Archive for September, 2009


Beda Pemerintah Indonesia dan Russia

Beda Pemerintah Indonesia dan Russia

Pernahkah pemerintah kita mengumumkan kepada rakyatnya bahkan meminta maaf bahwa kami sebagai pemerintah telah melakukan kesalah a,b,c,d,e sehingga kedepan kami akan memperbaikinya?

Saya belum pernah mendengar pemerintahan Presiden SBY yang mengakui beberapa kelemahannya, tapi justru pemerintahan SBY ini selalu membentuk citra-citra semu yang menipu rakyatnya, seperti angka kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, rasio utang, dan lain sebagainya. Perspektive angka-angka tersebut dipelintir sesuai kemauan pemerintah agar terlihat kinerja pemerintahan sudah excellent.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan pemerintahan Russia dibawah Presiden Dmitry Medvedev dan Perdana Menteri Vladimir Putin saat ini. Russia yang hampir bangkrut di tahun 1992-2000, dalam 8 tahun bisa bangkit menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa dan merupakan negara yang mempunyai ekonomi fundamental diantara negara BRIC yang diperkirakan akan menjadi negara terkaya di 2050. Untuk mencari kelemahan struktur ekonomi Russia, kita tidak perlu repot-repot membaca jurnalis barat, pemerintah Russia saat ini tidak segan membeberkan kelemahan struktur ekonominya sehingga dengan tahu struktur kelemahan ekonominya tersebut mereka mampu mengupayakan perbaikan struktur ekonomi. Perdana Menteri Vladimir Putin, salah satu tokoh sentral stabilitas ekonomi Russia sadar benar bahwa ekonomi Russia hampir dikuasai oleh oligarki konglomerasi beberapa klan Yahudi, sehingga Vladimir Putin semasa menjadi Presiden Russia di era 2000-2008 menjinakan oligarki penguasaan minyak, beberapa oligarki dipenjarakan dan beberapa melarikan diri dari Russia. Vladimir Putin dianggap sebagai oligarki killer di Russia, dan baru-baru ini menyatakan bahwa PDB Russia yang menempati ranking 8 terbesar di dunia, sekitar 25% masih dikuasai oleh oligarki konglomerasi klan Yahudi Russia. Dengan tegas Putin akan mengendalikan ini semua dan menekan oligarki konglomerasi menguasai ekonomi Russia sekecil mungkin. Saat ini Presiden Dmitry Medvedev sedang berkunjung ke Swiss, salah satu agenda utamanya adalah meminta bank-bank di Swiss untuk membuka rekening konglomerat-konglomerat Russia agar mereka tidak membawa capital outflow ke luar Russia dan juga melarikan pajak kekakayaan dari pemerintah Russia.

Mari kita tengok Indonesia, dengan percaya diri pemerintah memberikan forecast ekonomi yang optimis, tapi apakah kita semua sadar bahwa laju ekonomi Indonesia saat ini lebih banyak ditopang oleh kalangan atas seperti era Soeharto? Angka-angka fantastis yang disodorkan oleh pemerintah Indonesia itu jelasnya tidak akan dirasakan oleh kelas menengah dan kebawah, karena angka-angka itu semua semu dan struktur ekonomi Indonesia masih dikuasai oleh beberapa pengusaha konglomerasi kleptokrasi. Di Indonesia sebenarnya juga belum tercipta kelas menengah yang kuat, saat ini struktur ekonomi Indonesia hampir mirip dengan struktur ekonomi Russia, hanya saja Russia telah menyadari perlunya menciptakan kelas menengah dan perlunya mengendalikan oligarki, namun Indonesia justru malah berbalik mengandalkan oligarki ekonomi untuk membuat laju pertumbuhan ekonomi dan membuat angka-angka ekonomi yang fantastis namun semu.

Russia sebagai salah satu komponen BRIC yang saat ini merupakan supplier energi besar bagi China dan Uni Eropa (25% energi Eropa dipasok dari Russia), dengan gamblang dan tidak malu menyadari bahwa struktur ekonomi mereka saat ini belum ditopang dengan tumbuhnya kelas menengah, atau dalam artian di Russia terjadi kesenjangan ekonomi luar biasa, banyak orang-orang Russia yang masuk ke 100 orang terkaya versi forbes, di sisi lain salary rata-rata penduduknya masih di kisaran usd 600. Namun pemerintah Russia menyadari kesenjangan ini, sehingga mereka berusaha menciptakan kelas menengah. Hal ini disampaikan sendiri oleh Perdana Menteri Vladimir Putin, bahwasanya kami (pemerintah Russia) akan tegas menindak oligarki ekonomi yang melanggar hukum, dan kami akan mendukung pengusaha yang berorientasi sosialis.

Struktur ekonomi Russia memang belum menumbuhkan kelas menengah, karena dulu Russia sebagai penerus Soviet mengembangkan industry berat dan semua dibawah perusahaan negara, sehingga yang ada hanyalah negara yang menjadi pihak kapital, dan warganegara sebagai buruh negara. Dengan berubahnya sistem ekonomi Russia, maka pelan-pelan mereka membentuk kelas menengah untuk menopang kestabilan struktur sistem ekonomi mereka.

Dalam komitmennya untuk memperkuat basis ekonomi Russia yang tidak hanya dikuasai oleh oligarki ekonomi, Perdana Menteri Putin pernah dengan tegas mengancam akan menutup suatu perusahaan yang dimiliki orang terkaya di Russia yang bernama Oleg Deripaska karena pada waktu krisis global menunda pembayaran gaji pegawainya. Di sisi lain mari kita lihat Bakrie group dimana di tahun 1998 pernah mengalami kegagalan pembayaran obligasi, kemudian kasus Lapindo, dan kini asuransi dibawah Bakrie grup juga mengalami gagal bayar obligasi, dan tidak ada tindakan apapun dari pemerintah bahkan Abu Rizal diperkirakan akan mulus akan menguasai Golkar demi menyokong pemerintahan Presiden SBY.

