yang normal bisa dengan mudah memahami fakta-fakta ini. Setiap orang yang tidak menyimpang tahu, sehubungan dengan semua yang telah kita katakan, bahwa mustahil baginya menguji keberadaan dunia luar dengan inderanya. Akan tetapi, tampak bahwa kesetiaan yang membabi buta kepada materialisme menyimpangkan kemampuan penalaran manusia. Karena alasan ini, para materialis kontemporer menampilkan kelemahan logika yang fatal dalam penalaran mereka persis seperti para guru mereka yang berupaya “membuktikan” keberadaan zat dengan menendang batu atau memakan kue.
Juga dikatakan bahwa ini bukan situasi yang mengherankan, karena ketidakmampuan memahami merupakan sifat umum kaum kafir. Dalam Al-Qur’an, Allah pada khususnya menyatakan bahwa mereka “orang yang tidak berakal” (Surat al-Maai’dah, 58).
MATERIALISME TERJERUMUS KE DALAM PERANGKAP TERBESAR SEJARAH
Suasana kepanikan yang melanda kalangan materialis di Turki, yang beberapa contohnya telah kami sebut, menunjukkan bahwa para penganut materialisme menghadapi kerusakan parah, yang tidak pernah mereka temui sebelumnya dalam sejarah. Bahwa zat hanya suatu persepsi telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern dan dikemukakan dengan cara yang sangat jelas, lurus, dan kuat. Para penganut materialisme hanya bisa melihat dan mengakui jatuhnya seluruh dunia material yang secara membabi buta mereka percayai dan andalkan.
Pemikiran materialis selalu ada sepanjang sejarah manusia. Dengan penuh percaya diri dan dengan filsafat yang mereka yakini, mereka menentang Allah yang menciptakan mereka. Skenario yang mereka rumuskan bersikeras bahwa zat tidak mempunyai awal atau pun akhir, dan bahwa semua ini tidak mungkin mempunyai Pencipta. Karena kesombongan mereka, mereka menolak Allah dan melindungi materi, yang mereka anggap mempunyai keberadaan nyata. Mereka begitu percaya dengan filosofi ini. Mereka kira mustahil dikemukakan suatu penjelasan yang membuktikan kebalikannya.
Karena itulah fakta-fakta yang dibicarakan dalam buku ini yang berkenaan dengan hakikat zat yang sebenarnya itu amat mengejutkan orang-orang ini. Hal yang telah dibicarakan di sini menghancurkan dasar filosofi mereka dan tidak memungkinkan pembahasan lebih lanjut. Zat, yang menjadi dasar semua pemikiran, kehidupan, kesombongan dan penolakan mereka, semuanya sirna seketika. Bagaimana bisa ada materialisme jika tidak ada materi?
Salah satu sifat Allah ialah perencanaan-Nya terhadap kaum kafir. Hal ini dinyatakan di ayat “Mereka menyusun rencana, dan Allah juga membuat rencana, namun Allah perencana terbaik.” (Surat al-Anfaal, 30)
Allah menjebak para materialis dengan membuat mereka beranggapan bahwa ada zat dan merendahkan mereka dengan cara yang tidak terlihat. Para materialis menganggap bahwa barang mereka, status, kedudukan, masyarakat yang mereka miliki, seluruh dunia dan segala hal lain benar-benar ada dan semakin sombong kepada Allah dengan mengandalkan hal-hal ini. Mereka menentang Allah dengan sombong dan semakin tidak beriman. Ketika melakukan demikian, mereka sepenuhnya mengandalkan materi. Akan tetapi, mereka begitu kurang memahami sehingga mereka gagal berpikir bahwa Allah meliputi mereka. Allah mengumumkan keadaan yang akan menimpa orang-orang kafir sebagai akibat dari keras-kepala mereka:
Ataukah mereka bermaksud menipu? Tetapi mereka yang tak beriman itulah yang tertipu! (Surat ath-Thuur, 42)
Hal ini mungkin merupakan kerusakan mereka yang terbesar dalam sejarah. Ketika semakin sombong, para materialis itu terjebak dan menderita kerusakan serius dalam perang yang mereka biayai melawan Allah dengan mengemukakan sesuatu yang amat bertentangan dengan Allah. Ayat “Begitulah Kami tempatkan dalam setiap kota pemuka-pemuka orang yang jahat supaya mengadakan tipu muslihat di situ, tetapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadari” mengungkap betapa tak sadar orang-orang yang menentang Pencipta mereka ini, dan mengungkap bagaimana ujung-ujungnya (Surat al-An’aam, 123). Dalam ayat lain, fakta serupa dikaitkan sebagai:
Mereka hendak menipu Allah dan orang beriman, tetapi mereka hanya menipu diri sendiri, dan tidak mereka sadari! (Surat al-Baqarah, 9)
Ketika orang kafir mencoba merencanakan, mereka tidak menyadari suatu fakta yang sangat penting yang ditekankan dengan kata-kata “mereka hanya menipu diri sendiri, dan tidak mereka sadari!” dalam ayat itu. Inilah yang nyata bahwa segala yang mereka alami adalah suatu imajinasi yang dirancang untuk dicerap oleh mereka, dan semua rencana yang mereka kemukakan hanya kesan-kesan yang terbentuk di otak mereka persis seperti setiap adegan lain yang mereka perankan. Kebodohan mereka membuat mereka lupa bahwa mereka semua sendirian dengan Allah dan, karena itu, mereka terperangkap dalam rencana mereka sendiri yang berliku-liku.