Melihat kelemahan pemerintahan Russia saat ini tidak sulit, surat kabar Russia telah kritis, demokratis, dan pemerintahan Russia sendiri tidak ragu untuk menunjukan kelemahan kinerjanya dan dengan gamblang menjelaskan bagaimana rencana perbaikan kinerja mereka kedepan, namun melihat pemerintahan Indonesia rasanya kita akan selalu berada di permainan tebak-tebak buah manggis, salah melulu dan akibatnya meringis.

Materialisme Dialektik sebagai basis pemikiran yang Rasional

Materialisme Dialektik sebagai suatu pemikiran rasional

Filsafat materialisme bukan hanya suatu pola pikir baru yang rasional, tapi filsafat ini merupakan suatu alat yang sangat tepat sebagai solusi tantangan kemajuan jaman jika  diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari atau dalam segala hal, misalkan digunakan sebagai strategi bisnis. Filsafat ini tidak hanya membuat seseorang berpikir secara rasional, namun juga membentuk seseorang untuk terus berpikir dan membuat pemahaman-pemahaman baru atas dirinya terhadap alam dan kehidupan. Filsafat materialisme mengandalkan logika, indera dan hal-hal alam yang nyata, filsafat ini memandang alam bekerja secara alamiah atau dialektik. Filsafat ini tidak pelak merupakan anti thesis dari filsafat agama dan ketuhanan atau kreasionis idealis. Karl Marx dengan telak membalik cara berpikir idealis di jamannya. Filsafat idealis menyandarkan pemahaman bahwa segala sesuatunya berasal dari suatu kekuatan besar seperti Tuhan, atau hal-hal yang mistis dan tak terjamah oleh pikiran atau logika, sehingga membuat banyak fenomena tidak dipikirkan lebih lanjut karena dianggap sebagai domain kekuasaan Tuhan, sedangkan filsafat materialisme menganggap segala sesuatunya bergerak secara alamiah secara sebab akibat sehingga bagi penganut filsafat ini akan mencari sebab sampai ke pangkal masalah/pangkal penyebab..

Agama…
Dalam tinjauan psikologi modern, agama dianggap sebagai bagian dari belief system, agama tidak lebih dari suatu keyakinan-keyakinan yang ditanamkan sejak kecil yang pada akhirnya mengendap dalam suatu alam bawah sadar kita dan membentuk suatu perilaku kita.

Agama sendiri dalam kacamata saya sebenarnya juga merupakan suatu filsafat dan juga menciptakan cara pandang terhadap kehidupan dan logika berpikir terhadap alam dan kehidupan , namun agama membuat logika berpikir sering buntu karena sudah dilogikakan bahwa penyebab atas segala kejadian alam dan diri kita berasal dari kekuatan besar Tuhan.

Agama menganggap semuanya berasal dari Tuhan atau entitas ghaib semacam dewa yang mistis terhadap akal, kejadian, dan fenomena alam. Agama yang sesungguhnya merupakan suatu alat manusia untuk hidup didunia mempunyai filsafat yang mistis. Logika-logika yang dibangun oleh agama bersifat mistis, sehingga segala fenomena dianggap sebagai suatu gejala keTuhanan dan tidak diketahui sebab akibatnya.

Kelemahan filsafat agama lainnya adalah menganggap bahwa agama merupakan suatu filsafat atau logika kebenaran yang absolut, sehingga tidak boleh dikritik. Agama seringkali tabu untuk dikritisi. Hal ini menyebabkan agama sebagai suatu filsafat tidak berkembang, karena perkembangan atau kemajuan merupakan suatu sintesis dari thesis dan antithesisnya. Thesis dan kritiknyalah yang menjadikan suatu pemikiran itu bisa berkembang secara dinamis.  Agama juga mengharamkan suatu revisi  atas filsafat atau cara pandangnya. Hal ini tentu akan mengakibatkan agama menjadi suatu pola pikir yang statis dan dogmatis.

Agama Kristen, pada awalnya juga merupakan suatu agama yang dogmatis, yang tabu untuk dikritisi, namun beberapa filsuf seperti Hegel, Spinoza, Descartes dlsb berusaha untuk menafsirkan esensi hakekat keagamaan terhadap suatu nilai-nilai yang berkembang di eranya. Dalam prinsip dasar materialisme adalah segala sesuatunya berubah (Heraclitus), sehingga dalam kacamata materialis maka peradaban, nilai-nilai, pengetahuan, cara pandang, akan selalu mengalami perubahan dari era ke era. Dalam pandangan saya, kaum kristian agak mampu mengadaptasi perubahan nilai-nilai jaman. Hal ini bertolak belakang dengan agama Islam, Islam masih sangat tabu untuk dikritisi dan di anti-thesis. Beberapa kritikus Islam masih mengalami ancaman kematian karena kritiknya terhadap Islam. Dengan kata lain filsafat atau cara pandang Islam masih sangat statis, karena tidak menganggap kritik sebagai anti-thesis yang mendorong suatu sintesa kemajuan pola pikir yang adaptive dengan nilai-nilai peradaban jaman (saat ini nilai-nilai Universal dituangkan dalam HAM)

Hal yang sangat bertolak belakang dalam filsafat agama dan materialisme adalah bagi filsafat materialisme tidak dikenal istilah ghaib, tidak dikenal bahwa segala sesuatunya disebabkan oleh sesuatu yang ghaib. Dalam contoh nyata kehidupan sehari-hari bisa kita lihat bagaimana seorang yang menggunakan logika idealis/keTuhanan memecahkan masalahnya, mereka mengira masalah berasal dari Tuhan, ketika hidupnya menderita dianggap cobaan Tuhan sehingga hanya doa yang bisa dipanjatkan namun kurang berpikir untuk mencari jalan keluarnya. Bagi kaum materialistis segala musibah merupakan akibat dari pola pikir dan tindakan sendiri, tidak ada kejadian yang disebabkan oleh Tuhan dan setan, sehingga ketika kita menerima musibah maka kita selayaknya berpikir bahwa ada sesuatu yang salah dengan pola pikir kita yang menyebabkan hidup kita tertimpa musibah, dan tentu karena tidak mempercayai adanya entitas Tuhan,jin,setan sebagai penyebab maka berpikirlah seorang materialis untuk mencari jalan keluarnya sendiri. Segala sesuatu yang menimpa kita merupakan sebab akibat dari tindakan dan pola pikir kita sendiri. Segala sesuatu yang salah dalam diri kita akan terefleksi dalam response masyarakat terhadap kita, dan kalaupun kita menganggap ada yang kurang benar maka kita sudah seharusnya mengkoreksi diri kita.

Pola pikir seperti halnya suatu operating system bagi hardware komputer, operating system inilah yang menopang kecepatan akses, kestabilan, dan output-output, sehinga kalau diri kita mengeluarkan output yang salah, bisa dikarenakan input yang salah atau pemrosesan operating system kita yang salah. Operating system kita juga selayaknya untuk diupgrade terus menerus sesuai perkembangan

Pikiran
Descartes seorang filsuf mengkonsepkan bahwa ada dualisme antara pikiran dan tubuh yang saling bersinergi. Descartes menganggap adanya suatu kekuatan ghaib seperti hantu yang berada di tubuh kita yang mengendalikan diri kita. Hantu tersebut bisa dianggap sebagai ruh, hasil produksi Tuhan yang ghaib dan mistis. Hantu atau ruh tersebut tidak bisa disentuh, tapi dianggap keberadaanya telah mengendalikan seluruh hidup kita.

Namun hal ini diruntuhkan oleh filsafat materialisme, pikiran merupakan produk dari suatu materi otak. Tidaklah mungkin ada pikiran tanpa otak. Otaklah yang mengatur pikiran. Mari kita buktikan dari kenyataan obyektive dunia psikiatri, didalam dunia psikiatri, obat penenang bisa menenangkan pikiran dan ini berlaku secara obyektive dan akurat. Disini nampak jelas zat atau materi yang mengendalikan pikiran.

Namun ada kalanya pikiran bisa tenang sendiri, bisa menciptakan emosi sendiri. Dalam kajian neuroscience masih diperdebatkan bahwasanya perubahan pikiran juga mengakibatkan perubahan materi zat otak, demikian juga materi zat otak bisa mengakibatkan perubahan pikiran.
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana pikiran bekerja dan mampu memproduksi zat-zat otak seperti dopamine, serotonin, perasaan senang atau cinta? Bagaimana pikiran mampu mengendalikan tubuh kita?

Apakah benar ada hantu roh mistis yang masuk dalam tubuh kita dan mengendalikan kita sehingga  kita bisa  merasa senang sedih dan perasaan emosi?

Dalam filsafat materialisme, pada dasarnya pikiran adalah refleksi kebendaan dari luar, yang di luar disebut matter dan yang didalam disebut idea, pikiran atau idea itu tidaklah mungkin jatuh dari langit secara mistis, tapi merupakan refleksi dari materi-materi yang sudah ada di memory kita yang telah kita susun sejak kecil. Seorang bayi, akan merefleksikan semua kejadian yang dilihat dan yang bisa diinderanya dan disimpannya ke dalam memory otak. Setelah data-data ini begitu banyak maka pikiran akan bisa bekerja secara dialektik atau otomatis. Pemahaman sintesis bisa didapatkan dari suatu thesis dan antithesisnya.
Hal ini sebenarnya bukanlah hal yang aneh, ghaib dan mistis.
Di dalam teknologi accelerator internet server, server internet dengan basis data yang telah didapatkannya mampu menebak apa yang akan diakses oleh penggunanya dan saat ini mampu mencapai rasio kebenaran menebak hingga 30% hingga 50%. Bagaimana sebuah mesin server Internet mampu menebak atau berpikir tentang apa yang akan diakses oleh penggunanya?

Hal ini tentunya didahului dengan pengumpulan data terlebih dahulu, data-data yang pernah diakses oleh pengguna dianalisis dan internet accelerator server mampu membuat kesimpulan sehingga internet accelerator server berbasis data-data yang telah dipelajarinya pada akhirnya mampu berpikir dan menebak apa yang akan diakses oleh pengguna. Semakin banyak data yang diperolehnya maka ketepatan menebak/berpikirnya juga akan semakin tinggi.

Hal ini tidaklah beda dengan cara berpikir manusia. Manusia dari kecil mengamati kejadian-kejadian, membaca pengetahuan, belajar merasakan senang,sedih, cinta, direkam didalam otaknya lalu mensinkronkan kejadian dan pengetahuan dan terciptalah pemahaman. Kejadian-kejadian yang membuat kita senang, sedih, cinta itu bermula dari refleksi kejadian di luar diri kita terlebih dahulu.

Semakin banyak pengetahuan dan kejadian yang dialaminya tentunya membuat cara berpikirnya juga semakin akurat. Namun hal itu tergantung juga data-data pengetahuan yang dibacanya. Pengetahuan atau kejadian-kejadian yang kita alami dalam filsafat materialisme boleh kita katakan sebagai materi, karena kejadian dan pengetahuan merupakan refleksi kebendaan/materi.

Jadi pikiran tidaklah secara mistis muncul begitu saja atau jatuh dari langit, pikiran bukanlah suatu ilham yang berasal dari entitas ghaib, tapi pikiran merupakan refleksi-refleksi materi yang berubah dari kuantitatif menjadi kualitatif dan mampu bergerak secara dialektik (hukum perubahan kuantitas menjadi kualitas).