Tidak berbeda dari orang kafir yang hidup di masa silam, orang kafir yang hidup di zaman sekarang menghadapi suatu kenyataan yang akan menyebarkan rencana berlika-liku mereka dengan landasan mereka. Dengan ayat “… diperdayakan oleh setan-setan” (Surat al-An’aam, 71), Allah berfirman bahwa rencana ini berakhir dengan kegagalan pada hari perencanaannya. Allah menyampaikan berita baik kepada orang beriman dengan ayat “… Tipu muslihat mereka sama sekali tidak merugikan kamu.” (Surat Aali ‘Imraan, 120)
Dalam ayat lain, Allah berfirman: “Tetapi mereka yang kafir, amal mereka sepreti bayangan di padang pasir, yang oleh orang yang sedang kehausan dikira air, sehingga bila ia sampai ke tempatnya, tak ada apa-apa, tetapi yang ditemuinya Allah bersama dia, dan Allah membuat perhitungan.” (Surat an-Nuur, 39). Materialisme juga menjadi suatu “bayangan” bagi yang memberontak seperti yang dinyatakan dalam ayat ini; bila mereka menemukan jalan lain, mereka tidak mendapati apa-apa selain ilusi. Allah menipu mereka dengan bayangan sedemikian, dan memperdaya mereka sehingga mereka mencerap seluruh kumpulan kesan ini sebagai sesuatu yang nyata. Semua orang yang “terkemuka”, profesor, astronom, biolog, fisikawan, dan lain-lain, apa pun kedudukan dan status mereka, terperdaya begitu saja seperti anak-anak, dan terhina karena mereka mengambil materi sebagai tuhan mereka. Dengan menganggap sekumpulan kesan itu mutlak, mereka mendasarkan filosofi dan ideologi mereka pada sekumpulan kesan itu, menjadi terlibat dalam diskusi serius, dan menggunakan wacana yang disebut “intelektual”. Mereka menganggap mereka cukup bijaksana menawarkan suatu argumen tentang kebenaran alam semesta dan, yang lebih penting, menentang Allah dengan intelegensi mereka yang terbatas. Allah menerangkan situasi mereka dalam ayat berikut ini:
Mereka menyusun rencana, dan Allah juga membuat rencana, namun Allah perencana terbaik. (Surat Aali ‘Imraan, 54)
Lari dari beberapa rencana mungkin bisa; namun, rencana Allah terhadap orang kafir ini sangat mantap sehingga tiada jalan untuk keluar dari rencana itu. Tidak peduli apa yang mereka lakukan atau siapa yang mereka pikat, mereka tidak pernah menemukan penolong selain Allah. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an, “Mereka takkan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.”(Surat an-Nisaa’, 173)
Para materialis tiada pernah menduga terjerumus dalam perangkap sedemikian itu. Dengan memiliki semua sarana penyelesaian abad ke-20, mereka mengira bisa memperkokoh kekafiran mereka dan mempengaruhi orang-orang agar tidak beriman. Allah menggambarkan mentalitas abadi orang kafir dan akhir riwayat mereka dalam al-Qur’an sebagai berikut:
Mereka menyusun rencana, dan kami pun membuat rencana, sementara mereka tidak menyadari. Maka lihatlah, bagaimana akibat rencana mereka; Kami binasakan mereka dan golongan mereka semua. (Surat an-Naml, 50-51)
Di tingkat lain, inilah maksud ayat-ayat itu: pengikut materialisme dibuat menyadari bahwa segala yang mereka miliki adalah ilusi, dan karena itu segala yang mereka miliki binasa. Saat mereka menyaksikan harta, pabrik, emas, uang, anak, pasangan hidup, teman, kedudukan dan status, dan bahkan tubuh mereka sendiri, semua yang mereka anggap ada itu terlepas jauh dari tangan mereka, semuanya “binasa” seperti yang difirmankan di ayat 51 Surat an-Naml. Dalam hal ini, semua itu bukan lagi kesatuan materi, melainkan jiwa.