Urutannya kurang lebih adalah
- seorang anak kecil mempelajari kejadian misalkan senang, sedih  dan semua yang diterimanya dari panca indera dan direkamnya menjadi suatu database memory.
- semua kejadian tersebut merupakan refleksi dunia luar yang merupakan materi, dan refleksi tersebut disimpan/ditimbun didalam otak kita disebut idea
- setelah terkumpul banyak data-data dan pemahaman-pemahaman dari refleksi kejadian, maka akan tumbuh suatu logika atau methoda berpikir. Mulailah timbunan-timbunan data itu bekerja secara dialektik untuk bisa berpikir. Semakin sedikit datanya maka semakin simpel juga pikirannya, semakin banyak data yang diserapnya maka akan semakin komplek juga logika berpikir dan mengaitkan antar data yang disimpannya di memory otaknya.

Disini/dalam pandangan materialisme jelas bahwa pikiran, akal bukanlah datang dari langit, pikiran bukanlah suatu hantu roh yang diciptakan oleh Tuhan untuk mengendalikan tubuh kita, tapi pikiran merupakan hasil refleksi pemahaman kebendaan dan emosi yang ada di luar otak kita, sehingga semakin banyak kita memasukan informasi/materi atau pembelajaran, maka terciptalah pula banyak logika berpikir. Semakin banyak kita memasukan data kedalam sistem berpikir kita maka akan banyak pemahaman-pemahaman yang kita peroleh, dan pemahaman ini bukanlah suatu pencerahan spiritual ghaib, tapi suatu proses yang rasional.

Perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran kita tak pelak sebenarnya merupakan refleksi materi yang mampu menstimulasi sistem kerja otak kita.
Descartes yang menganggap ada hantu dalam tubuh kita dan pikiran terlepas dari materi, boleh saya anggap benar pendapatnya jika ada anak di Russia tanpa pernah diajari bahasa Indonesia namun mampu berbahasa Indonesia secara tiba-tiba. Kalau ini benar terjadi, maka mukjizat itu benar-benar ada dan ruh itu memang benar-benar ada, tapi kalau pemikiran dibentuk oleh lingkungan itu justru menguatkan filsafat materialisme, bahwasanya pikiran dibentuk dari lingkungan atau refleksi materi yang pernah kita indera.

Kritik utama terhadap materialisme
Filsafat materialisme rata-rata dikritik sebagai filsafat yang tidak bermoral, atau membuat kehidupan manusia menjadi tidak manusiawi dan dianggap berpandangan materi ansich. Secara sejarah, memang implementasi filsafat materialisme sebagai ideologi negara di Soviet dan China dengan cara revolusi memakan banyak korban. Filsafat ini yang juga meniadakan mistisisme dan hukum Tuhan atas pahala dan dosa bisa mengakibatkan orang tidak lagi takut berbuat dosa. Inilah rata-rata argumen yang diajukan bagi pengkritik filsafat materialisme, para kritikus kaum materialisme mengajukan argumen kelemahan filsafat materialisme bukan masalah menggugurkan logika kebenarannya, tapi masalah etika dan moralnya. Sesungguhnya tidak ada kaitan antara filsafat materialisme dan etika moral. Lenin telah menjelaskannya dalam Socialism and Religion, dan Rosa Luxemburgo telah menjelaskannya dalam Socialisme and the Churches. Etika dan moral bisa dibangun tanpa adanya suatu pemikiran logika pahala dosa surga neraka. Di sisi lain agama juga tidak bisa menjamin terhadap nilai-nilai moral, etika dan HAM.

Dalam perspektive psikologis sebenarnya etika dan moral bisa dibangun melalui kesadaran diri dan juga atas kesadaran kolektife manusia yang muncul.
Dalam perkembangannya saat ini, banyak manusia modern juga sudah mulai tidak mempercayai logika agama, dan juga tidak terlalu takut terhadap mitos surga neraka dosa pahala. Hal ini juga searah dengan perkembangan filsafat materialisme yang telah mampu mendorong dunia ilmu pengetahuan maju pesat, membuat manusia menjadi semakin rasional sehingga mampu menggerus logika agama dan mistisisme agama. Atheisme berkembang pesat di abad 21 saat ini dan tentunya atheisme ini merupakan tanaman yang tumbuh subur yang  bermula dari suatu bijih filsafat materialisme dialektik yang mulai ditanam bijinya pada abad 19.

Spiritualisme Materialisme
Spiritual tidaklah hanya berasal dari agama, sebelum adanya agama, manusia telah mempunyai spirit untuk hidup, manusia purba sudah mempunyai semangat untuk tetap survive. Spiritual materialisme merupakan spirit untuk menjalani kehidupan secara rasional dan logis. Spirit yang tetap berpegangan teguh pada sosialisme, etika, moral dan HAM yang berlaku di peradabannya namun tidak meninggalkan suatu cara berpikir yang solutif logis. Spiritual materialisme tidak menyandarkan suatu spirit untuk mengejar suatu janji atau trade off dari entitas mistis seperti pahala surga yang diciptakan oleh Tuhan. Spiritual materialisme berpandangan etika, moral, dan budi pekerti dijalankan di alam nyata, di kehidupan nyata, menciptakan surga dan perdamaian di bumi tempat dimana kehidupan real diinjakkan. Spiritual materialisme tidak menyandarkan atau mengejar kepada suatu kenikmatan ghaib yang seorangpun tidak pernah mengetahuinya. Tidak ada yang perlu dikejar didalam dunia ghaib, yang perlu diraih adalah kehidupan bumi seperti kehidupan surgawi. Hal ini bukan berarti kita akan hedonis karena tidak mengenal rambu dosa dan pahala yang berasal dari agama, tapi kita berusaha menciptakan suatu masyarakat yang sosialis yang berada di bumi. Inilah cita-cita Karl Marx, Lenin, dan juga Trotsky, menginginkan bahwa dunia dibawah suatu kesetaraaan global, dimana kaum buruh yang merupakan mayoritas penduduk di bumi berkuasa, bukan untuk diexploitasi oleh kaum pemilik modal.  Hakekat spiritual materialisme komunisme adalah sosialisme, seperti kodratnya manusia, hidup yang bersosial.

Materialisme dialektik dalam implementasi ilmu sosial (materialisme dialektika history) berusaha mewujudkan tatanan sosialisme global di bumi, dan merupakan anti-thesis dari kapitalisme. Dalam kacamatan dialektika history, peradaban dunia ini sebenarnya yang terjadi hanya dipenuhi oleh pertentangan kaum penguasa yang semula menggunakan mitos Tuhan untuk kekuasaannya, lalu menggunakan kekuasaan secara turun temurun (kebangsawanan), dimana kaum tersebut selalu mengeksploitasi kehidupan masyarakat miskin tertindas. Di Soviet gereja pernah berada di balik kekuasaan Tsar Nicholaas 2, di Tibet kekuasaan keagamaan juga pernah menindas rakyatnya dan kita tahu di Indonesia raja-raja juga menindas rakyatnya dan membebani rakyat dengan pajak yang tinggi. Kekuasaan ini selalu diwariskan sehingga tidak ada keadilan bagi rakyat kecil. Hal inilah yang ingin dilawan oleh Karl Marx dan Lenin, mereka ingin menumbangkan kekuasaan warisan, mereka ingin menumbangkan kekuasaan berdasarkan keturunan kebangsawanan ataupun kekuasaan yang merupakan warisan dari mitologi agama, bagi Karl Marx dan Lenin, manusia adalah egaliter, mempunyai hak yang sederajad dan sama. Meski cita-cita ini belum berhasil namun hal ini adalah suatu cita-cita dan ideologi yang sebenarnya dilandasi dari filosofi keagamaan, dimana keberpihakan kepada kaum tertindas adalah tujuan utamanya.  Komunisme yang merupakan penjabaran teknik filsafat materialisme dalam hal ekonomi, secara filosofis membela kaum lemah tertindas. Saat ini modal atau kapital masih menjadi alat kekuasaan dan bisa menjadi kekuasaan yang diturunkan. Artinya cita-cita dan idea Karl Marx dan Lenin belumlah berhasil dan masih panjang, namun kita realistis saja, bahwa ketika kaum buruh telah berkuasa dan negara berfungsi menjadi pelindung bagi warga negaranya dari ancaman exploitasi kapital, buruh mempunyai kemampuan berinvestasi didalam suatu entitas korporasi, maka sebenarnya secara filosofis, idea moral Karl Marx dan Lenin telah terealisasi. Spirit membela kaum tertindas inilah filsafat dasar dari materialisme dan komunisme, dan tidak bisa dipungkiri juga filsafat Lenin diantaranya memang berasal dari falsafah kristen Orthodox. Secara filsafat spiritual, sebenarnya materialisme komunisme tidaklah bertentangan dengan filsafat agama karena sama-sama bertujuan membela kaum tertindas. Namun filsafat materialisme komunisme ingin menciptakan keadilan dan keberpihakan kepada kelas miskin di alam kehidupan bumi, tidak seperti filsafat agama yang memberikan imbalan kenikmatan di alam kematian yang mistis yang tidak bisa dibuktikan keberadaannya. Hal ini seperti janji kosong mitologi agama.

Pandangan kaum marxis-leninis, sebenarnya yang terjadi selama peradaban adalah kaum miskin tak berdaya selalu diexploitasi oleh kelas penguasa dan sebagai obat penenangnya adalah janji surgawi, dengan obat penenang janji surgawi, agama dan mitos kekuasaan kaum kapital yang harus tetap berkuasa secara terus menerus inilah kaum kelas miskin punya spirit untuk ditindas dan meneruskan kehidupannya tanpa daya dan akan terus menerus akan diexploitasi seperti mesin produksi. Hal inilah yang ditentang secara keras oleh filsafat materialisme komunisme. Singkatnya, agama hanyalah obat penenang bagi kelas miskin tertindas yang tidak solutif atau tidak pernah menyelesaikan pokok persoalan kemiskinannya, agama tidak pernah memberikan solusi kehidupan yang lebih baik di kehidupan bumi alam raya, namun malah hanya akan melanggengkan ketertindasannya, dan bagi kaum materialis komunis hal ini harus disolusikan, kaum kelas tertindas harus disadarkan agar segera bergerak untuk merubah nasibnya. Didalam agama juga dikenal istilah takdir, dan kemiskinan bisa dianggap sebagai takdir, hidup sebagai kelas miskin tertindas bagi mitologi agama bisa dianggap sebagai takdirnya . Mitos inilah yang akan diruntuhkan oleh kaum materialis komunis. Tidak ada kamus takdir bagi kaum materialis komunis, yang ada hanyalah perjuangan proletariat, perjuangan mensejahterakan kaum miskin tertindas. Singkatnya agama adalah mitologi yang melanggengkan kelas penguasa dan kelas tertindas, sedangkan dialektika materialis merupakan suatu filsafat yang memberi jalan dan cara bahwa kelas tertindas bisa berubah menjadi berkuasa. Dialektika materialis adalah filsafat yang revolusioner.