Tentu saja, menyadari kebenaran ini merupakan situasi yang mungkin terburuk bagi para materialis. Begitu juga fakta bahwa segala yang mereka miliki hanya ilusi atau, dengan kata lain, “mati sebelum meninggal” di dunia ini.
Kenyataan ini membiarkan mereka sendirian dengan Allah. Dengan ayat, “Biarlah Aku (berhadapan) dengan makhluk yang Aku ciptakan (telanjang dan) seorang diri!” (Surat al-Muddatstsir, 11), Allah menyeru kita untuk mengikuti fakta bahwa sebenarnya manusia seorang diri saja dalam kehadiran-Nya. Kenyataan yang luar biasa ini diulangi di ayat-ayat lain:
Dan sungguh-sungguh kamu mendatangi Kami seorang diri seperti ketika pertama kali Kami menciptakan kamu; dan segala yang Kami karuniakan kepadamu kamu tinggalkan di belakangmu … (Surat al-An’aam, 94)
Dan setiap orang datang kepada-Nya pada hari kiamat seorang diri. (Surat Maryam, 95)
Di tingkat lain, ayat-ayat itu menunjukkan: mereka yang menganggap materi sebagai tuhan mereka berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya. Mereka telah menyerahkan kehendak mereka kepada Allah, entah mereka inginkan entah tidak. Kini mereka menunggu Hari Perhitungan kala setiap orang dari mereka akan dipangil untuk bertanggung jawab, kendatipun mereka mungkin tidak ingin memahaminya.
July 25th, 2009 at 5:50 am
PERTANYAAN (4) TENTANG TERJADINYA ALAM SEMESTA
(UNIVERSAL CREATION) (1/3)
WILSON:
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, timbul banyak
pertanyaan mengenai terjadinya alam semesta. Nampaknya,
pertanyaan ini mendapatkan jawaban di dalam Injil (Bible),
dan kadang-kadang kita mendapatkan beberapa pernyataan dari
Injil yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang ada
sekarang.
Saya ragu, apakah kita dapat menemukan jawaban-jawaban dari
beberapa pertanyaan itu di dalam buku-buku Islam.
Telah dibuktikan, bahwa alam semesta telah sangat tua.
Diperkirakan umurnya telah berbilliun-billiun tahun.
Tampaknya kitab Injil Kristen mengecilkan (mengurangi) umur
alam semesta beberapa ribu tahun. Apakah Kitab Suci
Al-Qur’an memiliki definisi tentang umur alam semesta
(universe)?
CHIRRI:
Kitab Suci Al-Qur’an tidak menyatakan umur alam semesta.
Ilmu pengetahuan sejauh ini tidak dapat dengan tepat
mengetahui bila alam semesta mulai ada. Kitab Suci Al-Qur’an
telah diperkenalkan di masa tidak adanya ilmu pengetahuan
(in a non scientific age), di saat manusia, saya kira, tidak
dapat membayangkan lamanya: berapa bilion atau million tahun
itu. Jika Al-Qur’an menerangkan bahwa bintang-bintang
terjelma berbillion-billion tahun yang lalu, manusia mungkin
telah menolak seluruh konsep Islam. Karena itu Al-Qur’an
berdiam diri dalam masalah ini. Anda tidak perlu mengatakan
seluruh kebenaran yang anda ketahui, karena anda perlukan
hanya menahan diri dari penerangan yang salah. Jadi, pintu
telah terbuka untuk setiap teori ilmu pengetahuan, dan
penerangan Agama tidak ada bentrok dengan setiap ilmu
pengetahuan.
WILSON:
Benda-benda langit, bintang-bintang, dan planit-planit,
sekarang diperkirakan berjumlah berbillion-billion dan
beratus-ratus bilion. Berukuran sangat besar, kadang-kadang
di luar dugaan kita.
Untuk membentuk benda-benda yang tak terhitung itu,
memerlukan bahan di luar kemampuan perhitungan kita. Apakah
ada keterangan di dalam Al-Qur’an mengenai jenis bahan yang
membentuk benda-benda ini.
CHIRRI:
Kitab Suci Al-Qur’an menerangkan bahwa bahan yang membentuk
benda-benda ini sejenis gas. Ini sesuai dengan teori modern
yang mengatakan bahwa benda-benda langit dibentuk dari gas
Hidrogen.
Kitab Suci Al-Qur’an berkata:
“Kemudian Dia menuju langit, ketika itu berupa asap. Tuhan
berfirman kepadanya dan kepada bumi datanglah engkau
keduanya dengan sukarela atau terpaksa. Keduanya menjawab:
kami datang dengan sukarela.” 41:11.
WILSON:
Apakah Kitab Suci Al-Qur’an menerangkan tentang bahan
pertama yang membentuk bintang-bintang dan planit?
CHIRRI:
Baris pertama dari ayat di atas menunjukkan bahwa gas atau
susunan gas adalah molekul-molekul dan atom-atom yang
merupakan bahan pertama.
WILSON:
Dari bahan apa yang Maha Kuasa menciptakan kehidupan?
CHIRRI:
Kitab Suci Al-Qur’an menyatakan bahwa Tuhan telah
menciptakan seluruh kehidupan dari air:
“Apakah orang-orang yang tidak beriman itu tiada mengetahui,
bahwa langit dan bumi itu dahulunya satu potong, lalu kami
ceraikan antara keduanya, dan Kami jadikan dari air segala
benda hidup. Tidakkah mereka percaya?” 21:30.
“Dan Tuhan telah menciptakan setiap binatang dari air. Dan
di antaranya berjalan di atas perutnya (melata), di
antaranya berjalan dengan dua kaki, dan di antaranya
berjalan dengan empat kaki. Tuhan menciptakan apa yang
dikehendakiNya, sesungguhnya Tuhan itu Kuasa atas segala
sesuatu.” 24:25.
July 25th, 2009 at 5:52 am
===================================================================
1. Ketika Tuhan anda membuat langit dan bumi, apakah dia merasa lelah?
===================================================================
Jawaban Al-Qur’an:
—————–
Surah Al Baqarah [2.255] Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya);tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. DAN ALLAH TIDAK MERASA BERAT MEMELIHARA KEDUANYA, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Jawaban Alkitab:
—————-
Keluaran 31:17 Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh IA BERHENTI BEKERJA UNTUK BERISTIRAHAT.”
July 25th, 2009 at 5:55 am
Jawaban Alkitab:
—————-
[Yosua 10:12] Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!” [10:13] Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh.
Kaisar Napoleon Bonaparte setelah membaca Yosua diatas berkata :
The science which proves to us that the earth is not the centre of the celestial movement has struct a great blow at religion.
Ilmu pengetahuan telah membuktikan kepada kita bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, merupakan pukulan telak bagi agama kristen.
July 25th, 2009 at 5:56 am
2. Apakah Matahari dan bulan itu bergerak sesuai dengan orbitnya?
================================================================
Jawaban Al-Qur’an:
——————
[21.33] Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.
Disebutkan juga pada ayat yang lain, bahwa matahari tidak statis tapi bergerak dalam orbit tertentu:
[36.38] dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al-Qur’an ini telah ditemukan pada pengamatan astronomi di zaman kita. Menurut perhitungan para astronom, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa 7200 km/jam ke arah bintang Vega pada orbit tertentu yang disebut dengan Solar Apex. Ini berarti bahwa matahari bergerak kira-kira 17.280.000 km/hari. Bersama dengan matahari, semua planet-planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga menempuh jarak yang sama. Di samping itu, semua bintang di alam jagad raya mempunyai gerak yang sama yang terencana.
July 25th, 2009 at 5:58 am
4. Apakah jagad raya itu terus mengembang?
==========================================
Jawaban Al-Qur’an:
—————–
[51.47] Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya KAMI BENAR-BENAR MELUASKANNYA.