Komunisme telah berakhir???
Pusat negara komunis adalah Uni Soviet, Soviet adalah negara hasil revolusi ideologi materialisme dialektik dan komunisme pertama di dunia. Namun negara ini telah bubar dan saat ini Russia menjadi pewarisnya, China sebagai negara komunis terbesar kedua secara ekonomi tidak bisa disebut komunis dogmatis lagi. Dalam beberapa tinjauan, ambruknya komunisme Soviet menurut kajian kalangan kaum marxis karena sistem ekonomi komunisme yang diterapkan secara dogmatis sejak era Stalin, sedangkan Leon Trotsky berpendapat komunis harus bisa beradaptasi terhadap sistem jaman dan tidak dogmatis. Leon Trotsky berargumen bahwa perubahan adalah hal yang pasti terjadi dan koreksi-koreksi revisionis atas suatu ideologi harus dilakukan secara terus menerus. Setelah ambruk, Soviet menganut sistem ekonomi kapitalis di era Boris Yeltsin, namun di era Vladimir Putin dan Medvedev ini Russia mampu beradaptasi dengan baik dengan sistem ekonomi dunia dan tidak dogmatis lagi. Vladimir Putin dan Medvedev kreative dalam menerapkan sistem ekonomi Russia saat ini. Russia saat ini menganut sistem ekonomi dimana peran negara mengambil kontrol penuh terhadap aset-aset vital. Kepemilikan individu yang di era komunisme tidak diperbolehkan telah diganti. Russia berubah ke sistem ekonomi liberal, namun liberalisasi ekonomi Russia masih dikontrol ketat oleh negara. Inilah sebenarnya suatu sistem ekonomi komunisme yang tidak dogmatis, pada hakekat dari komunisme adalah prinsip sosialisme dan keberpihakan terhadap buruh atau kelas proletariat, penguasaan aset vital oleh negara bagi kemakmuran rakyat, sedangkan tekniknya bisa berubah-ubah, namun tujuan utamanya tetap harus dipegang teguh sebagai tujuan utama. Russia mulai tahun 2000 telah melakukan revolusi ekonomi dari liberal menjadi terkontrol penuh oleh negara. Putin yang semula dianggap sebagai pelindung dan penerus kekuasaan Boris Yeltsin yang Liberalis ternyata membalikan persepsi tersebut, dibawah Putin konglomerasi minyak oleh oligarki seperti Boris Berezovsky, Khodorkovsky, dan Roman Abramovich telah diambil alih oleh pemerintah (Nasionalisasi). Hutang IMF secepat mungkin dilunasi karena IMF membawa syarat ekonomi liberal, namun Russia meski harus membayar penalty hutang memilih membebaskan diri dari intervensi asing dan secara percaya diri mulai membangun sistem ekonominya sendiri. Pihak barat saat ini tidak terlalu bisa mendikte Russia, pihak barat juga mempunyai ketergantungan energi terhadap Russia. Saat ini Russia bersama China, India dan Brazil (BRIC) merupakan negara yang perekonomiannya tumbuh paling pesat. Forecast ekonomi mendatang ekonomi Russia akan cukup dominan. Semua ini tentunya tidak jatuh dari langit, tapi perjalanan ekonomi Russia yang panjang dan berliku. Industry-industry berat militer, luar angkasa, dan baja dicanangkan oleh Stalin. Stalin sebagai diktaktur Soviet yang menggantikan Lenin mementingkan prinsip keamanan dan kedaulatan negara diatas segalanya. Prinsip ini masih dipegang teguh oleh Vladimir Putin, Russia tetap akan mengandalkan ekonominya berbasis expor energy yang melimpah, ditopang oleh expor industry berat militer dan baja, dan saat ini lagi berusaha mengembangkan kelas menengahnya untuk berwirausaha. Prinsip dasar ekonomi berbasis teknologi tinggi juga dipegang oleh Russia, sampai saat ini industry ruang angkasa mereka ikut menyumbangkan hasil yang signifikan bagi ekonomi Russia. Disini bisa disimpulkan saat ini Russia telah fleksibel mengembangkan ekonominya,tidak dogmatis komunis lagi. Perbedaan yang juga menjadi ciri khas Russia dan China dimana negara ini pernah menerapkan sistem ekonomi komunisme dibanding negara barat lainnya yang tidak pernah menerapkan sistem ekonomi komunisme adalah besarnya peran pemerintah dalam menggerakan roda ekonomi dan melakukan proteksi ekonomi. Negara barat sebelum terjadi krisis global rata-rata beraliran ekonomi liberalis dimana negara hanya memungut pajak yang digunakan untuk kemakmuran warga negara. Negara barat yang liberalis mengharamkan negara mempunyai unit usaha. Namun setelah krisis global 2008, banyak negara barat yang berubah haluan, beberapa perusahaan swasta yang bangkrut diambil alih oleh negara untuk disehatkan dan akan diswastanisasi lagi. Liberalisme ekonomi sepertinya masih menjadi agenda utama negara Barat.

Russia dan China sepertinya tidak akan mengambil strategi yang sama, bagi Russia dan China yang pernah menganut falsafah ekonomi komunis, peran negara dalam menguasai aset vital tetap akan diteruskan. Peran negara dalam mengontrol gerak laju ekonomi dan sentralisasi ekonomi akan terus dilanjutkan. Besarnya peran negara terhadap gerak ekonomi telah dipertunjukan oleh Russia dan berakibat positive.

Russia merupakan negara pertama yang menutup bursa sahamnya pada oktober 2008 dimana terjadi crash ekonomi di Amerika, dan langkah pemerintah Russia yang tak ragu mengintervensi alur ekonominya ini kemudian diikuti oleh beberapa negara diantaranya Indonesia. Peran negara yang menutup bursa ini demi melindungi kepentingan warga negaranya dan ternyata strategi tersebut berhasil menyelamatkan bursa Russia yang waktu itu sempat turun sampai 30%. Gerak ekonomi yang dikendalikan oleh tangan-tangan setan yang tidak kelihatan dan dianggap bisa saling menstabilkan secara otomatis merupakan hal yang haram bagi Russia dan China.

Dalam krisis global kali ini nampak bahwa China dan Russia, dua negara besar yang pernah menganut komunisme mampu tampil menjadi kekuatan ekonomi baru dunia. Tentu saja hal ini bukan merupakan suatu keajaiban dari langit, namun dibangun diatas suatu ideologi sebagai pola pikir, dan ideologi tersebut bersama jaman telah mengalami anti thesis dan sinthesis terus menerus hingga mampu berubah dan beradaptasi dan menjadi ideologi yang selalu relevan dan kreative dan tidak dogmatis. Inilah sebenarnya hakekat dari falsafah dialektika materialis, yaitu  perubahan, tidak menolak antithesis/kritik, dan tidak dogmatis. Ekonomi komunisme secara dogmatis memang telah ambruk, tapi secara falsafah/hakekat kini justru dipuncak kemenangan ketika digunakan oleh Russia dan China untuk menjadi negara yang ekonominya paling tumbuh dan berkembang.

Filsafat materialisme merupakan cara berpikir yang revolusioner, hal ini bisa dibuktikan dari dua negara besar penganut komunisme materialisme, yaitu Russia dan China, kita melihat bahwa China dan Russia telah melakukan revolusi, ideologi materialis diimplementasikan dalam revolusi, hasil yang mereka capai juga sungguh mengagumkan, mereka mampu cepat berubah, beradaptasi, dan mampu mengejar ketertinggalan. Russia dalam kurun 8 tahun pada periode tahun 2000-2008 dari negara hampir bangkrut bisa menjadi negara adidaya lagi, China dari negara yang pernah terjajah saat ini menjadi negara yang sangat kuat dan ditakuti, tentunya hal ini tidaklah suatu keajaiban dari langit, tapi semuanya tentu diperoleh dari suatu proses panjang revolusi dan kemampuan berpikir rakyatnya yang telah lama berideologi materialis rasional.

Indonesia
Indonesia sebenarnya telah mengenal filsafat dialektika materialis sejak revolusi perjuangan. Para founding father seperri bung Karno, bung Hatta, Syahrir telah membaca filsafat ini, bahkan Tan Malaka telah menulis filsafat materialisme dialektika logika (Madilog) yang disesuaikan dengan konteks kultur Indonesia. Sosialisme yang merupakan ruh undang-undang dasar negara merupakan suatu sintesis atau jalan tengah komunisme ala Indonesia yang religius. Pasal 33 terbukti merupakan suatu idea peran negara yang mengendalikan aset vital negara seperti konsep komunisme. Komunisme dan Materialisme telah mempengaruhi pemikiran para pendiri negara, namun mereka melakukan modifikasi agar filsafat tersebut sesuai kultur Indonesia. Dalam perkembangannya jiwa sosialisme Indonesia telah berubah 180 derajad sejak PKI dibubarkan dan Presiden Soekarno diganti. Soeharto sebagai presiden pengganti memberikan akses liberal kepada investasi asing, dan Indonesia mulai disetir oleh kepentingan swasta asing luar negeri dan konglomerasi lokal.

Tahun 1998 terjadi reformasi dan pergantian kekuasaan, namun liberalisme ekonomi Indonesia belumlah berubah.
Saat ini Indonesia meski mempunyai prospek dan forecast ekonomi yang bagus namun sebenarnya ekonomi Indonesia masih rentan. Di era Soeharto Indonesia disebut sebagai macan asia, namun begitu mudah rontok di tahun 1998 karena pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cepat berasal dari konglomerasi kelas atas.
Saat ini infrastruktur jalan dan distribusi ekonomi di Indonesia baru dibangun, namun parameter kemajuan ekonomi masih sering diukur dari masuknya investasi di pasar saham yang tidak fundament. Pemerintah masih suka memainkan persepsi ekonomi rakyat yang seolah tumbuh dan membaik, namun sebenarnya semu bagi kalangan menengah dan bawah.
Ekonomi Indonesia saat ini juga  bukanlah suatu ekonomi fundament dan berbasis kerakyatan. Pemain pasar modal masih dikuasai oleh kelas tertentu saja, jumlah wirausahawan di Indonesia juga masih sedikit, dan peran pemerintah belum aktive dan tegas dalam melakukan intervensi dan menggerakan roda ekonomi Indonesia. Di Indonesia banyak BUMN masih merugi, hal ini sangat kontras dengan Russia yang mengandalkan pendapatan BUMN-nya untuk sosialisme warganegara. Perlindungan hak ekonomi di Indonesia juga masih terbatas terhadap kelas atas saja, hal ini bisa dilihat  dari langkah pemerintah menyelamatkan Bank Century atau membiarkan konglomerasi seperti Abu Rizal Bakrie gagal menunaikan kewajibannya atas obligasi dan kasus kasus lainnya. Hal ini kontras dengan Russia yang berani memenjarakan baron minyak Khodorkovsky dan strategi melemahkan kekuatan oligarki yang ingin menguasai negara. Ekonomi Indonesia saat ini masih dalam sistem ekonomi oligarki atau penguasaan ekonomi di kalangan terbatas, pertumbuhan ekonomi yang cukup mencengangkan ditopang oleh kekuatan ekonomi kelas atas, bukan kelas menengah. Hal ini seperti era Soeharto yang juga mengalami pertumbuhan ekonomi cepat namun rapuh. Sejak era Soeharto ekonomi Indonesia meski tumbuh cepat, namun tidak fundamental, tidak berbasis kerakyatan, dan tidak menciptakan kekuatan kelas menengah. Hal ini sangat bertolak belakang dengan semangat sosialisme yang sebenarnya tertuang dalam UUD negara Indonesia. Falsafah sosialisme, komunisme dan materialis yang pernah tumbuh di Indonesia sepertinya memang hilang tak berbekas sejak perubahan kekuasaan di tahun 1965. Indonesia seperti telah meninggalkan jiwanya yang sosialis.