Kata “langit” sebagai mana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di berbagai tempat dalam Al-Qur’an dengan arti ruang dan jagad raya. Sekali lagi disini, kata tersebut digunakan dalam arti ini. Dengan kata lain, didalam Al-Qur’an diwahyukan bahwa jagad raya ini “berkembang”. Dan ini merupakan kesimpulan sebenarnya yang telah dicapai oleh ilmu pengetahuan sekarang.
Sampai awal abad 20, satu-satunya pandangan yang berlaku di dunia Ilmu Pengetahuan adalah bahwa “jagad raya mempunyai sifat yang konstan dan telah ada sejak waktu yang tidak terbatas”. Tetapi riset, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan tekhnologi modern, telah mengungkapkan bahwa jagad raya sebenarnya telah dimulai diciptakan, dan terus “berkembang”.
Pada awal abad ke-20, ahli fisika Rusia yang bernama Alexander Friedman dan ahli kosmologi Belgia yang bernama Georges Lemaitre secara teoritis menghitung bahwa jagad raya ini selalu dalam keadaan bergerak dan berkembang.
Fakta ini dibuktikan juga oleh data observasi pada tahun 1929. ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, ahli astronomi Amerika,
menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus menerus bergerak menjauh
satu sama lain. Sebuah jagad raya dimana ia bergerak menjauh dari yang
lainnya menunjukkan suatu jagad raya yang terus menerus berkembang. Fakta
ini dijelaskan dalam Al-Qur’an ketika masih belum ada orang yang
mengetahuinya. Ini karena Al-Qur’an merupakan firman Allah, Pencipta, dan
Penguasa seluruh alam.
Jawaban Alkitab:…………………………………
—————-
July 25th, 2009 at 5:59 am
6. Apakah langit itu terdiri dari 7 lapisan?
============================================
Jawaban Al-Qur’an:
——————
[2.29] Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya TUJUH LANGIT. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
[41.12] Maka Dia MENJADIKANNYA TUJUH LANGIT dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Atmosfer bumi terdiri dari berbagai lapisan yang terletak diatas satu sama lain. Disamping itu, atmosfer ini sama seperti yang digambarkan Al-Qur’an, persis tujuh lapisan. Didalam sumber-sumber yang ilmiah, subyek ini diuraikan sebagai berikut:
—————————————————————
Para ilmuwan telah menemukan bahwa atmosfer terdiri dari tujuh lapisan. Lapisan ini berbeda dalam sifat-sifat fisik seperti tekanan dan jenis-jenis gas. Lapisan atmosfer yang paling dekat dengan bumi disebut TROPOSFER (1). Troposfer ini mengandung sekitar 90% dari total massa atmosfer. Lapisan diatas Troposfer disebut STRATOSFIR (2). LAPISAN OZON (3) merupakan bagian dari Stratosfir dimana penyerapan berkas ultra violet terjadi. Lapisan diatas Stratosfir disebut MESOSFIR (4). TERMOSFIR (5) terletak diatas Mesosfer. Gas-gas yang mengalami ionisasi membentuk suatu lapisan didalam Termosfer yang disebut IONOSFIR (6). Bagian terluar dari Atmosfer bumi membentang sekitar 480-960 Km. Bagian ini disebut dengan EKSOSFIR (7).
—————————————————————
Maka jika kita menghitung jumlah lapisan yang dikutip pada sumber diatas kita melihat bahwa atmosfer terdiri dari persis tujuh lapisan sebagaimana dijelaskan dalam ayat tsb:
1. Troposfir
2. Stratosfir
3. Ozonosfir
4. Mesosfir
5. Ionosfir
6. Termosfir
7. Eksosfir
Jawaban Alkitab:………………………………..
—————
July 25th, 2009 at 6:01 am
8. Apakah relativitas waktu telah disebutkan dalam kitab suci anda?
===================================================================
Jawaban Al-Qur’an:
—————–
[22.47] Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.
[32.5] Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.
[70.4] Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
Didalam beberapa ayat ditunjukkan bahwa orang mempersepsikan waktu secara berbeda dan kadang-kadang orang mempersepsikan waktu yang sangat pendek sebagai sangat panjang. Percakapan yang berikut ini dari orang-orang yang terjadi ketika hari pengadilan dia akhirat merupakan contoh yang baik:
[23.112] Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” [23.113] Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” [23.114] Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.”
Fakta bahwa relativitas waktu disebutkan begitu jelas dalam Al-Qur’an, yang mulai diwahyukan pada tahun 610, merupakan bukti lain bahwa ini merupakan kitab suci.
Jawaban Alkitab:………………………………….