Melihat fakta ekonomi Indonesia yang saat ini liberal, sebenarnya filsafat materialisme sosialisme  masih sangat relevan menjadi solusi Indonesia masa kini dan kedepan. Cara berpikir yang rasional dari filsafat materialisme sebenarnya bagi Indonesia bisa digunakan sebagai welthanschauung rakyatnya dan  sebagai platform dasar kekuatan rakyat dalam aktivitas ekonomi Industry yang tidak melupakan semangat sosialisme.

Bukti kekuatan cara berpikir rasional yang mampu membangkitkan suatu negara ini bisa dilihat terhadap negara China yang menjadi pemenang krisis global dan punya etos kerja keras. China melakukan revolusi budaya di masa Mao dan merasionalkan masyarakatnya terlebih dahulu dan didorong untuk bekerja keras untuk menopang ekonomi negara. Falsafah sosialisme juga sebenarnya masih sangat relevan untuk diaplikasikan di Indonesia. Indonesia dalam konteks membangun ekonomi yang fundament dibutuhkan membangun kelas menengah yang kuat, etos kerja yang keras, mental birokrat yang bersih dari korupsi,nasionalisasi aset-aset vital dan dioperasikan oleh orang-orang yang bersih, penegakan hukum, dan memberikan fasilitas infrastruktur investasi untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Namun hal yang terpenting adalah kebijakan ekonominya tidak terlalu disetir oleh asing dan mampu menjalankan kebijakan ekonomis sosialis secara mandiri seperti Russia dan China.

Peran Filsafat Materialisme terhadap ilmu pengetahuan modern

Sebelum Feuerbach, Karl Marx, Lenin, Trotsky memperkenalkan filsafat materialisme modern yang dialektik, segala kejadian dianggap sebagai bentuk mistisisme. Dengan munculnya filsafat inilah maka segala fenomena mulai dicari dengan fokus materinya terlebih dahulu. Bentuk-bentuk yang dianggap “tidak nyata” disimpulkan sebagai akibat materi.Pencarian sebab akibat fenomena tidak lagi dilakukan dengan cara mistis. Segala fenomena alam dianggap sebagai gejala alam yang alamiah dan dipelajari, diteliti, dan disimpulkan. Dengan cara berpikir seperti inilah dunia ilmu pengetahuan berkembang pesat. Ilmu tentang manusia tidak hanya diteliti secara spiritual saja, namun diteliti juga bagaimana tubuh manusia hidup, mempunyai emosi, cinta, berpikir dan lain sebagainya dan sisi tinjauannya berdasarkan materi biologisnya. Kemajuan ilmu psikiatri,neuroscience,fisika,kimia dan biologi tak pelak merupakan hasil cara berpikir yang materialis.

Di abad 21 ini dengan perkembangan teknologi dan informasi yang cepat menyebabkan orang semakin realistis. Informasi mudah didapatkan, baik informasi sebagai thesis dan anti thesanya. Sementara itu bangsa Indonesia masih mengideologikan suatu falsafah mistis Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah falsafah yang mistis, dan juga tidak memberikan ruang lingkup bagi seorang yang politheis ataupun atheis agnostik. Dengan cara berpikir yang mistis demikian sulit bagi bangsa Indonesia mengejar ketertinggalannya dari bangsa barat. Negara Barat secara pelan tapi pasti, meski tidak memformalkan ideologi materialisme tapi rata-rata kebanyakan masyarakatnya banyak berubah berpikiran secara materialisme realistis. Mereka tidak lagi menganggap ada kekuatan yang Maha Esa sebagai penggerak alam raya dan kehidupannya. Mereka secara filosofis telah mengaplikasikan filsafat materialisme dialektik. Di sisi lain Indonesia masih dilanda sistem berpikir yang mistis dan kultus, ideologi dan beberapa undang-undang dasar negara seperti dikultuskan dan tidak boleh dirubah, politik aliran masih sangat disukai di Indonesia, hal ini bertolak belakang dengan filsafat materialisme dialektik, filsafat ini tidak memperkenankan kultus, dan perubahan atau revisi terhadap filsafat atau cara pandang justru harus dilakukan secara terus menerus secara dinamis.

Pertentangan antara kaum materialis dan kreasionis sampai sekarang belumlah berakhir dan masih menarik untuk dikaji. Meski teori evolusi Darwin telah berserakan bukti, tidak kalahnya para ilmuwan kreasionis berusaha mementahkannya meski dengan cara yang tidak rasional. Bagi pandangan kaum ilmuwan, evolusi telah terbuktikan terjadi, ini sebenarnya merupakan kemenangan telak filsafat materialisme.
Kontroversi lain antara kaum kreasionis dan materialis saat ini juga mengenai teori penciptaan alam semesta, teori penciptaan alam raya masih menjadi perdebatan panjang, namun kaum materialis menganggap bahwa semesta raya tetap berasal dari materi yang selalu bergerak dinamis dan tidak ada penciptaan dari yang tidak ada menjadi ada. Kaum materialis menganggap alam semesta tak berawal dan tak berakhir. .

Dari semua itu, kita tidak perlu bersusah payah untuk ikut berpolemik berkepanjangan terhadap kebenaran materialisme atau kreasionisme, namun akan lebih realistis jika kita bisa mengimplementasikan salah satu filsafat itu untuk kehidupan sehari-hari kita dan membuat hidup kita lebih baik. Filsafat materialisme menawarkan cara berpikir yang realistis,nyata, sebab akibat yang alamiah,  tidak ada keajaiban dan mistisisme, menganggap kritik/antithesis adalah sesuatu yang mendorong kemajuan, kemampuan pemahaman yang adaptive karena segala sesuatunya yang pasti dilandaskan oleh perubahan dan pemahaman yang tidak dogmatis. Filsafat ini memerlukan kecerdasan membaca perubahan dan dibutuhkan banyak data/membaca/berpengetahuan luas dari berbagai disiplin ilmu untuk bisa mengimplementasikannya secara cerdas dan tepat.